Luput dari Perhatian Pemerintah, Perang Suku Paling Brutal Tengah Berlangsung di Mimika Papua

Jum’at 29 July 2016M

Jum’at 23 Syawal 1447H

Luput dari Perhatian Pemerintah, Perang Suku Paling Brutal Tengah Berlangsung di Mimika Papua

post-feature-image

POSMETRO INFO – Perang suku yang terjadi di Kabupaten Mimika sejak Minggu (24/7) lalu hingga saat ini dinilai sebagai perang suku paling brutal yang pernah ada di Papua. Pasalnya, perang ini tidak hanya melibatkan dua suku, tapi sekaligus beberapa suku yang ada di Kabupaten Mimika, bahkan perang suku ini memakan korban anak-anak dan ibu-ibu.

“Saya lihat perang suku kali ini tidak seperti biasa karena terlalu brutal. Artinya, kalau kami perang itu anak-anak dan ibu-ibu kami tidak panah, walaupun sesama musuh. Tapi sekarang ini ibu sedang gendong anak, dan panah sudah menancap di badan. Anak ke sekolah pun dibabat di jalan, bahkan anak gadis kami juga ditangkap dan diperkosa, “ ujar salah satu warga Yile Yale, Distrik Kwanki Narama, Jhoni Wonda, saat ditemui di Sentani, (28/7) sore.

Selain itu seluruh barang yang ada di dalam rumah diangkut, rumah kami dibakar, motor kami dibawa. Bahkan semua barang yang di dalam rumah dibawa.

Dijelaskannya, bahwa dalam aturan perang suku, sebelum perang lokasi sudah ditentukan ada pemimpin yang memberikan komando, ada batasan-batasan dalam berperang, tapi dalam perang suku kali ini semua hal itu tidak dilakukan. “Dan sangat brutal di mana pembantaian terjadi di jalan-jalan dan adanya penjarahan di rumah-rumah,”ujarnya

Sementara mengenai akar masalah, Jhoni Wonda, mengatakan bahwa pihaknya belum bisa menyebutkan karena saat ini perang masih terjadi. “Untuk sebab akar masalah kami belum bisa bicara, karena situasi masih perang. Nanti setelah mereka semua ke sini baru koordinator perang akan menjelaskan penyebab terjadinya perang, ” ungkapnya.

Mengungsi

Sementara itu sebanyak 543 warga Kampung Yile-Yale, Distrik Kwanki Narama Kabupaten Mimika terpaksa mengungsi ke Jayapura pascaperang suku yang terjadi sejak Minggu (24/7) lalu.

“Kami mengungsi ke Jayapura sejak hari Senin lalu, karena di Mimika, kami tidak mendapat perhatian pemerintah dan juga tidak aman. Sehingga kami ke sini dan kami berharap bisa mendapat perhatian dari pemerintah Provinsi Papua dan juga DPR Papua karena rumah kami sudah dibakar dan harta benda pun dijarah oleh suku yang menyerang kami, “ kata Jhoni Wonda saat ditemui di tempat pengungsian di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (28/7) sore.

Jhoni Wonda menyampaikan, mereka datang ke Jayapura dengan cara membeli tiket sendiri tanpa bantuan pemerintah. “Kami ke Jayapura dengan biaya sendiri dan belum ada bantuan dari pemerintah sepeser pun. Kami utamakan anak-anak, ibu-ibu, dan juga orang tua supaya mereka aman. Sementara pemuda dan bapak-bapak masih berada di tempat pengungsian di SP 3. Untuk makan kami dapatkan dari keluarga yang ada di Sentani, sedangkan kami tidur di tenda yang dibuat beralaskan rumput, tapi tidak apa yang penting kami aman,” ungkapnya.

Sementara itu salah satu saksi, Mira Wonda mengatakan penyerangan terjadi pada malam hari dan saat pagi hari ketika warga bangun tidur penyerangan sudah terjadi, di mana seluruh rumah dibakar, bahkan harta benda milik mereka dibawa pergi.

“Penyerangan terjadi saat pagi hari waktu itu kami baru bangun, sebagian warga masih di dalam rumah. Sementara anak-anak bersiap ke sekolah dan saya lihat dari arah SP 3 ke Kampung Yile-Yale, dan saya juga melihat ada korban meninggal ada tiga orang termasuk salah satu anak-anak, “ ujarnya.

Atas peristiwa ini ibu-ibu dan anak-anak yang mengungsi menolak kembali ke kampung halamannya, sekalipun perang suku sudah selesai dengan alasan tidak memiliki rumah, karena seluruh rumah dibakar. “Kami tidak akan pulang karena kami mau tinggal di mana, rumah kami sudah dibakar, kami tidak punya tempat tingggal lagi. Kalaupun kami pulang. pemerintah harus memfasilitasi dan memastikan bahwa perang suku tidak akan terjadi lagi, “ ujarnya.

Sebelumnya, pada Senin (25/7) lalu, telah terjadi penyerangan oleh sekelompok warga di wilayah Iliale, Kampung Tunas Matoa, Distrik Narama, kabupaten Mimika. Akibat kejadian ini dua orang tewas, puluhan rumah dibakar, dan puluhan kendaraan roda dua dirusak warga. Aparat kepolisian di-backup 500 personil TNI diturunkan untuk melerai pertikaian warga.