​Irene Handono: Biarawati Palsu yang Beri Kesaksian Palsu

 79

Nama Irene Handono mulai banyak dibicarakan dimana-mana. Bukan hanya Irene, masih banyak lagi orang-orang yang mendadak terkenal. Ini semua adalah pancaran ke-barokah-an Basuki Tjahaja Purnama. Melalui Ahok, mereka yang lantang menyerangnya akan menjadi pusat perhatian. Apalagi kalau menjadi seorang saksi dalam sidang Ahok.

Banyak orang mengenal Irene Handono sebagai seorang mantan biarawati. Saya tidak tahu klaim seperti itu digunakan untuk kepentingan apa? Apakah itu untuk mengukuhkannya sebagai pakar kristologi yang kredibel karena ia seorang mantan biarawati? Kalau itu tujuannya, maka, sebagai pakar ra(i)sa, saya perlu untuk menguji kebenaran ke-biarawati-an seorang Irene Handono.

Seorang suster yang bernala Suster Lucyana, seorang biarawati dari Biara ursulin Bandung tempat dimana Irene hampir diikrar menjadi biarawati pernah menyatakan bahwa Irene bukanlah seorang biarawati. Katanya, Irene belum melewati prosesi “Kleding” yakni penerimaan pakaian suster. Tanpa melewati preses ini, mustahil dapat menjadi biarawati. Dan Irene telah gagal disini.

Klaim sebagai mantan biarawati adalah klaim sepihak. Ini namanya kebohongan publik. Mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. Hanya mengenyam pendidikan kesusteran beberapa tahun, lalu itu sudah dianggap mewakili. Itu sama dengan seseorang yang ngaku-ngaku sarjana, padahal belum buat skripsi. Apakah kesarjanaannya dapat diwakili dengan beberapa tahun masa kuliah tersebut?

Dari titik ini saja, sebenarnya, sangat disangsikan kesaksian dari seorang Irene Handono. Tapi, disebabkan ia telah ditunjuk sebagai saksi dalam sidang Ahok, oleh karena itu, mari kita selidiki apakah antara kebohongannya tentang identitas ke-biarawati-annya akan mempengaruhi kesaksiannya di sidang Ahok?

Pertama. Irene menyebut Ahok sebagai gubernur yang banyak merobohkan masjid. Saat ditanya masjid mana saja yang dirobohkan? Irene menjawab masjid yang di Marunda. Lalu, Ahok menjawab bahwa masjid di Marunda dirobohkan karena akan dibangun ulang. Supaya lebih baik dari sebelumnya.

Ini sangat menggelikan. Bagaimana bisa membuat pernyataan yang gegabah seperti itu? Apakah seorang Irene Handono tidak kroscek dulu sebelum membuat pernyataan. Ini sangat dibuat-buat. Bahkan, pernyataan itu sangat tidak masuk akal dengan realita yang ada. Ahok bangun masjid dimana-mana. Bahkan, masjid agung provinsi hanya di zaman Ahok bisa dibangun. Bagaimana bisa Ahok dituduh suka merobohkan masjid, padahal kenyataannya Ahok malah suka membangun masjid?

Kedua. Irene Handono menuduh Ahok suka melarang kegiatan keagamaan umat Islam di Monas. Tetapi, untuk umat Kristen dibolehkan melakukan paskah.

Ini adalah fitnah. Bukan Ahok yang melarang, tapi peraturan yang melarang semua agama melakukan kegiatan keagamaan di Monas. Sesuai peraturan, Monas itu hanya bisa digunakan untuk kegiatan kenegaraan. Mengapa Irene Handono bisa semudah itu menyimpulkan? Lalu membuat klaim-klaim yang seakan-akan gubernur bertindak diskriminatif.

Ketiga. Katanya, Ahok melarang pelajar memakai jilbab tiap jumat. Ini adalah fitnah yang tak berdasar. Dilemparkan tanpa tabayyun padahal Irene kan seorang ustadzah, tentu paham agama. Tapi, dengan mendengar tuduhan-tuduhannya ini, sudah terukur siapa seorang Irene Handono itu.

Ahok menepis tuduhan tersebut. Kata Ahok, sampai sekarang, sekolah-sekolah bebas memakai pakaian muslim. Malahan, pemprov DKI memberi bantuan yang cukup besar untuk pakaian-pakaian tersebut dari APBD. Jelas sudah. Ini memang fitnah.

Keempat. Irene mengatakan bahwa warga Kepulauan Seribu takut melaporkan Ahok karena telah diberikan fasilitas program budidaya ikan kerapu. Ini sangat tidak berdasar. Irene sepertinya tidak menonton video lengkapnya saat Ahok memberikan pidato di Pulau Pramuka. Sehingga, terlihat bahwa ia memang tak paham apa yang sebenarnya pemprov DKI lakukan.

Ada satu lagi keterangan dari Irene Handono yang membuktikan bahwa ia tidak pernah menontoh video lengkapnya. Dan sepertinya, video editan Buni Yani yang dijadikannya rujukan. Yakni, Irene mengatakan bahwa saat Ahok memberikan pidato di Pulau Pramuka, Ahok, katanya, berkali-kali bilang “pilih saya”. Jelas bukan, Irene Handono tidak pernah nonton video lengkapnya.

Seorang Irene Handono disebut sebagai ustadzah, berarti lebih paham agama ketimbang awam, mengapa dengan gegabahnya membuat keterangan-keterangan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan?

Ini menjadi satu preseden buruk untuk para pemuka agama dan tukang dakwah seperti saya. Ini sungguh sangat memalukan. Memalukan agama Islam yang sangat melarang umatnya memberikan kesaksian palsu. Juga memalukan kalangan pendakwah. Masa dakwah dilakukan dengan kebohongan?

Sudah berbohong tentang identitas ke-biarawati-annya. Kini, Irene Handono berbohong pula tentang kesaksiannya di persidangan. Masa bela agama harus dikotori oleh pekerjaan-pekerjaan keji yang dilarang agama. Ini sama dengan mau membayar zakat tapi dengan uang hasil korupsi. Niatnya bagus, tapi caranya rusak.

Saya ra(i)sa-ra(i)sanya ingin bertanya: Agak-agaknya, saksi-saksi pelapor dalam sidang Ahok adalah orang-orang yang dipilihnya secara asal. Ini hanya memberikan jalan kepada Ahok untuk membuka semua kedok-kedok busuk politik dalam bungkus agama. Carilah saksi pelapor yang agak greget dikit.

Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.

Mualaf Jerman: Sebelum Menuduh Islam Teroris, Coba Jawab 14 Pertanyaan Ini




Mualaf asal Jerman Pierre Vogel yang mengikrarkan syahadat pada tahun 2001 melontarkan beberapa pertanyaan kepada dunia barat yang selama ini menuduh Islam identik dengan Teroris.

Berikut ini 14 pertanyaan yang disampaikan Pierre dalam sebuah ceramahnya sebagaimana dilansir pijar.net, untuk menjawab tuduhan Ketika Islam dituduh sebagai agama Teroris:

  1. Siapakan yang selalu menjajah sebuah negara damai, aman, tenteram hanya untuk kepentingan ekspansi?
  2. Siapakah yang menyulut perang dunia pertama?
  3. Siapakah yang menyulut perang dunia kedua?
  4. Siapa yang selalu menyiarkan sebuah ajaran agama dengan cara menjajahnya terlebih dahulu?
  5. Siapakah yang menjatuhkan bom atom atas Hiroshima dengan keji, tidak berperikemanusiaan, dan mengorbankan jutaan rakyat sipil?
  6. Siapakah yang membantai 20 juta suku Aborigin di Australia?
  7. Siapakah yang membantai lebih dari 100 juta suku indian merah di Benua Utara Amerika?
  8. Siapakah yang membantai lebih dari lebih dari 50 juta Indian merah di benua Selatan Amerika?
  9. Siapakah yang menjadikan lebih dari 150 juta manusia dari Afrika sebagai budak (apartheid), Diantara 77 % dari mereka mati di perjalanan dan dikubur di lautan Atlantik?
  10. Siapa yang selalu tertarik untuk menguasai serta “merampas” minyak suatu negara baik dengan cara mengadu domba negara tersebut, mendanai oposisinya, menyebar fitnah bom, membuat negara tersebut tak kunjung ada kedamaian?
  11. Siapa renternir dunia (IMF) yang justru membuat negara pasiennya jadi tambah sengsara dengan system busuk dan kejinya?
  12. Siapa pelaku dan pendukung penjajahan, perampasan lahan masyarakat, pembantaian warga Palestina dari tahun 1948 hingga sekarang?
  13. Siapa pelaku dan pendukung krisis dibeberapa negara dengan cara membuat nilai dollar (dengan cara licik) menjadi tinggi hingga negara tersebut tidak sanggup membayar utang dollar dan harus menjual berbagai asetnya?
  14. Siapa pelaku yang selalu menghina dan melecehkan sebuah ajaran agama baik dengan menghina tokoh agamanya atau membakar kitabnya?

 

Dari 14 pertanyaan tersebut sama sekali bukan negara Islam maupun orang Islam yang melakukanya.

Silahkan dijawab

Apakah Ahok Menista Agama? Ini Penjelasan Ketum PBNU

Apakah Ahok Menista Agama? Ini Penjelasan Ketum PBNU

Fathoni, NU Online | Rabu, 02 November 2016 23:02

Jakarta, NU Online

Kisruh atas kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menista agama oleh sebagian kelompok menjadi bola liar dan makin tak terkendali. Hal inilah yang dituntut oleh kelompok tersebut melalui demo 14 Oktober 2016 lalu dan 4 November 2016 mendatang untuk melontarkan berbagai tuntutan terhadap Ahok.


Lalu seperti apakah yang disebut penistaan agama itu? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa penistaan agama selain ucapan, juga tindakan atau perilaku.


“Demi Allah, apa yang dilakukan oleh ISIS adalah penistaan agama. Membunuh orang seenaknya atas nama agama Islam, penistaan agama Islam itu,” jelas Kiai Said saat menjadi Narasumber dalam Program Live Mata Najwa di Metro TV bertema Menjaga Kebhinnekaan, Rabu (2/11) malam.


Sebab itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini menegaskan, penistaan agama bukan hanya verbal atau ucapan tetapi juga tindakan. 


“Perbuatan yang bertentangan dengan agama kemudian mengatasnamakan agama, itu penistaan agama,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.


Lalu, apakah yang dilakukan oleh Ahok tergolong penistaan agama? Begitulah lontaran pertanyaan Najwa Shihab kepada Kiai Said. Kemudian Kiai asal Kempek Cirebon ini menerangkan, bahwa menurutnya, ucapan Ahok telah menyinggung perasaan, khususnya umat Islam.


“Kalau keputusan bahwa kasus Pak Ahok penistaan agama atau tidak, itu urusan Bareskrim, prosesnya ada di kepolisian,” tuturnya.


Dalam program Mata Najwa tersebut, hadir sebagai narasumber Direktur Eksekutif The Wahid Institute Yenny Wahid, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. 


Semua narasumber sepakat bahwa demo sebagai wadah aspirasi dipersilakan. Tetapi dalam kasus Ahok ini, mereka tidak menampik kemungkinan bahwa demo tersebut bisa saja ditumpangi oleh kelompok-kelompok yang bertujuan memecah belah bangsa.


“Kalau saya lihat, demo ini terpicu oleh beberapa hal, pertama kelompok yang memang dari awal tidak suka terhadap gaya bicara Basuki Tjahaja Purnama; kedua, kelompok yang terprovokasi atas nama penistaan agama; dan ketiga, kelompok yang mempunyai agenda Khilafah,” ungkap Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam kesempatan yang sama. 


Oleh sebab itu, Kapolri, Panglima TNI, dan Ormas Islam penegak NKRI tidak akan memberikan toleransi kepada siapa saja yang bertujuan memecah belah keutuhan bangsa Indonesia. (Fathoni)

Kemana perginya subsidi kami

mufti-perlis-dr-asri-maza


Please Share Facebook

0


Please Share Twitter


Please Share Whatsapp

oleh Dr Mohd Asri Zainul Abidin 

kalian rampas subsidi kami, entah ke mana dibawa lari

kalian beritahu, wang mesti dicatu, kita menuju maju…

kalian kata: jika tidak, semua menderita, habis harta negara…

kalian berbahasa: bukan barang naik harga, cuma subsidi turun sahaja…

Advertisements 

kami orang desa, mungkin tidak pandai kira berjuta-juta…

kami orang kecil kota, mungkin tiada sedemikian harta…

jika kalian tipu sebegitu, biasanya kami diam selalu…

tapi dapatkah kami dibohongi, tentang suapan saban hari?

apalah yang dapat diberitahu anak ke sekolah?

papa semakin parah? wang semakin lelah?

jika semalam berlauk, hari cuma berkuah…

kerana kerajaan kita sedang susah?

maka subsidi kita terpaksa diserah…

jika semalam kau makan sepinggan, hari ini saparuh

kerana barang makin angkuh, wang papa makin rapuh…

apa yang dapat dibisik pada anak berkopiah ke madrasah?

makananmu sayang, sebahagiannya sudah hilang…

jika mereka bertanya siapa yang bawa lari

kepada siapa patut kami tuding jari?

janganlah nanti mereka membenci pertiwi…

akibat pencuri harta bumi rakyat marhaen ini..

atau kami jadi insan curang…

kami beritahu; cuma subsidi sahaja yang kurang?

tiada apa yang hilang, nanti akan datang wang melayang…

dengar sini wahai yang tidak memijak bumi!

pernahkah kalian mengintipi kehidupan kami…

pernahkah kalian ngerti makna derita dan susah hati…

kami yang semput bagai melukut di kota kedekut

kami yang bekerja hingga senja di desa yang makin terseksa

bertarung nyawa dan masa, menghitung setiap belanja

pernahkah kau merasa?

rumah bocor yang lanjut usia…

baju dan kasut anak yang koyak

tinggal dalam rumah yang berasak-asak

siang kami sebak, malam kami sesak…

sedangkan kalian manusia angkasa…

istana permata dibina, kereta berjuta dirasa…

elaun di serata, dari isteri sehingga seluruh keluarga…

hidangan istimewa, konon meraya kemakmuran negara…

tapi kami masih di sini..di teratak ini…

dengan lauk semalam..

dengan hidangan yang tidak bertalam…

dengan rumah yang suram…

dengan wang yang hampir padam…

tiada istana lawa…tiada kereta berharga…

tiada layanan diraja..tiada baju bergaya

tiada kediaman menteri…tiada hidangan vip…

tiada persen di sana-sini…tiada bahagian anak dan bini…

tiba-tiba kalian kata: kamilah beban negara…

aduhai celaka bahasa yang kalian guna…

kalian yang belasah, kami yang bersalah…

kalian buat untung, hutang kami tanggung…

kalian mewah melimpah, kami susah parah

kalian hilangkan wang, poket kami yang terbang…

kalian bina istana, rumah kami jadi mangsa…

kalian makan isi, kami dijadikan abdi…

lantas, kalian rampas lagi subsidi…

ke mana wang itu pergi nanti?

jika kalian berhati suci, wajib mengganti buat kami…

jika tidak pun buat gula konon merbahaya

mengapa tidak beras diturun harga?

jika tidak untuk minyak kereta…

mengapa tambang tidak potong sahaja…

tapi entah berapa kali janji…

konon: nanti kami ganti, kami ganti, kami ganti…

hari demi hari, ceritanya pun tidak berbunyi lagi…

kami terus termanggu di sini…

kalian juga yang nikmati…

kami hanya menggigit jari…

kembalikanlah kepada kami harta negara…

jangan hanya kalian sahaja yang merasa…

kana-ana-ghoib-mimpi-penulis-islam-najib-umno

Thoha Putrajaya – Tentang Buta Kebenaran

Tidakkah engkau mahu mengawal diri dari murka Tuhan?

Demi umurmu (wahai Muhammad), sesungguhnya mereka membuta tuli dalam kemabukan maksiat mereka. – (Al-Hijr 15:72)

Dan sesiapa yang berada di dunia ini (dalam keadaan) buta (matahatinya), maka ia juga buta di akhirat dan lebih sesat lagi jalannya. – (Al-Israa’ 17:72)

“Dan sesiapa yang berpaling ingkar dari ingatan dan petunjukKu, maka sesungguhnya adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan himpunkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta”. – (Taha 20:124)

Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi supaya – dengan melihat kesan-kesan yang tersebut – mereka menjadi orang-orang yang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? (Tetapi kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada. – (Al-Hajj 22:46)

Mari kita kaji pernyataan Ahok…


 POLRI :                   

“Coba Kaji Lagi Pernyataan Ahok … !  Apa ada kata yang menyatakan Al-Qur’an berbohong atau Ulama berbohong … ?”

PERNYATAAN AHOK : 

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan, dibohongin pake surat Al-Maidah 51, macem-macem itu.”

Siapa yang dibohongi ?

BAPAK & IBU yaitu umat Islam yang hadir mendengarkan Ahok saat itu.

 Apa alat kebohongannya ?
AL-QUR’AN Surat Al-Maaidah ayat 51.

Siapa yang berbohong ?
Siapa saja ORANG yang menyampaikan ayat tersebut.

Siapa orang yang menyampaikan ayat tersebut ?
1. Rasulullah SAW       6. Ahli Fiqih
2. Shahabat                 7. Ulama
3. Tabi’in                    8. Da’i
4. Tabi’it Tabi’in           9. Guru Agama
5. Ahli Tafsir              10. Aktivis Islam

Jadi, mereka semua menurut pernyataan Ahok adalah PARA PEMBOHONG yang membohongiUMAT ISLAM dengan AYAT AL-QUR’AN. Dan mereka semua sudah berbuat MACEM-MACEM

“AHOK TELAH MENISTA ALLAH SWT & RASULNYA, JUGA MENODAI AL-QUR’AN, DAN MELECEHKAN SHAHABAT, TABI’IN, TABI’IT TABI’IN, PARA ULAMA & PARA DA’I, SERTA MENGHINA SELURUH UMAT ISLAM

​Usai Dipecat Dari Ketua Timses Ahjrot, Akhirnya Nusron Dipecat Dari Kepengurusanan PBNU

nusron-wahid

ISTIMEWA

Mengutip dari laman facebook Aswaja Garis Lurus oleh laman Eramuslim, mengabarkan bahwa Nusron Wahid telah dikeluarkan dari kepengurusan PBNU. Hal tersebut di ungkapkan oleh KH. Ma’ruf Amin saat menerima kunjungan Ulama Madura.

Namun hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari PBNU mengenai kabar pemecatan Nusron dari kepengurusan PBNU.

Berikut pernyataan lengkap yang dikutip melalui laman facebook Aswaja Garis Lurus.

ALHAMDULILLAH, NUSRON TELAH DIPECAT DARI KEPENGURUSAN PBNU

Dihadapan 20 ulama ketika KH. Ma’ruf Amin menerima kunjungan Ulama Madura, tanpa ditanya tentang Nusron, beliau menjelaskan bahwa Nusron telah dipecat dari kepengurusan PBNU.

ulama-nu-bertemu-mui

Sebelumnya, Nusron Wahid dikabarkan sempat mengunjungi rumah KH. Ma’ruf Amin, namun dalam kunjungan tersebut Nusron mengaku hanya untuk klarifikasi mengenai hal yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan di publik.

Beberapa waktu yang lalu, Nusron juga dipecat dari posisi sebagai Ketua Tim Sukses Ahok-Djarot (Anjrot) dan tidak ada pembelaan datang dari Ahok. Apes benar nasib Nusron ya?

Samakan’ Alquran dengan Puisi, Ini Surat Terbuka kepada Nusron

post-feature-imageAssalamualaikum Wr. Wb.

Surat Terbuka untuk saudara Nusron, 

Pengetahuan mengenai Ilmu agama Mungkin tidak Sebaik Anda,  Hafalan hadist dan Ayat Alquran saya mungkin tidak sebanyak Hafalan Anda, 

Setelah saya dengar dan lihat Perkataan Anda di ILC malam Ini kok saya merasa Anda menyamakan Ayat Suci Alquran Dengan Puisi. 

Benar anda bilang puisi YANG lebih tau makna nya adalah pembuat Puisi,  benar anda Bilang Ayat Alquran yang lebih tau Makna nya Hanya Allah SWT.  

NAMUN saya sebagai Seorang yang Menganut Agama Islam sangat mempercayai bahwa Kedudukan Ayat Suci Alquran itu lebih Tinggi dari sebuah PUISI. 

SAYA berharap anda banyak banyak Istigfar. 

Berikut saya lampirkan Hukum nya Mentafsirkan Alquran semoga Allah SWT memberikan Taufik pada Anda.

Salah satu lagi cara menafsirkan Al Qur’an yang keliru adalah menafsirkan Al Qur’an dengan logika, akal pikiran, tanpa ilmu.

Ibnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 11).

Dalam hadits disebutkan,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Masruq berkata,

اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله

“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 16. Disebutkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil dengan sanad yang shahih)

Asy Sya’bi mengatakan,

والله ما من آية إلا وقد سألت عنها، ولكنها الرواية عن الله عز وجل

“Demi Allah, tidaklah satu pun melainkan telah kutanyakan, namun (berhati-hatilah dalam menafsirkan ayat Al Qur’an), karena ayat tersebut adalah riwayat dari Allah.” (Idem. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, sanadnya shahih).

Ibrahim An Nakho’i berkata,

كان أصحابنا يتقون التفسير ويهابونه

“Para sahabat kami begitu takut ketika menafsirkan suatu ayat, kami ditakut-takuti ketika menafsirkan.” (Idem. Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil, Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, sanadnya shahih).

Cara Menafsirkan Al Qur’an yang Benar

Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al Qur’an sebagai berikut:

1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.

2- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.

3- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 5-16)

Hanya Allah yang memberi taufik.

Wassalam, [googleplus]

8 minit Bicara di ILC ini 8 kesalahan Nusron Wahid

Nusron Wahid

Meskipun dengan gaya Arogan mengklaim “saya sampaikan ini dengan kebenaran”, ternyata sejak awal bicara di ILC, banyak kesalahan dalam ucapan Nusron Wahid.

8 menit bicara, ternyata ada 8 kesalahan Nusron Wahid. Rata-rata ada satu kesalahan pada setiap menit.

1. Umat Islam Biasa Salah Paham atau Pahamnya Salah


Di awal paparannya, Nusron Wahid mengatakan: “Umat Islam ini memang biasa ramai. Ramainya umat Islam selalu disebabkan oleh dua hal; kalau nggak salah paham ya pahamnya salah”

Benarkah umat Islam biasa ramai dalam konotasi negatif? Dan ramainya karena salah paham atau pahamnya salah? Seakan-akan umat Islam jarang benar. 

Mari kembali membaca sejarah. Sejak zaman Rasulullah, umat Islam membalikkan kondisi zaman dari zaman jahiliyah menuju peradaban yang gemilang. Ketika Eropa masih mengalami masa kegelapan (dark age), umat Islam telah mencapai kemajuan dan kejayaan; mulai dari perekonomian hingga sains.

Di Indonesia, Islam masuk dan menyebar dengan cepat melalui dakwah damai Wali Songo. Bukan dibawa oleh penjajah dan tanpa kekerasan. Lalu ketika ada penjajahan, dengan diiringi takbir, umat Islam-lah yang mengusir penjajah. 

Hingga saat ini, kaum minoritas juga terlindungi oleh umat Islam di Indonesia. Berbeda jauh dengan negeri-negeri yang ketika umat Islam minoritas, lalu terzalimi seperti di Rohingya.

2. Teks apa pun bebas tafsir


Selanjutnya Nusron Wahid mengatakan: “Saya ingin menegaskan di sini, yang namanya teks apapun itu bebas tafsir. Bebas makna. Yang namanya Al Quran yang paling sah untuk menafsirkan, yang paling tahu tentang Al Quran itu sendiri adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan Majelis Ulama Indonesia.”

Teks apa pun bebas tafsir? Lalu yang dimaksud adalah, Al Quran bebas tafsir sehingga siapa pun bebas menafsirkannya karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya?

Justru karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya, maka Al Quran tidak bebas tafsir dan tidak bebas makna. Tetapi tafsirnya harus sesuai dengan firman Allah (Al Quran) dan sabda Rasulullah (hadits). Dan yang paling tahu tentang Al Quran dan hadits adalah para ulama. Bukan sembarang orang. Dan karenanya ada syarat yang berat bagi seseorang (ulama) yang ingin menjadi mufassir Al Quran. 

Tidak lantas dengan alasan bebas tafsir siapapun boleh menafsirkan lalu tidak ada benar dan salah. Sampai-sampai Ibnu Katsir mencantumkan hadits ini di muqaddimah tafsirnya:

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ


“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka”(HR. Tirmidzi)

3. MUI harus tabayun dengan memanggil Ahok


Nusron Wahid dengan melotot menyebut MUI harusnya tabayun dengan memanggil Ahok sebelum mengeluarkan sikap resmi. (Baca: MUI Keluarkan Sikap Resmi Soal Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51)

Benarkah setiap non muslim yang melecehkan Islam harus ditanya apa maksud sesungguhnya ketika dia mengucapkan kata-kata itu? Ternyata tidak. Ketika Abu Lahab melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Rasulullah, Allah tidak memerintahkan Rasulullah memanggilnya untuk tabayun. Namun Allah langsung menurunkan surat Al Lahab.

Ketika orang-orang Yahudi di Madinah berkhianat, mereka juga tidak dipanggil oleh Rasulullah untuk ditanya apakah maksud mereka berkhianat. Karena tentu mereka akan mengelak.






4. Yalunahum yalunahum yalunahum yalunahum


Nusron Wahid mengatakan: “Untuk membuktikan apa yang saya sampaikan, saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan, khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum yalunahum yalunahum yalunahum.”

Nusron Wahid mengatakan itu dengan maksud menunjukkan bahwa di zaman khalifah Abbasiyah ada gubernur non muslim dan ia mengklaim zaman itu zaman terbaik.

Adakah hadits seperti yang disebutkan Nusron Wahid itu? Yang adalah “khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum” menunjukkan bahwa sebaik-baik masa adalah masa Rasulullah (sahabat), kemudian masa tabi’in dan kemudian masa tabi’ut tabi’in.

5. Gubernur non muslim pada masa Abbasiyah


Nusron Wahid menceritakan bahwa pada masa Abbasiyah, Khalifah ke-16 Al Mu’tadid Billah menunjuk non muslim (Kristen) bernama Umar bin Yusuf menjadi Gubernur di Irak. Dengan contoh ini, Nusron ingin menunjukkan bahwa boleh memilih gubernur non muslim.

“Apakah di waktu itu tidak ada Surat Al Maidah 51? Apakah pada masa itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al Maidah? Mohon maaf, apakah ulama-ulama yang pada masa itu, kalah shalih kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?” kata Nusron sambil melotot.

Mestinya, jika Nusron Wahid konsisten dengan hadits yang ia kutip (khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum), cukuplah itu menjadi jawaban. Bukankah Umar bin Khattab pernah menyuruh Abu Musa Al Asy’ari memecat sekretarisnya karena ia Nasrani lalu Umar membaca Surat Al Maidah ayat 51? Lalu kisah pemecatan ini diabadikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Mana yang lebih baik, masa Umar yang merupakan masa sahabat atau masa daulah Abbasiyah? Jika Nusron Wahid konsisten, jawaban atas pertanyaan ini akan membuatnya malu untuk berteriak-teriak di depan ulama.

6. Syariat Islam dihormati dalam ranah privat


Apakah pernyataan bahwa syariat Islam harus dihormati dalam ranah privat bukan merupakan bagian dari propaganda sekulerisme? Bukankah dalam ranah publik pun syariat Islam juga harus dihormati?

Kalaupun benar syariat Islam harus dihormati (hanya) dalam ranah privat, mengapa Nusron Wahid mempersoalkan orang yang tidak memilih Ahok dengan alasan Surat Al Maidah ayat 51? Bukankah itu privasi orang tersebut?

7. Ayat Al Maidah tidak ada kaitannya dengan politik


Nusron Wahid mengatakan, “Ayat Al Maidah (51) tidak ada kaitannya dengan politik”

Apakah kaitannya dengan ekonomi? He he

8. Al Maidah 51 multi tafsir


Nusron Wahid mengatakan, “Al Maidah 51 multi tafsir”

Cobalah buka tafsir-tafsir yang menjadi rujukan umat Islam? Mulai dari Ibnu Katsir, Ath Thabari, Al Maraghi, hingga Fi Zhilalil Quran dan Tafsir Al Azhar. Di manakah letak multi tafsirnya? [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Mapim: Cukuplah ribuan pelacur banjiri KL

ULASAN Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (Mapim) mengingatkan pihak berkuasa Kuala Lumpur (KL) tidak menjadikan bandar raya KL menjadi bandar yang dikenali sebagai bandar raya maksiat.

Cukup dengan ribuan bilangan pelacur dari luar negara yang kini membanjiri KL dan bandar-bandar utama dalam negara, membuka ruang pemilik lesen rumah urut akan menambahkan masalah yang sedia ada.

Malaysia kini menduduki tangga ke-8 di dunia dalam nisbah pelacur iaitu 52 orang pelacur bagi setiap 10,000 penduduk berbanding Thailand yang menduduki tangga ke-10 iaitu 45 orang pelacur setiap 10,000 penduduk.

Industri pelacuran di Malaysia sudah mencecah nilai lebih RM3.6 bilion.

Melihat kepada operasi pusat urut dan pusat hiburan yang bercambah di sekitar KL bermakna KL berpotensi menjadi pusat pelacuran Asia, jika ruang dan peluang dibuka untuk beroperasi secara berlesen.

Kami membantah keras Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) membuka semula permohonan lesen baharu rumah urut sekitar ibu kota.

Soalnya, apakah keperluan rumah urut dibiar bercambah sedangkan pihak berkuasa gagal melaksanakan penguatkuasaan sehingga ratusan rumah urut yang sedia ada cenderung untuk menawar khidmat seksual yang menyalahi undang-undang.

Pihak berkuasa tidak harus hanya memikirkan soal permintaan sedangkan pemantauan dan penguatkuasaan mana-mana pihak yang menyalah guna lesen ternyata gagal dilaksanakan dengan berkesan.

Kami amat khuatir dengan percambahan pusat-pusat urut di kota raya dan bandar-bandar utama di negara ini ia akan membuka peluang untuk kegiatan maksiat dilakukan oleh pihak yang mengambil kesempatan.

Adalah lebih wajar rumah urut yang sedia ada dipantau dan dikawal sebelum memikirkan untuk membuka permohonan lesen baharu yang akhirnya tidak mampu dikawal selia oleh pihak berkuasa.


MOHD AZMI ABDUL HAMID presiden Majlis Perunding Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM). Artikel ini dimuatkan kali pertama diHarakahdaily dengan tajuk “Jangan jadikan Kuala Lumpur bandar maksiat”.

Rakyat tunggu suata Ulama

Mohamad Sabu

Mohamad Sabu

SHAH ALAM – Rakyat menantikan suara daripada ulama untuk menentang amalan rasuah yang dilakukan pemimpin.

Presiden Parti Amanah Negara (Amanah), Mohamad Sabu berkata,  ulama hari ini lebih gemar menghukum kumpulan tidak sealiran sebagai munafik, liberal dan pengkhianat.

“Umat Islam perlu orang seperti Imam Nawawi untuk muncul menegur, mengkritik dan menentang pemerintah yang mengenakan cukai kepada rakyat yang berlebihan.

“Umat Islam memerlukan orang seperti Tuan Guru Abdul Rahman Limbong yang menentang British dan mengkritik percukaian yang dikenakan terhadap penduduk di Terengganu masa itu,” katanya dalam kenyataan, semalam.

Katanya, negara-negara luar mempermainkan imej negara dengan menggelar Malaysia sebagai kleptokrasi.

“Singapura, Luxembourg, Hong Kong, England dan negara-negara lain mempermainkan imej Malaysia dengan begitu teruk sekali,” katanya.

Jelasnya, penentangan rakyat hari ini terhadap rasuah dan penyelewengan agak rendah.

“Rasuah dan penyalahgunaan kuasa di negara ini semakin berleluasa sementara tindakan itu pula seperti diizinkan dan menjadi perkara biasa.

“Menjelmalah orang seperti ini (ulama) untuk jadi ikutan rakyat supaya kita dapat menentang korupsi. Kami dahagakan ulama seperti itu, bukan ulama yang menghukum seperti sekarang ini,” katanya.