​Blak-Blakan, Cak Nun Bongkar Identitas Asli Ahok

Cak Nun (republika-ilustrasi)

Budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun kembali bersuara tegas dan lantang terkait Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Cak Nun tanpa takut menyampaikan siapa sebenarnya Ahok dan peranannya dalam berbagai proyek menghancurkan bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Cak Nun menyatakan, umat Islam sebagai penduduk mayoritas dijadikan sasaran dan harus dipecah belah. Caranya dengan menggunakan berbagai macam proyek di berbagai bidang kehidupan. Sayangnya, banyak kaum Muslimin yang tidak memahami garis besar permainan musuh-musuh Islam yang berkedok kebangsaan ini. “Tidak semua pimpinan umat Islam mengerti gambar besar ini,” ujar Cak Nun tegas. Banyak umat Islam yang mengira bahwa kegaduhan yang terjadi hanya urusan Ahok. Padahal, ada hal lebih besar yang terjadi di balik Ahok. “Dipikirnya soal Ahok. Lah opo loh Ahok diurusi?” tandasnya. Buat apa mengurusi Ahok? Tanya Cak Nun, retoris. “Bukan Ahoknya, tetapi Ahok adalah korlap (koordinator lapangan) dari proyek-proyek.” lanjut Cak Nun, blak-blakan. Menurutnya, banyak pengembang yang akan menanggung kerugian dahsyat jika Ahok tidak terpilih menjadi Gubernur. “Kalau Ahok tidak sampai jadi Gubernur, berapa ratus triliun yang tidak bisa diterapkan?” jelasnya. Ratusan triliun yang sudah digunakan untuk berbagai proses pengerjaan proyek, mulai dari pembelian bahan baku dan lain sebagainya akan mangkrak jika Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta. Sehingga para pengembang harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memenangkan Ahok demi lancarnya proyek-proyek mereka menggerogoti negeri ini. [Om Pir/Tarbawia]

“MASUK SURGA ITU NGGAK PENTING..!”

​Bagus nih uraian Cak Nun soal sedekah, menyindir si Motivator Sedekah…


“MASUK SURGA ITU NGGAK PENTING..!”

[Think Different Ala Cak Nun]
INGAT : Tulisan ini khusus untuk para GENTHO (begundal), mereka yang sedang berproses mencari kebenaran Tuhan.

Yang mengaku Alim atau ahli ibadah atau Ustad minggir dulu, nanti dulu, jangan Komen.

Jangan berharap ada dalil-dalil dari Syekh Zulkifli Jabal Syueb Sanusi (embuh sopo kui? – Gak tau siapa Itu ?). Monggo.
BEBERAPA tahun belakangan marak ‘SEDEKAH AJAIB’ yang sering digiatkan oleh itu, Si Ustad ‘nganu’. Cak Nun hanya mengingatkan, “SEDEKAH itu dalam rangka BERSYUKUR, berbagi rejeki & kebahagiaan, BUKAN dalam rangka MENCARI REJEKI. Ingat itu!

Kalau Anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang! Paham?”
Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.

Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun, ya wis, kasihkan saja, titik! Setelah itu Jangan Berharap Apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda, tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus, tapi janji Tuhan jangan pernah dijanjikan oleh manusia, nggak boleh!
Banyak orang beribadah yang masih salah niat gara-gara manut omongan si motivator sedekah. Naik haji/umroh biar dagangannya lebih laris. Sholat Duha biar diterima jadi PNS, biar duit banyak, biar jadi milyarder biar dihormati orang. Ibadah itu dalam rangka bersyukur, titik! Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam sholatnya menangis, tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya sendiri, tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orangtua, anak, istri, kakek, nenek, saudara, sahabat dan seterusnya.
Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : “kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku, saya ikhlas, manut ae, yang penting Tuhan ridho sama saya.” Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.
Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : “Ya Tuhan kenapa saya kok mlarat, miskin, dagangan gak laku, gak bisa beli montor, gak bisa beli mobil, aku salah apa sih..!???” Waaahh…, malaikat langsung gregeten, nampar mukamu : “Oalaaaaah.., cengeng byanget kamu ya…!!!”
Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda.

Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya di belakang nggerundel, gak ihklas.
Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita sholat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita sholat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya, titik! Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridho, nggak marah pd kita.
Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum’at. Lha wong paling pingin ML aja kok ya harus nunggu malam Jum’at, Ni gimana sih? Itulah kita, tarafnya masih kemaruk (serakah) pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rosul. Pikir sendiri!
“Surga itu nggak penting..!” kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, nggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???
“Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka. Fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta…” kata Cak Nun

komen komen

============

Akal adalah yang hidayah yang tertinggi diberi allah kepada yg nama nya mahluk manusia klu kita tak diberi akal sama dengan binatang jadi klu akal kita tak bisa menyerap apa yang disampai kan oleh cak nun jagan menyudutkan ,merendah kan seolah olah ilmu orang menyudut kan cak nun sudah merasa tinggi sudah merasa paling tau ,ribuan orang datang setiap cak nun memberi ceramah ,apakah orang yang medengar kan cak nun ceramah tak pakai akal dan logika ? bagaimana kita menafsir kan alquran klu tak pakai akal dan logika bagai kita tau shahih nya hadist klu kita tak punya akal dan logika ? apa sholat kita dan amal ibadah kita sudah pasti diterima allah semua nya masih insysaalah jadi belum ada ulama Manapun yang berani mengatakan bahwa perkataan nya amal ibadah nya pasti diterima allah ,maka perguna 

kan akal dan logika mu yang tidak boleh mengakal ngakali dan meng logika logika kan agama .

===============

sahabat rasullulah aja baik memandang ,medegarkan perkataan dan perbuatan rasullulah saling beda pendapat cara menafsirkan nya apalagi para ulama yang ada sekarang ini juga berbeda beda cara menafsikan nya jadi yang Mana harus kita ikuti maka perganakan akal dan logika .

Utk bahan renungan tulisan cak Nun boleh lah.. Ibadah atau amal itu ekspresi syukur, ini level Nabi yg sudah dipastikan Sorga tapi tetap ibadah..

Masalahnya adalah..ibadah dalam Islam bukan hanya ibadah hati..ada syariatnya.Solat jamaah lebih dianjurkan..berhaji juga ibadah bersama yg memang gak bisa ngumpet..kalau dasar pikiran cak Nun ditelan semua..kita jadi gak solat jamaah seumur hidup..ga potong qurban.. 

lebih gampang latihan ihlas dgn ibadah ngumpet…tapi lebih jempol lagi klo bisa tetap ihlas ibadah walaupun hrs ketahuan orang lain..tidak merasa paling baik..segera lupakan kebaikan kita..ingat terus dosa…

Selamat berjuang dalam ikhlas.. semoga Allah meridhoi..amiin.