Para Orang Tua Di Bulgaria Menjual Belikan Anak Gadisnya Yang Masih Perawan

Kamis 28 July 2016M.
Kamis 22 Syawal 1437H.
Tergamak”…Para Orang Tua Di Bulgaria Menjual Belikan Anak Gadisnya Yang Masih Perawan ? Katanya Sichhh Tradisi !!

Para Orang Tua Di Bulgaria Menjual Belikan Anak Gadisnya Yang Masih Perawan ? Katanya Sichhh Tradisi !!

Pada hari itu, para gadis remaja Kalaidzhi di Bulgaria, kenakan pakaian paling baik mereka, memoles lipstik serta bedak, dan menggunakan wewangian.
Mereka menyiapkan diri untuk jadi peserta dalam perayaan ‘pasar pengantin’ tradisional yang sudah berlangsung lama di kota itu.

Perayaan tersebut adalah acara dimana beberapa gadis perawan ‘dijual’ oleh beberapa orang-tua mereka, kepada pria yang menawar anak gadis itu dengan harga yang tinggi. Untuk dijadikan pengantin.

image

Seperti diambil dari News. com. au, Selasa (26/7/2016), komunitas dengan populasi 18. 000 jiwa di semua timur Eropa itu, memegang kukuh tradisi pernikahan nenek moyang mereka.

Kebiasaan pasar pengantin itu dikerjakan empat kali dalam setahun. Saat acara berjalan, beberapa gadis bakal dibawa orang-tua mereka menuju tempat perayaan serta di jual pada penawar tertinggi.

Seseorang gadis dari garis keturunan itu bahkan bisa dipaksa untuk berhenti bersekolah, untuk menikah dengan pria yang telah ‘membeli’ dirinya.

Milene Larsson melakukan perjalan berpuluh kilometer untuk merekam seperti apa perayaan ‘pasar pengantin’ itu, serta bagaimana reaksi para remaja di Bulgaria menanggapi hal tersebut .

Dalam rekaman dokumenter bertopik ‘Young Brides for Sale’, Milene berjumpa dengan keluarga Vera dan Christo yang tengah menyiapkan dua putri mereka, Pepa dan Rossi, untuk ‘dijual’.
Beberapa gadis remaja Kalaidzhi ada dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com)
” Pasar pengantin adalah tradisi nenek moyang populasi Kalidzhi yang masih dilestarikan sampai sekarang ini. Tetapi, saat ini beberapa gadis lebih ‘bebas’ untuk memilih siapa yang ingin mereka nikahi daripara sekedar pasrah di depan ‘pembeli’, ” kata Milene.

Milene mengakui terkejut dengan praktek jual-beli gadis perawan itu. Dia berpikir, pada jaman serba canggih ini, masihlah ada saja orang yang memperjual-belikan kebahagiaan.

image

” Tradisi itu bikin wanita terlihat seperti barang yang dapat diperjual belikan. Mereka seolah di ciptakan cuma untuk mematuhi dan melayani suami mereka nanti, tanpa bisa memiliki ambisi sama sekali, ” lanjut perempuan itu.

blue;”>
Pepa dan Rossi sudah mempersiapkan diri mereka dengan membeli sebagian pakaian baru, baik yang dibeli online ataupun dari toko-toko.

Para gadis remaja Kalaidzhi hadir dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com)
Ibu mereka, Vera, sangat menunggu-nunggu hari tersebut . ” Bila wanita telah tidak lagi perawan sebelum menikah, mereka bakal dipanggil pelacur dan wanita jalang, ” kata Vera.

” Gadis Kalaidzhi harus perawan saat menikah. Ini sangat penting dikarenakan banyak duit diberikan untuk keperawanan, ” tambah Pepa.

Bersama dengan sepupu mereka, Mima, Pepa dan Rossi mengaku pasar pengantin itu ‘menakutkan’. Ada peluang orangtua akan memberikan anak mereka pada lelaki dengan uang yang lebih banyak — tak peduli seperti apa tampangnya.

” Walaupun kau saling mencintai, namun orangtua pasanganmu tidak menyukainya, kau tak dapat menikah. Terutama bila wanita itu mempunyai mata yang gelap. Mereka ingin yang cantik, bermata jelas, putih pucat, serta kurus, ” kata Mima.

Hari yang dinanti-nantikan juga tiba. Pepa, Mima, serta Rossi mulai mendandani diri mereka secantik mungkin.

Supaya terlihat lebih ‘pucat’ mereka mengoleskan pomade (semacam olesan putih) untuk bikin muka tampak lebih putih.

Dengan mengenakkan baju dan sepatu terbaik, beberapa gadis itu pergi menuju lokasi ‘jual-beli’.

Beberapa gadis remaja Kalaidzhi hadir dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com)
Waktu tiba di tempat, banyak pemuda pemudi berkumpul, tertawa, berbincang-bincang, serta berfoto.

” Saya rasakan ada perasaan yang kompleks seperti hak perempuan, nilai keluarga, serta ketidakadilan seksual, ” kata Milene.

” Saya merasa iba saat menghabiskan waktu berbincang dengan beberapa gadis itu. Mereka takut menikah dengan seorang yg tidak mereka kenal. Mereka bahkan juga mesti mengubur ambisi mereka, ” ujar dia.

Walau bagaimanapun, mereka tak miliki alternatif lainnya terkecuali ikuti kemauan orangtua dengan menikahi pria yang sudah membeli mereka dengan harga tertinggi.

” Tradisi ini memberi peluang kepada anak muda untuk bertemu dengan remaja seumuran mereka. Wanita mempunyai hak untuk menolak. Laki-laki tidak meminta mereka secara langsung. Mereka mengatakannya pada orangtua dan tetua mereka, ” kata ayah Pepa, Christo.

” Beberapa orangtua dapat bernegosiasi memastikan harga. Sekarang tidak begitu ketat lagi. Jika kau tidak menyukaiku kau dapat menolak, ” ujar Christo.