Inilah 8 Manusia Terbaik Menurut Rasulullah SAW



tiap orang memiliki pendapat masing-masing mengenai siapakah orang yang sukses dan terbaik, karena dalam berbagai bidang setiap orang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Apabila kita lihat dalam bidang bisnis maka orang yang sukses adalah orang yang terkaya. Sedangkan untuk bidang pendidikan, orang yang sukses bisa dilihat dari tingkat pendidikannya. Hal inilah yang membuat setiap orang memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat orang sukses. Bisa jadi orang yang sukses dilihat dari keadaan internalnya atau eksternalnya.

Rasulullah adalah manusia yang paling mulia karena setiap perilaku dan sikapnya sesuai dengan ajaran Allah. Namun, mulianya Nabi tak menghalangi beliau untuk memiliki orang lain yang dianggapnya mulia.

Dalam penilaian ini haruslah kita berpikir atau menilai dengan objektif. Oleh karena itu, terdapat indikator yang harus dipenuhi oleh orang yang sukses agar penilaian bisa secara objektif. Berikut ini adalah 8 indikator yang menjadi syarat seseorang dikatakan sebagai manusia paling baik menurut Rasulullah SAW.

1. Tidak Ingkar Dalam Melunasi Hutang
Apabila kita memiliki hutang pada orang lain maupun Allah, maka kita berkewajiban untuk membayarnya. Itu adalah kewajiban orang yang berhutang. Dalam sebuah hadits dijelaskan jika orang yang terbaik adalah orang yang membayar hutang.

2. Belajar al-Qur’an dan Mengajarkannya
Terdapat banyak ajaran baik perintah atau larangan yang ada di dalam Islam. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi umat manusia agar mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Selain itu, dengan ilmu maka kita tidak akan mudah terjerumus pada keburukan dan maksiat. Terlebih jika kita tidak hanya menuntut ilmu tapi juga mengajarkannya pada orang lain maka kita akan jadi manusia terbaik di dunia.

3. Kebaikannya Agar Terhindar Dari Keburukan

Sebuah hadits berisi jika orang yang paling baik yaitu orang yang diharapkan kebaikannya.

4. Menjadi Suami Terbaik Untuk Keluarga
Seperti yang kita tahu jika Rasulullah adalah seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu. Meskipun demikian, beliau mampu berlaku adil dan melakukan kewajiban sebagaimana mestinya. Jadi, orang yang terbaik adalah seorang suami yang baik pada keluarganya. Inilah orang terbaik menurut Rasulullah.

5. Memiliki Akhlaq Baik dan Berilmu
Allah tidak pernah membeda-bedakan setiap umatnya dari kedudukan ataupun kekayaannya karena semua itu adalah pemberian dari Allah. Dia melihat seorang hamba dari seberapa baik akhlaqnya. Orang yang paling baik adalah orang yang berilmu dan memiliki akhlaq baik.

6. Yang Memberikan Makanan
Makanan adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi bagi setiap makhluk hidup, terutama manusia. Namun, tak semua orang beruntung memiliki makanan. Terdapat beberapa orang yang tidak memiliki uang untuk membeli makanan sehingga mereka harus berpuasa hingga berhari-hari. Apabila kita memiliki uang atau makanan yang lebih sebaiknya memberikan makanan kepada orang tersebut karena ini adalah orang yang terbaik.

7. Yang Baik Perbuatannya dan Panjang Usianya
Setiap orang memiliki usia meninggalnya masing-masing. Apabila seseorang hidup lama dan ia melakukan banyak perbuatan dosa maka sesungguhnya ia telah merugi. Sedangkan, jika Allah memberinya umur panjang dan ia berbuat baik maka ia termasuk orang paling baik.

8. Memberikan Manfaat Bagi Sekitar
Kriteria ini jelas harus ada pada orang terbaik. Apa gunanya jika kita memiliki ilmu banyak, kemampuan tinggi dan prestasi yang hebat tapi tidak bisa memberikan manfaat untuk orang-orang sekitar. Sesungguhnya orang yang dapat bermanfaat adalah orang yang terbaik.

Sumber: cahaya-tausiah.blogspot.co.id


Jika Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran, Mengapa Rasulullah Minta Diwafatkan Dalam Keadaan Miskin?

Terkadang secara terjemahan bebas terdapat pertentangan antara hadist yang satu dengan hadist yang lainnya sehingga membuat bingung umat muslim, terutama yang masih awam tentang ilmu agama. Salah satunya tentang kefakiran atau kemiskinan yang bisa mendekatkan kepada kekufuran. Namun dalam hadist lain disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdoa agar diwafatkan dalam keadaan miskin dan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang miskin. Bagaimana menyikapi kedua hadist tersebut?


Jika Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran, Mengapa Rasulullah Minta Diwafatkan Dalam Keadaan Miskin?


Ketahuilah bahwa hadist yang menyatakan kefakiran menyebabkan kekufuran memiliki derajat hadist yang lemah atau dhaif sehingga tidak bisa digunakan sebagai hujjah. Sementara hadist yang menyatakan Rasulullah ingin mati dalam keadaan miskin ada dalam hadist dari Abu Said Al Khudri.

Rasulullah bersabda, “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin serta kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.” (HR Ibnu Majah, Hadist Hasan)

Pengertian arti miskin yang sebenarnya dalam hadist tersebut bukanlah miskin dalam harta, melainkan memiliki makna tawadhu dan rendah hati. Hal ini telah dijelaskan oleh ulama ahli hadist maupun ahli bahasa.

Imam Baihaqi berkata, “Menurut saya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak bermaksud meminta keadaan miskin yang berarti kurang harta tetapi miskin yang berarti tawadhu dan rendah hati.” (Dinukil dan disetujui oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Talkhis Habir 3:1108)

Sementara Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tawadhu (rendah hati) dan agar tidak termasuk orang-orang yang sombong dan angkuh.”

Wallahu A’lam

Buatlah 6 Perkara Ini Dan Rasulullah Menjamin Syurga Untuk Anda …Kongsikan pada Semua


Gambar Hiasan

Rasulullah SAW bersabda :


“Jaminlah bagiku enam hal, nescaya aku jamin syurga bagi kalian; jujurlah dalam berbicara, tepatilah apabila berjanji, tunaikanlah amanah yang diberikan kepadamu, jagalah kemaluanmu, tahanlah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu dari berbuat dosa (HR Ahmad, Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Hibban )


Akidah yang sahih dan selamat tidak berguna sekiranya tidak terzahir pengaruhnya dalam akhlak diri, tindakan anggota tubuh. Kalau tidak begitu, ia hanyalah lafadz yang kosong tanpa nilai.

Seorang mukmin adalah orang yang dipercaya dengan peribadinya, beriman kepada Tuhannya, mengharap balasan yang baik dariNya. Inilah harga syurga yang telah dijelaskan Rasulullah.

Enam sifat, apabila diterapkan dalam perilaku dan menampakkan pengaruh dalam perbuatannya di atas adalah bukti kebenaran imannya, keshahihan akidahnya, kesempurnaan keperibadiannya, semua ini menjadikannya berhak mendapatkan surga.

1. Menjadi orang jujur.



Dia tidak berdusta dalam perkataannya, tidak dengan isyarat maupun penipuan. Allah SWT berfirman :


“Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama sama orang orang yang benar.” (QS Attaubah 119)

Rasullullah SAW ditanya , “Mungkinkah seorang mukmin berdusta?” beliau menjawab, “Tidak” lalu beliau membaca Ayat Al Quran :


“Sesungguhnya yang mengada akan kebohongan, hanyalah orang orang yang tidak beriman kepada ayat ayat Allah, dan mereka itulah orang orang pendusta.” (QS An Nahl 105)

2. Menepati Janji.


“Diantara orang orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka mereka ada yang menunggu nunggu dan mereka tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)



3. Menunaikan amanah yang dipertangunggjawabkan.

Seseorang itu hanya akan lebih dipercayai oleh orang lain apabila dia telah terbukti melaksanakan amanah. Seorang mukmin tidak akan menjadi penghianat apapun keadaannya.


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS Annisa 58)

“Apabila amanah telah diabaikan, maka tunggulah kehancurannya (HR Bukhari)

Dalam hadis lainnya, disebutkan, “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak menunaikan amanah.”


Termasuk perbuatan khianat adalah mengurangi timbangan dan takaran, mengambil tenunan tanpa izin pemiliknya, memberikan kepada orang lain apa yang bukan miliknya untuk menarik manfaat untuk dirinya.” Yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas pula “. ((Muttafaq Alaih)

4. Menjaga kemaluan. 

Orang Mukmin akan berusaha untuk memelihara kemaluan mereka daripada perkara yang haram melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah.


“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

5. Menahan Pandangan

Mereka sibuk dengan pengawasan Allah daripada melakukan perbuatan sia sia, tenggelam dalam syahwat atau menggunakan waktu dengan perbuatan tiada manfaat.

Orang beriman tidak akan mensia-siakan nikmat penglihatan mereka dengan melihat perkara yang melalaikan.

6. Menjaga tangannya agar tidak melakukan perbuatan yang menyakiti makhluk.

Ia tidak melakukan kekerasan pada seorang pun, tidak menzalimi, tidak menerima kezaliman. Allah SWT berfirman:


“ Dan orang orang yang menyakiti orang orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata (QS Al Ahzab 58)

Orang yang dapat menjamin dirinya melakukan enam perkara mulia ini, niscaya Rasulullah SAW menjamin baginya surge yang lebarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa.

(Sumber: QuranicGen.com

Nabi melarang kita MENCELA ayam jantan. Ini sebab kenapa AYAM JANTAN sangat dimuliakan dalam Islam!!



Oleh : Ustaz Ammi Nur Baits
Terjemahan : Jebat

Bismillah was salatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا


“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah kurnia Allah (berdoalah), kerana dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari syaitan, kerana dia melihat syaitan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).

Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, ’di malam hari’,
إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ


Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Kerana itu, mintalah kepada Allah kurnia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keistimewaan Ayam Jantan

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam, sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Ini sebahagian dari keistimewaan ayam.

Al-Hafiz Ibn Hajar mengatakan,
وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي فإنه يقسط أصواته فيها تقسيطا لا يكاد يتفاوت ويوالي صياحه قبل الفجر وبعده لا يكاد يخطئ سواء أطال الليل أم قصر ومن ثم أفتى بعض الشافعية باعتماد الديك المجرب في الوقت


Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, iaitu mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum subuh dan sesudah subuh, hampir tidak pernah terlambat. Baik malamnya panjang atau pendek. Kerana itulah, sebagian syafiiyah memfatwakan untuk melihat kepada ayam jantan yang sudah terbukti, dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).

Mengambil Pelajaran dari Ayam Jantan

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan dari ad-Dawudi,
قال الداودي يتعلم من الديك خمس خصال حسن الصوت والقيام في السحر والغيرة والسخاء وكثرة الجماع


Ad-Dawudi mengatakan, kita boleh belajar dari ayam jantan dalam 5 perkara: suaranya yang bagus, bangun di waktu sahur, sifat cemburu, dermawan (suka memberi), dan sering jimak. (Fathul Bari, 6/353).

Mengapa Dianjurkan Berdoa?

Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, kerana dia melihat Malaikat. Kerana kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.

Al-Hafiz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh,
قال عياض كان السبب فيه رجاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص


Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan amin dari Malaikat untuk doa kita dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).

Tidak Boleh Mencela Ayam Jantan

Dalam hadis dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiallahu ‘anhu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ


Janganlah mencela ayam jantan, kerana dia membangunkan (orang) untuk solat. (HR. Ahmad 21679, Abu Daud 5101, Ibn Hibban 5731 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan al-Halimi,
قال الحليمي يؤخذ منه أن كل من استفيد منه الخير لا ينبغي أن يسب ولا أن يستهان به بل يكرم ويحسن إليه قال وليس معنى قوله فإنه يدعو إلى الصلاة أن يقول بصوته حقيقة صلوا أو حانت الصلاة بل معناه أن العادة جرت بأنه يصرخ عند طلوع الفجر وعند الزوال فطرة فطره الله عليها


Al-Halimi mengatakan,

Disimpulkan dari hadis ini bahawa semua yang boleh memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya, dia dimuliakan dan dianggap satu kebaikan. Sabda baginda, ‘ayam mengingatkan (orang) untuk solat’ bukan maksudnya dia bersuara, ‘solat..solat..’ atau ‘waktunya solat…’ namun maknanya bahawa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).

Allahu a’lam.