Imam Meninggal Dunia Dalam Sujud Selepas Membaca Surah Ini..Maksud Ayat Tu Buat Jemaah Terkejut !!!

Imam Meninggal Dunia Dalam Sujud Selepas Membaca Surah Ini..Maksud Ayat Tu Buat Jemaah Terkejut !!! |Jamhuri, Imam Masjid Baitut Tharah menghembus nafas ketika mengimamkan solat jumaat kelmarin di Samarinda,kaltim.




Meninggalnya imam yang sangat di hormati dan juga di segani ini turut menjadi perhatian media indonesia,karena jasadnya menebarkan haruman semerbak wangi yang tidak pernah tercium sebelumnya.

Arwah meninggal dalam sujud rakaat pertama,setelah beberapa lama tidak bangun,akhirnya beliau digantikan dengan imam kedua

Menurut saksi Arwah Jamhuri membacakan Ayat dari suroh Al’Ala yang bermaksut :

“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.Yang menciptakan dan menyempurnakan. Dan yang menentukan dan menunjukkan. Dan kami mudahkan bagimu jalan yang mudah.

Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri. Dan ia ingat nama Tuhannya lalu bersembahyang. Namun, kamu mengutamakan dunia. Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal”
Pardiansyah yang saat itu sedang berada tepat di belakang Jamhuri maju menggantikan sebagai imam. Salat dilanjutkan. Jamhuri tak jua kunjung bangun dari sujudnya hingga salam.

Setelah solat selesai jemaah lain cuba membangunkan imam Jamhuri namun beliau sudah pun meninggal dunia.

Seketika itu juga Jenzah di angkat ke rumah beliau yang tidak jauh dari masjid,di akui Arwah tidak terlihat sakit.

Bahkan sebelum solat jumat salah seorang jemaah zaini masih sempat berbual dengan arwah yang merupakan orang pertama datang kemasjid itu.

Jam 11 dia sudah datang,lama kami berborak,arwah khusuk berborak tentang anak anak dia,tidak seperti nampak sakit,tapi saat sujud pertama lirih pelan suara takbir “ALLAHUAKBAR” jelas terdengar di pembesar suara.katanya
Menurut warga setempat arwah yang memiliki enam cucu itu dikenali sebagai seorang yang sangat baik,beliau adalah tertua di kampung itu dan akan hadir di setiap waktu solat di masjid itu.

Sementara Mahmudah, anak bungsu yang menjaga Jamhuri. berkata, abahnya yang lahir pada 17 Agustus 1946 itu dikenal keluarga sebagai orang yang taat dan boleh dikatakan tidak pernah ponteng solat berjamaah.

Meskipun kadang kesihatannya kurang baik,abah akan tetap beribadah kemasjid,katanya.

Mahmudah Juga berkata bahwa abah mereka tidak pernah menuntut sembarang pelajaran baik buruk waktu mereka sekolah, kecuali solat lima waktu.

Menjadikan anak sebagai kawan, pendapat anak didengar, bila tidak sesuai dengan ajaran islam kami ditegur dengan tegas namun tidak kasar.

“Selalu memanjakan kami. Meskipun kami sudah berkeluarga, apapun yang kami inginkan selalu dipenuhi,” ujar Mahmudah.
Kerapatan berkeluarga tersebut tidak membuat anaknya melihat tanda tanda bahwa ajal abahnya itu sudah dekat.

Namun pada dua hari sebelum arwah meninggal,anaknya itu mecium bau yang wangi diketahui arwah tidak pernah memakai minyak wangi.sampai saya tegur,namun abah hanya senyum,sambungnya.

Sementara Rukiyah isteri arwah terlihat tampak tegar. Hanya dia satu-satunya yang tidak meneteskan air mata melihat suaminya meninggalkan dirinya lebih dulu.

Hanya sesekali matanya menatap jenazah yang tertutup kain terbaring di depannya.

“Ya, karena sudah waktunya. Dia juga sudah kembali kepada Allah, jadi kita ikhlaskan saja. Saya hanya bisa mendoakan semoga amal ibadahnya diterima. Dan kami yang ditinggalkan mendapat ketabahan,” Katanya

Sejak tahun 1984, mereka sudah menetap di Loa Janan. Suaminya selama tinggal sudah dikenal sebagai tokoh agama di daerah tersebut.

Jamhuri merupakan anak tunggal perantau asal Martapura, Banjarmasin. Sebelum menetap bersama istri di Loa Janan, arwah belajar di Pesantren Darussalam, Martapura.

Kisah Nyata Azab Kubur Yang Sangat Menyeramkan Dari Jordan, Kamu Pasti Gak Berani Baca!

Berikut adalah kisah nyata Azab

Kubur yang Menyeramkan Kisah Nyata dari Jordan. Selamat membaca:
Sepasang wanita muda sedang duduk duduk pada sebuah bar di hotel berbintang lima, dengan pemandangan “Laut Mati” (Dead Sea), sekitar 40 km dari kota Amman Ibu kota Jordan, hotel itu terletak sangat dekat dengan perbatasan Israel, 

mereka sedang menikmati “Tequilla”, itulah salah satu jenis minuman keras yang paling umum disana.Ketika dalam perjalanan pulang, keduanya menyaksikan seorang wanita yang tergeletak di tengah jalan, keadaannya sangat mengerikan, wanita itu sangat dikenal oleh keduanya, seorang PSK yang selalu mabuk dari hasil kerjaannya, wanita itu tergeletak di tengah jalan dalam keadaan tak bernyawa, perutnya yang buncit dan menonjol menunjukkan bahwa ia sedang hamil tua telah pecah, sedangkan dilehernya masih tergantung termos besi yang berisi arak.

Wanita itu tewas disebabkan menyeberang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya yang kurus dengan perut yang buncit itu dihantam sebuah truk peti kemas hingga terlempar. Belum cukup hantaman truk besar itu melandanya, tubuh wanita itu bagaikan panah lepas dari busurnya menghantam tebing karang disamping jalan. Lalu tubuh penuh dosa itu terhempas di kerikil tajam di teras jalan.

Tulang kepalanya remuk, sebagian kulit kepala dan rambutnya masih menempel di tebing karang. Paha kanannya sudah terpisah dari tubuhnya. Perutnya robek serta kepala bayi kecil tersembul dari perut ibunya yang bermandikan darah dan arak yang berasal dari termos yang penyok sekaligus meremukkan tulang rusuknya, bayi itu masih tampak bergerak-gerak, terkejang- kejang, lalu diam untuk selamanya. Pemandangan menyeramkan itu membuat kedua wanita itu pucat pasi dan jatuh pingsan.

Keesokan harinya kedua wanita itu saling bertemu di sebuah Mall di Pusat kota Amman, akan tetapi yang satu sudah jauh berubah, ia telah mengenakan jilbab lengkap, wajahnya sudah memancarkan cahaya tobat, dan kelopak matanya membengkak karena banyak menangis. Wanita kedua tampak kaget, “Hei…apa aku tak salah lihat?” serunya dengan pandangan keheranan.

Wanita pertama hanya menunduk dan berkata lirih, “Aku telah kembali pada bimbingan Tuhanku, aku takut dan malu padaNya, aku jijik terhadap diriku, aku rindu pada keindahan, aku rindu pada kesucian, aku rindu pada kemuliaan, hanya Tuhanku yang mau mema’afkanku, hanya Tuhanku yang dapat memuliakanku, hanya Tuhanku yang dapat menyucikanku…” Belum selesai ia berbicara wanita kedua sudah berlalu dari hadapannya.

Tiga bulan berlalu tanpa terasa, kedua wanita itu sudah tak pernah berhubungan lagi, wanita pertama sedang asyik menikmati cahaya ayat-ayat Allah, ia duduk di kursi kayu di beranda rumahnya, melewatkan sore harinya bersama Al- Qur’an, yang dahulu sore harinya ia habiskan bersama Tequilla.

Tiba tiba Ponselnya berbunyi seakan hendak memutus kenikmatannya, tetapi ia enggan memutus ngajinya, ia biarkan selular itu berbunyi, berhenti dan berbunyi lagi, lalu berhenti dan berbunyi lagi, akhirnya dengan sangat berat ia menghentikan bacaan Al- Qur’annya dan menjawab telepon, ternyata si penelepon adalah temannya yang sudah tiga bulan tak pernah mau berhubungan

dengannya.

Temannya berkata lirih, “Bagaimana sih caranya bertobat..?” Dengan gembira wanita shalihah itu menjelaskan cara cara shalat, membaca Al- Qur’an dan ibadah-ibadah Indah lainnya.
Tetapi temannya terdiam dan berkata dengan berat, “Sholat..?, pake jilbab..?, aduh malas ah, aku berat melakukannya. Tapi…., aku butuh ketenangan.” Wanita shalihah itu berusaha meyakinkan bahwa Ibadah dengan diawali tobat adalah ketenangan yang sangat indah. Namun temannya memang kepala batu, seraya berkata, “ngga deh.., aku belum mau jadi biarawati..!”, seraya memutus hubungan teleponnya.

Tiga hari kemudian wanita shalihah itu mendapat kabar bahwa temannya telah menemui ajalnya. Lalu ia bergegas untuk melayat ke rumah temannya dan ternyata jenazah telah menuju pusara untuk dimakamkan.

Sesampainya ia dirumah temannya ia bertemu ibu dari temannya tersebut yang juga terlambat, karena datang dari luar kota. Ibu itu tergopoh- gopoh menuju pusara anak perempuannya didampingi si wanita shalihah. Ketika tiba ternyata penguburan telah selesai. Si ibu berteriak menjerit-jerit, ia menjambak rambut dan merobek bajunya memaksa untuk melihat jenazah anaknya terakhir kali.
Penguburan dan talqin sudah usai, namun permintaan ibu membuat para hadirin menjadi bingung. Mereka berusaha menyabarkan Sang ibu, namun ibu itu terus memaksa dengan terus merobeki bajunya. Akhirnya permintaannya pun dengan berat diterima, kuburan itu di gali lagi atas permintaan keluarganya.

Penggalipun dengan cepat menggali pusara itu. Namun ketika sampai pada kayu penutup mayat, ternyata kayu kayu itu sudah hancur. Mereka menyingkirkan kayu kayu itu dengan penasaran… semua wajah melongokkan pandangannya ke liang kubur. Lalu kayu-kayu hancur itu pun disingkirkan dengan hati-hati, maka terlihatlah pemandangan yang sangat mengerikan.

Kain kafan penutup mayat itu sudah hancur berserakan, mayat wanita itu hangus terbakar, rambutnya kaku bagaikan jeruji besi, hampir mirip sapu ijuk, kedua bola matanya berada dipipinya dalam keadaan kuncup bagaikan buah kering yang terbakar.

Dan lidahnya terjulur keluar serta dari mulut, mata dan telinganya mengalirkan asap yang berbau daging hangus.

Semua sosok yang menyaksikan pemandangan itu terlonjak mundur. Ibu dan wanita shalihah itu sudah sedari tadi jatuh pingsan. Dan para penggali kubur yang sudah melompat keluar liang itu dengan tanpa pikir panjang menimbun liang itu dengan cepat dan lari meninggalkan pusara.

Wanita shalihah itu semakin giat beribadah. Ibu wanita malang tadi sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan kubur itu menjadi kuburan terakhir yang dimakamkan di pemakaman itu, karena tak ada lagi orang yang mau menguburkan keluarganya di makam itu.

Firman Allah : “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. ”
(QS:Al-Hasyr-21).
Sekian dan semoga bermanfaat. Akhirul kata….

TOLONG DI BAGIKAN : Jangan Tabur Bunga di Atas Makam Ayahmu, Nak…

Perindu surga – SILAHKAN SIMAK DAN JANGAN LUPA DI SHARE
“ANAKKU, sebelum jenazah ayahmu dimakamkan izinkan bunda memberi tau wasiat beliau,” ucap seorang perempuan sembari memegang jasad suaminya yang telah terbalut kafan.

“Wasiat apakah itu, Bu. Apabila terbukti bisa ditunda, baiknya menantikan setelah jenazah ayah dikebumikan saja.”

“Tidak bisa. Wasiat ini mesti disampaikan sekarang. Almarhum ayahmu berwasiat supaya jangan ada yang menaburkan bunga di atas makamnya.”

Sang anak terkejut. Bukankah menaburkan bunga di atas makam adalah kegiatan yang lazim dilakukan?

“Maaf, Ibu. Benarkah almarhum ayah berwasiat demikian? Bukankah dalam suatu Hadis Riwayat Muslim diriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Saya melalui dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya bisa diringankan dengan syafa’atku selagi kedua belahan pelepah tersebut tetap basah’. Apabila demikian, pemberian benda tergolong bunga selagi keadaan tetap basah dimaksudkan untuk meringankan adzab seseorang yang telah meninggal?” ucap sang anak menyanggah pendapat ibunya.

“Dalam Qur’an Surah Al-Isra: 44, Allah berfirman, ‘Langit yang tujuh, bumi serta semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Serta tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, namun kalian sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dirinya adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’ Sehingga, tidak tersedia bukti yang menunjukkan bahwa pelepah kurma alias bunga bakal berhenti bertasbih apabila dalam keadaan kering.”

“Apabila demikian, mengapa Nabi Muhammad melakukan faktor tersebut?”
“Anakku, lakukanan Nabi SAW tersebut bersifat kasuistik (waqi’ah al-’ain) serta tergolong kekhususan beliau jadi tidak bisa dianalogikan alias ditiru. Faktor ini

dikarenakan beliau tidak melakukan faktor yang serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula para sahabat tidak sempat melakukannya. Jadi keringanan adzab kubur yang dialami kedua penghuni kubur tersebut adalah dikarenakan doa serta syafa’at Nabi SAW terhadap mereka, bukan pelepah kurma tersebut.”

Kondisi hening. Sang anak mulai mencerna, apakah perkataan ibunya terbukti benar. Lalu apabila benar, mengapa tabur bunga begitu tidak sedikit dilakukan? Tiba-tiba, Ibunya kembali melanjutkan pembicaraan.

“Anakku, ketahuilah ada seorang ulama hadis Mesir, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan, ‘Lakukanan ini (tabur bunga) digalakkan oleh tidak sedikit orang, padahal faktor tersebut tidak mempunyai sandaran dalam agama. Faktor ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan serta sikap mengekor kaum Nasrani.”

Ibunya kembali mengatakan, “Apa yang terjadi, terutama di negeri Mesir adalah contoh dari faktor ini. Orang Mesir pun melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara alias saling menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat alias kolega mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah wafat,’ (Ta’liq Ahmad Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil dari Ahkaamul Janaaizhal. 254). Dari itulah, mengapa almarhum ayahmu bersikeras supaya makamnya tidak ditaburi bunga.”

“Baiklah, Bu. Apabila terbukti demikian baiknya wasiat ayah dilaksanakan. Semoga saja, apa yang menjadi wasiat ayah berkualitas kebaikan. Aamiin.”

“Satu faktor lagi yang wajib dirimu ketahui, bahwa Nabi Muhammad SAW pasti diberi mukjizat oleh Allah atas performanya menonton azab kubur. Jadi dengan cara khusus melakukan demikian. Sedangkan apabila kami yang melakukan dikhawatirkan mengandung sindiran serta celaan terhadap penghuni kubur.”

Ibunya menegaskan, “Apabila menabur bunga dijadikan argumen untuk meringankan adzab, faktor tersebut adalah salah satu bentuk berkurang baik sangka (su’uzhan) terhadap penghuni kubur, sebab menganggapnya sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas lakukanannya di dunia. Padahal, kami tidak mengenal apakah penghuni kubur tersebut diazab alias tidak. Pengetahuan kami terhadap alam mistik tidak bisa disejajarkan dengan Nabi Muhammad.”

Sumber pelangimuslim.com

Baca Kalau Berani..!! Anda perlu tahu Inilah Keadaan Paling Pedih dari Jenazah yang Baru Meninggal Menurut Rasullulah Saw.. Tolong Sebarkan


semoga kisah nyata ini dapat kita ambil faedah baiknya serta berikan motivasi hidup dari aisyah subhanallah amin. inilah kiah Aisyah meneruskan ceritanya : Rasulullah saw lalu tiduran dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku. beliau tidur dengan telentang. Di atas tengkuknya saya berbuat mencari uban jenggotnya. Pada akhirnya saya lihat dalam jenggot beliau ada 11 rambut putih. Lalu saya berfikir, dalam hati saya mengatakan : ” Kalau beliau ini akan meninggal dunia mendahului saya, jadi tinggallah umat ini tanpa ada Nabi “. 


Tanpa terasa saya menangis hingga air mataku mengalir dipipi hingga menetes kewajah Rasulullah SAW, beliau segera terbangun dari tidurnya seraya bertanya : ” Apa yang mengakibatkan dirimu menangis wahai Ummul Mukminin? ” 


Saya lalu bercerita pada beliau satu cerita. Beliau lalu bertanya kepadaku : ” Waktu apa yang paling pedih dihadapi mayit? “. Saya menjawab : ” Tak ada kondisi yang paling pedih di atas diri si mayit disaat mayit keluar dari tempat tinggalnya, sedang anak-anaknya berduka cita dibelakangnya, seraya mengatakan :  ” Aduh… ayah… aduh… Sedang ibu serta bapaknya berkata : Aduh… anakku… ” 


Rasulullah lalu bersabda : ” Yang ini lebih pedih lagi “. Lalu saya bertanya : ” Apa yang lebih pedih dari itu Ya Rasulullah? “. Beliau menjawab : ” Tidak ada kondisi yang paling pedih untuk simayit saat ia di tempatkan dalam liang kubur lalu diuruk dengan tanah. Kemudian, kembalilah para kerabatnya, anak-anaknya serta beberapa kekasihnya, mereka semuanya menyerahkan simayit pada Allah Ta’ala beserta perbuatan amalnya. Lalu datanglah malaikat Munkar serta Nakir dalam kuburnya. (siramanislam. com) 


Lalu Nabi saw bertanya : ” Waktu apa yang paling pedih dari peristiwa itu itu? “. Saya menjawab : ” Allah serta RasulNya yang lebih tahu “. 


Beliau lalu bersabda : ” Wahai Aisyah, sesungguhnya kondisi yang paling pedih atas diri simayit yaitu saat orang yang memandikan masuk kepadanya untuk memandikan dirinya, lalu orang yang memandikan keluarkan cincin si mayit muda dari jarinya, melepaskan pakaian penganten dari tubuhnya, melepaskan surban mayit tua atau mayit alim dari kepalanya manfaat dimandikan. 


Ketika itu, ruhnya memanggil sewaktu lihat simayit dalam kondisi telanjang, dengan nada yang dapat didengar oleh semua makhluk, terkecuali jin serta manusia. Ruh itu menyampaikan : ” Wahai orang yang memandikan, saya memohon agar kalian menyopot bajuku dengan pelan, sebab saat ini saya betul-betul ingin istirahat akibat dari sakitnya tarikan Malikat maut tadi “. 


Ketika beberapa orang tengah memandikan mayit, jadi berkatalah ruh : ” Wahai orang yang memandikan, kalian janganlah memegang saya dengan kuat, sebab jasadku telah luka akibat dari keluarnya ruh “. 

Setelah usai dimandikan simayit di letakkan di dalam kain kafan, lalu diikat pada tempat ke-2 telapak kakinya. Ketika itu si mayit memanggil-manggil : ” Wahai orang yang memandikan, kalian jangan mengikat kain kafan kepalaku hingga saya dapat lihat muka istriku, anak-anakku serta kaum kerabatku, sebab pada hari ini yaitu hari yang terakhir kali saya lihat mereka. Hari ini saya akan pisah dengan mereka, saya juga akan tidak lihat mereka lagi hingga hari kiamat tiba. (siramanislam. com) 


Sewaktu mayit di keluarkan dari rumah, jadi mayit berseru : ” Wahai golonganku, kutinggalkan istriku dalam kondisi janda, kalian jangan menyakitinya. Kutinggalkan anak-anakku dalam kondisi yatim, kalian jangan menyakitinya, sebab pada hari ini saya keluar rumah serta akan tidak kembali pada pada mereka untuk selama-lamanya. 


Ketika mayit di letakkan di atas keranda, simayit berseru : ” Wahai golonganku, kalian jangan terburu-buru membawaku, hingga saya dapat dengarkan nada istriku, anak-anakku, dan kaum kerabatku, sebab pada hari ini saya berpisah dengan mereka hingga hari kiamat. (siramanislam. com) 


Ketika mayit dipikul di atas keranda serta orang-orang yang mengantarkan telah melangkahkan kakinya tiga kali, tiba-tiba ada seruan dengan nada yang dapat didengar oleh sagala sesuatu terkecuali cerminan manusia serta jin. Ruh itu berkata : ” Wahai para kekasihku, wahai para saudaraku, wahai anak-anakku, jangan sampai kalian terbujuk oleh tipu daya dunia, seperti dunia sudah menipu diriku. jangan sampai kalian dipermainkan jaman, seperti jalan sudah mempermainkan diriku. 

  

Ambillah pelajaran apa yang saya alami ini, sebenarnya saya sudah meninggalkan semua harta yang telah saya kumpulkan untuk pakar warisku, serta mereka tidak ingin memikul sedikit juga dari kekeliruanku. 


Di dalam pendam Allah menghisab saya, sedang di dunia kalian bersenang-senang dengan semua berisi. Kalian juga tak mendoakan saya saat kalian menshalati jenazah. (siramanislam. com) 


Pada saat beberapa ahlinya serta beberapa rekannya kembali dari tempat shalat, jadi si mayit berkata : ” Wahai saudaraku, saya tahu kalau mayit itu lupa disaat hidupnya, namun kalian janganlah melupakan saya secepat ini sebelumnya kalian menanamku, hingga saya dapat lihat pada tempatku. Wahai saudaraku, saya tahu kalau muka mayit lebih dingin daripada siraman air yang dingin menurut perasaan hati orang yang masihlah hidup, namun kalian jangan sampai kembali secepat ini “. 


Saat mayit ditempatkan didekat kuburnya, simayit berkata : ” Wahai golonganku, wahai saudara-saudaraku, saya sudah mendoakan kalian namun kalian tak pernah mendoakan diriku “. 


Saat mayit ditempatkan dalam kuburnya, simayit berkata : ” Wahai ahli waris, saya tidak mengumpulkan harta yang banyak kecuali saya tinggalkan untuk kalian, jadi ingatlah kalian kepadaku dengan memperbanyak kebaikan seperti yang sudah saya sampaikan pada kalian tentang isi Al-Quran serta tata