​Imam Kaum Sufi Di Hadramaut

rumah_fm

Dalam perjalanan sirah kali ini, kami mengajak pembaca untuk mengenal dan memahami lebih jauh riwayat hidup, seorang guru dari segalah guru  Ahli Syari’ah dan Thariqah. Imam bagi Ahli Hakekat. Ulama yang tiada bandingan bagi Imam Al-Ghazali dizamannya. Pemimpin dua golongan, Figh dan Tasawuf. Pemimpin para kaum Sufi. Sumber ke-Walian yang berasal dari Allah SWT. Panutan bagi seluruh Ulama Ahli Al-Hakekat, Mahkota kepemimpinan kaum  Al-‘Arifin, beliau adalah Sayyidina Al-Ustadz Al-A’zham Al-Qutb Al-Ghauts Al-Karam Al faqih Al-Muqaddam “Abu Alwi” Muhammad bin Ali Ba’alawi RA, yang kami kutib dari Managib Sayyidina Al-Ustadz Al-A’zham Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali RA, karya As-Sayyid Muhammad Rafiq Al-Kaff Gathmyr.

Beliau dilahirkan pada tahun 574 H atau 1176 M. di Tarim, Hadhramaut Yaman Selatan, yang merupakan satu kota kecil yang dipenuhi keberkahan dari Allah SWT, makmur dengan orang-orang sholeh, ulama dan wali Allah.

Sayyidina Al-faqih Al-Muqaddam RA, dibesarkan dalam lingkungan kaum sholihin. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW, dari Sayyidinah Al-Husain Ra, nasab beliau ini bukan sekedar tali keturunan belaka, tapi sekaligus juga sebagai mata rantai dari thariqah Bani Alawi, yakni nara sumber yang diterima anak dari ayah dan terus ke kakek-kakekya.

Silsilah nasab beliau adalah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Muhammad shohib Marbath bin Ali Khali’ bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Jakfar As-Shodiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain As-Sibti bin Al-Imam Ali Karromallahuwajhah.

Tokoh-tokoh yang ada dalam rantai nasab beliau, dari ayahandanya sampai Sayyidina Al-Imam Husain RA, semuanya adalah para wali Allah dan Ulama terbesar di zamannya dan mereka semua adalah Zuriyah  Rasulullah SAW.

Adapun istri Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam adalah seorang Syarifah yang mulia dan sholehah sepupu beliau dari sebelah ayah yaitu, Ummul Fuqara (ibunda kaum fakir miskin)  Al-Hababah Zainab.

Beliau seorang  Waliyah (wali Allah dari kaum wanita) yang mempunyai banyak kekeramatan, diiwayatkan bahwa satu malam turun hujan yang sangat lebat di Dammun yang hapir-hampir membuat panik dan merasa sangat cemas karena hujan yant sangat derasnya. Hal ini memungkinkan rumah-rumah mereka mudah roboh (umumnya rumah didaerah tersebut dibuat dari tanah liat, di karenakan musim hujan sangat jarang, hal ini menjadikan rumah mereka sangatlah rentan terhadap air). Pada saat itu Al-Hababah Zainab meminta kepada para penduduk untuk tidak meninggalkan rumah mereka, beliau berkata, “Pulanglah kalian kerumah masing-masing karena aku telah mendengar suara Malaikat di awan berkata, Qaydhun….Qaydhun.”. Lalu para penduduk pulang ke rumah masing-masing, tak lama berselang ternyata yang tertimpa bajir adalah Wadi Qaydhun, persis dengan apa yang dikatakan Al-Hababah Zainab. Padalal jarak Qaydhun dari Dammun ditempuh dalam tiga hari perjalanan. Al-Hababah akhirnya berpulang ke Rahmat Allah pada hari Sabtu., tanggal 12 Syawal 669 H.

Hanya dari Al-Hababah Zainab R.anha, Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA, mendapatkan anak-anak yang menjadi pengayom ummat dan ulama terbesar, wali Allah yang utama penerus dan pengganti ayahanda, mereka 5 laki-laki bersaudara, yaitu, As-Syech ‘Alwi Al-Ghuyur, As-Syech Abdullah, As-Syech Abdurrahman, As-Syech ‘Ali, As-Syech Ahmad.

Al-Faqih Al-Muqaddam RA, dididik oleh para ulama yang terkemuka dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Figh, Lughah, Tasawuf, dan berbagai ilmu-ilmu lainnya yang beliau pelajari langsung dari para ahlinya masing-masing.

Beliau memperdalam ilmu Figh kepada, As-Syech Abdullah bin Abdurrahman Ba’ubayd, yang selalu menghormati dan memuliakannya, sekalipun dia adalah muridnya. Gurunya ini tidak akan mengajar sebelum melihat Sayyidina Al-Faqih telah hadir di majlisnya, bilamana beliau tidak dating, beliaupun tidak akan mengajar. Prilaku beliau yang tidak lazim ini banyak ditanyakan orang, As-Syech menjelaskan, “Sesungguhnya aku menunggu izin untuk mengajar dari Alah SWT.”

Jawaban beliau ini mengisyaratkan betapa mulianya  derajad Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA. Dalam pandangan beliau karena “Izin” dari Allah SWT, tak pelak lagi adalah “mesti hadirnya” muridnya yang satu ini.

Selain As-Syech Abdullah Ba’ubayd Sayyidina Al-Faqih juga memperdalam ilmu Figh kepada, Al-Qodhy Ahmad bin Muhammad Ba’isa, beliau juga  memperdalam ilmu Ushul serta beberapa disiplin ilmu lainnya kepada Al-Imam As-Syech Ali bin Ahmad bin salim Bamarwan (murid dari Al-Imam Muhammad Shohib Marbath Ra), juga  kepada Al-Imam Muhammad bin Abu Al-Hub.

Ilmu Tafsir dan Hadist beliau perdalam kepada Al-Imam Al-Hafidz Al-Mujtahid As-Sayyid Ali bin Ahmad Bajudaid. Ilmu Tasawwuf dan Hakekat dari Al-Imam Salim bin Basri dan Al-Imam Muhammad bin Ali A-khatib (paman beliau sendiri), dan masih banyak lagi para ulama dan auliya’ yang telah membimbingnya.

Seluruh gurunya sama-sama mengisyaratkan bahwa Al-Faqih Al-Muqaddam RA, telah mencapai satu maqam (kedudukan di sisi Allah) yang sangat luar biasa, sehingga membuat kecil maqam-maqam lainnya bila dibandingkan dengan maqam yang telah diberikan Allah  SWT  kepada beliau.

Pada masa Sayyidiana Al-Faqih RA, ilmu yang sedang berkembang pesat di Tarim Hadhramaut adalah ilmu Figh, jadi kebanyakkan para ulama disana adalah para Faqih (ahli figh), sedangkan ilmu tasawwuf kala itu, belum berkembang pesat, kelak pada akhirnya nanti Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA sendiri yang mempelopori dan menghidupkan serta sekaligus menjadi imam yang pertama kalinya, bagi kaum Mutasawwifin di Tarim. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Atas, yang mengatakan : “Beliaulah orang yang pertama yang menyandang gelar Syech bagi kaum Sufi di Hadhramaut.”

Sesungguhnya gelar kewalian yang khusus dan luar biasa itu beliau dapatkan dengan menempuh berbagai macam tingkatan dan kedudukan dengan segala usaha yang beliau jalani. Hal itu dimulai dengan diterimanya Khirqoh, menurut As-Syech Muhyiddin Ibn Al-’Araby Ra. di dalam kitabnya “ Al- Futuhat”, khirqoh adalah : “Perlambang dari persahabatan, Ta’ addub dan Takhalluq”,  Qoul ini dikomentari oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Athas RA. : ” Sedangkan (kain) Khirqahnya sendiri (secara Majazi) terkadang tidak mesti dari Rasulullah SAW secara langsung, Al-Libas (Baju kesufian) itu sendiri sebenarnya adalah simbul dari Al-Libas yang hakiki yaitu Al-Libas At-Taqwa, telah menjadi kebiasaan dari para Wali Ash-Hab Al-Ahwal, bilamana mereka mendapati kekurangan pada diri mereka maka merekapun akan mencari seorang guru atau Syech dari Jama’ah mereka untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan Lahiriyah maupun Bathiniyah pada diri mereka, dan bilamana segala kekurangan tersebut telah sempurna, maka merekapun diberikan “Al-Libas” sebagai simbol untuk penyempurnaaan lebih lanjut, inilah Al-Libas yang dikenal dikalangan kita sebagaimana Nash Al-Manqul dari para Ulama’-ulama’ Ahli Haqeqat”

Khirqah para Wali mempunyai nilai prestise tinggi bagi masing-masing Wali yang bersangkutan, begitu pula Al-Khirqah Sayyidina Al-Faqih Al- Muqaddam RA mempunyai satu keistimewaan yang telah melampaui dimensi pemikiran orang-orang yang dikatakan oleh kaum Sufi sebagai “Ahli Al-Khawwash”.  Khirqah yang beliau terima adalah Khirqah“Imamah Quth Al- Kubra” yang merupakan perlambang dari“pangkat kepemimpinan tertinggi bagi para Wali dimasa itu”. Khirqah ini beliau terima sesuai dengan Isyarah dari Ri’ayah Ilahiyah dari As-Syech Al-Kabir Al-Qutb Al-Syahir “Abu Madyan” Syu’aib bin Abu Al-Husain At-Tilamisany Al-Maghriby.

Mengenai kebesaran serta keutamaan As-Syech Abu Madyan, berdasarkan perkataan As-Syech Ali As-Sakran : “As-Syech Abu Madyan adalah seorang “Pemimpin” para wali pada zamannya yang telah dizhohirkan oleh Allah SWT pada dirinya keajaiban-keajaiban sebagai tanda kebesaran-Nya, dan telah tersibak baginya rahasia-rahasia keghaiban dan namanya telah termasyhur di seluruh penjuru Negeri”. Dari Tarbiyah beliau, telah banyak lahir ulama-ulama besar, namanya sangat termasyhur dengan ketinggian ilmunya sehingga banyak tokoh-tokoh Tasawwuf terkemuka yang meminta pengajaran dan fatwa-fatwanya. Beliau sangat disegani dikalangan para Ulama’ dan Masyaikh-masyaikh dari seluruh Mazhab Thariqah.

Berkaitan mengenai Riwayat Khirqah Sayyidina Al-Faqih, diceritakan bahwa telah datang seorang Darwiys (para pengikut Thariqah Maulawiyah atau Darwisyiyah, Thariqah ini bersumber kepada As-Syech Jalaluddin Rumi) dari Syam (Syria) yang bernama Fadl menemui Sayyidina Al-Faqih Ra, Darwisy itu berkata :“Tidaklah aku datang (ke Tarim) kecuali semata-mata untuk menemuimu, tetapi aku mendapati As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad, sedang bermukim di dalam hatimu. Jika berkumpul seluruh orang dari barat dan Timur untuk mengeluarkan dia dari hatimu maka tidak akan ada yang sanggup, bilamana ia telah datang kepadamu, perhatikanlah urusannya., ia hanyalah seorang Muhtasab sedangkan engkau adalah seorang wali yang telah mempunyai nisbah”. Sayyidina Al- Faqih Al-Muqaddam bertanya : “Apakah yang engkau maksud dengan nisbah?” Darwisy tersebut menjawab : “Sidrah Al-Muntaha”.

Tak lama berselang setelah peristiwa datangnya Darwisy tersebut, dengan Qudrah dan Iradah Allah SWT, As-Syech Al- Kabir Al-Qutb Abu Madyan Syu’aib bin Abu Hasan At-Tilmisaniy Al-Maghriby yang pada saat itu sedang berada di Tilmisan Al-Jazair mengutus muridnya yang bernama As-Syech Abdurrahman bin Muhammad Al- Maq’ad seraya bertitah :“Sesungguhnya kami mempunyai seorang teman di Hadhramaut (Tarim), pergilah engkau menemuinya, dan pakaikanlah Al-Khirqah kepadanya, sesungguhnya aku melihatmu akan menemui ajal di tengah perjalanan, bilamana hal tersebut akan terjadi, maka titipkanlah (Al-Khirqah) ini kepada orang yang engkau percayai”.

Kemudian As-Syech Abdurrahman pergi dari Tilmasan ke Hadramaut, ketika ia sampai di kota Mekkah ia pun mendekati Sakratul maut kemudian ia menyerahkan Khirqah tadi kepada muridnya yaitu As-Syech Abdullah As-Sholeh Al-Maghriby (seorang putra dari Sulthan Maghriby (Maroko) yang telah meninggalkan jalan keduniawian) seraya berpesan untuk menyerahkan Al-Khirqah itu, dan beliau mengisyaratkan dengan ke-kasyafannya “Pada saat engkau masuk ke kota Tarim engkau akan mendapati As-Syech As-Syarif Muhammad bin Ali yang pada saat engkau temui nanti, dikala itu sedang belajar dengan As-Syech Ali Bamarwan, setelah engkau bertemu dengan beliau, lanjutkanlah perjalananmu ke Quydun dan temui As-Syech Sa’id bin Isa Al-‘Am udy dan berikanlah juga sebagian Khirqah ini kepadanya”.

Tak lama kemudian As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad wafat (As-Syech Abdurrahman Al-Khatib meriwayatkan dalam Kitab beliau ; Al-Jauhar As-Syafaf bahwa Sayyidina Al-Faqih RA telah banyak diisyaratkan oleh para Masyaikh bahwa Futuh beliau ada bersama As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad yang pada saat itu berada di Makkah lalu beliaupun berangkat menuju Mekkah tetapi ditengah jalan beliau mendapatkan khabar bahwa As-Syech Abdurrahman telah Wafat, kembali beliau ke Tarim), lalu pergilah As-Syech Abdullah As-Sholeh Al-Maghriby ke Tarim, ketika beliau sampai, ia pun langsung menemui Sayyidina Al-Faqih Muqaddam yang sedang belajar dengan As-Syech Ali Bamarwan persis seperti yang telah dikatakan oleh As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad. Ia pun lalu duduk bersama Sayyidina Al-Faqih Al-Maqaddam, lalu Sayyidina Al-Faqih (yang telah mengetahui akan kabarnya As-Syech Abdurrahman Al-Maq’ad dari Darwisy tadi) dengan kekasyafan kewalian, bertanya kepada As-Syech Abdurrahman As-Sholeh dengan bahasa Isyarah : “Wahai saudara, permata apakah yang engkau bawa yang sedemikian cemerlangnya?”

 As-Syech Abdullah As-Sholeh lalu bertanya (untuk menguji) : “Apakah gerangan yang engkau maksud dengan cemerlang?”Al-Faqih   Al-Muqaddam menjawab; “At-Tahkim Khirqah yang telah dititipkan kepadamu”

Lalu As-Syech Abdullah menceritakan perihal kedatangannya, dari awal sampai akhir lalu titipan “Khirqah” tersebut disambut dan diterima oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam. Semenjak itu dimulailah perjalanan suluk beliau menuju Allah SWT, sibuk dengan Ibadah Dhohiriyah dan Batiniyah sehingga akhirnya nampaklah seluruh perkara yang Khafiy, dan mulailah Hal (keadaan atau kondisi para Wali2 Allah yang kondisikan Allah SWT dengan segala keistimewaan yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka) beliau sebagai ahwal-nyaorang-orangKhawas Al- Khawas, sebagai seorang Sufi dan Wali yang terbesar pada zamannya. Beliau pun mulai menyibukkan diri dengan ber-Taqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah SWT dalam ber-Uzlah (mengasingkan diri), guna menenggelamkan dirinya dalam lautan Ma’rifah dan Asrar-Nya yang tak bertepi, dalam Ahwal ‘Asyiq Wal Ma’syuq dengan Rabb nya.

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA mempunyaiThakhshish Maziyyah Wal Fadhail (keistimewaan-keistimewaan khusus yang diberikan Allah SWT) kepadanya selaku Khawas Al-Khawas (Hamba-hamba Allah yang telah mencapai puncak derajat Kekhususan). “Maqam kewilayahan” yang diberikan Allah SWT kepada beliau telah menjadi satu fenomena yang menakjubkan dalam analisa para Wali pada zamannya.

Para kaum Al-Arifin berkata : “Sungguh telah membuat tercengang dan kagum para pemuka kaum Sufi dan para Wali pada zamannya akan Ahwal-nya As-Syech Al-Faqih, dan mereka semua tidak bisa menafsirkannya dengan penafsiran yang sempurna dikarenakan melampaui pengetahuan mereka”

Diceritakan bahwa As-Syech Al-Kabir Ibrahim bin Yahya Bafadhal (murid beliau)karena didorong oleh rasa penasarannya, ia berkeinginan menemui As-Syech Abu Al-Ghayst Ibnu Jamil, untuk menanyakan hal (keadaan) tiga orang yang pada saat itu mulai dikenal dikalangan masyarakat Hadhramaut, yaitu Sayyidina Al-Faqih, As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair dan satu orang lagi tidak diketahui namanya.

Ia berkisah bahwa :“Ketika aku telah sampai akupun duduk dibelakang, dan tanpa kusadari aku bergumam didalam hatiku : “ Sungguh tidaklah aku datang dari Hadhramaut kesini hanyalah semata-mata menanyakan perihal tiga orang ini ” Maka belumlah habis aku berkata didalam hati, As-Syech Abu Al-Ghayst telah mengetahui tujuan kedatanganku, beliau berdiri dan berkata :

“ Siapakah diantara yang hadir bernama As-Syech Ibrahim? ”,

Lalu akupun mendatanginya

Dengan ketajaman Firasah dan Kekasyafannya,  beliaut memberitahukan apa yang ingin saya tanyakan ;

        “Wahai Syech Ibrahim sesungguhnya engkau mendatangiku untuk menanyakan perihal As-Syech Muhammad bin Ali bukan?, As-Syech Abdullah Baqusyair dan lelaki yang tidak dikenal namanya?

As-Syech Ibrahim menjawab :

 “Benar”

As-Syech Abu Al-Ghayst meneruskan

“Aku akan memjelaskan kepadamu perihal mereka bertiga, yang pertama, Sayyidina Al-Faqih RA ,tidaklah golongan kami (para Sufi dan Wali) dapat mencapai derajat beliau walaupun hanya setengahnya, adapun As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair adalah seorang yang Sholeh, adapun orang yang satunya lagi  “berkelakuan tidak baik” dalam kisah ini disebutkan dalam Al-Jauhar As-syafaf adalah orang yang memelihara jin  yang bisa disuruhnya membunuh orang-orang yang menjelek-jelekkan namanya) adalah orang yang kupandang tidak mempunyai kelakuan yang baik”

Diriwayatkan bahwa As-Syech Alwi anak Sayyidina Al-Faqih Ra bertemu kepada AS-Syech Ahmad bin Al-Ja’ad Ra, AS-Syech Ahmad berkata kepada As-Syech Alwi :

“Apakah engkau “Alwi” yang sering disebut-sebut orang itu?

Jawab As-Syech Alwi :

“Benar aku adalah Alwi dan semoga aku dilindungi oleh Allah SWT dari jahatnya pengaruh orang-orang”

As-Syech Ahmad bertanya lagi kepada As-Syech Alwi :

“Bagaimana pendapatmu tentang Maqam ayahmu Sayyidina Al-Faqih Ra ?

“Aku telah mengetahui keagungan Maqam ayahku tapi sulit bagiku untuk menjabarkannya”.

Menurut Al-Iman Al-Habib Muhammad bin Husin Al-Habsyi dalam Kitab beliau; “ Al-‘Uqud Al- Lukluiyah “  beliau mengatakan : “Sesungguhnya kepemimpinan para Wali diserahkan dari As-Syech Abdul Qodir Al-Jailany kepada As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby yang akhirnya diserahkan kepada Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA.

Sebagian para pemuka Tasawwuf berpendapat bahwa As-Syech Abdul Qodir Al-Jailany adalah pemimpin para Wali Masyhur sedangkan Sulthan para Wali Mastur adalah Al-Faqih Al-Muqaddam , sedangkan perbandingan jarak derajat masyhur dan mastur tersirat dalam satu Qoul Tasawwuf : “Sesungguhnya sudah beberapa banyak orang telah masyhur menjadi para wali hanya karena berkah dari satu wali mastur”.

Telah ditanya Al-Imam Al-Haddad RA (Shohib Ar-Ratib) oleh kalangan Ulama’ mengenai Al-Imam Al-Qutb Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan Al-Imam Al-Qutb Ar-Rabbany As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany yang manakah diantara mereka yang lebih utama? Beliau berkomentar :“Sesungghnya mereka berdua adalah tokoh besar kaum sufi dan wali yang agung akan tetapi kami (Bani Alawi) bernisbah dan mendapatkan barokah dan Al-Maddad dari penghulu kami Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali lebih besar”.

As-Syech Muhyidin Ibn Al-Araby di dalam kitabnya Al-Futuhat mengatakan : Syech kami ; Abu Madyan di Maghriby (penjuru Barat) telah menghasilkan para wali dalam jumlah seribu orang di penjuru Barat sedang As-Syech Abdul Qadir Al- Jailany di Masyriq adalah imam para wali dan sufi di penjuru Timur, di dalam memberikan wejangan-wejangan bagi para murid dari kaum Thariqoh dan membimbing makhluk ke jalan Allah.

Beberapa kekeramatan Sayyidina Al Faqih Muqaddam RA sangatlah banyak diantaranya, diriwayatkan bahwa As-Syech Al-Kabir Al-Arifbillah Ta’ala Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ibad RA. datang ke Tarim sesudah wafatnya Sayyidina Al-Faqih RA untuk menengok anak-anak dan isteri beliau “Ummul Fuqara” Al-Hababah  Zainab R.anha. Tatkala As-Syech Abdullah telah bertemu dengan Al-Hababah Zainab beliau berkata : “Bagaimana keadaan kalian sepeninggal Sayyidina Al-Faqih Ra.?”. Al-Hababah Zainab R.Anha menjawab :“Keadaan kami sepeninggal Sayyidina Al-Faqih tidak ada bedanya dengan sebelum beliau (Sayyidina Al-Faqih Ra.) wafat, sedangkan keadaan Alwi bersama ayahnya sama sebagaimana pada waktu masa hidupnya. lImu dan Rahasia langit bagi kami seperti kami melihat Bumi mendatangi kami pada waktu siang dan malam.sedangkan Alwi datang kepadanya berselang sehari atau dua hari”.

Dikisahkan pula bahwa dalam usia remaja yaitu ketika beliau masih belajar di salah satu Majlis Ta’lim di Masjid Tarim, beliau tertidur pulas ketika telah masuk waktu sholat, padahal bilamana ada siswa yang meninggalkan sholat berjama’ah akan dihukum oleh gurunya, sampai akhirnya para siswa sudah bersiap-siap untuk sholat berjama’ah, Sayyidina Al-Faqih RA masih tertidur, ketika beliau bangun beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau ke sumur Masjid yang tiba-tiba air pun naik dengan seizing Allah SWT kemudian beliau berwudhu’ dan tidak ketinggalan sholat berjama’ah.

Berkata As-Syech Abdurrahman Al-Khatib Ra. di dalam kitabnya: “Al-Jauhar As-Syafaf”, dan beberapa para pemuka kaum Sufi meriwayatkan juga bahwa telah berkata As-Syech Abdurrahman bin Muhammad As-Segaff RA : “Pada suatu ketika Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali RA sedang berkumpul bersama para sahabatnya maka datanglah kepada mereka Abu Al-Abbas Nabi Allah Al-Khidhir As dalam rupa seorang Badwi, dan di atas kepalanya membawa Zabid maka tatkala ia mendekati Majlis, beliau mengambil Zabid tersebut dari kepalanya, dan Zabid tersebut dimakan oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam RA, kemudian Nabi Allah Khidhir As pergi, para sahabat Sayyidina Al-Faqih melihat kejadian ini, merasa heran dengan kelakuan beliau, lalu merekapun bertanya kepadanya; “Wahai Sayyidina Al-Faqih RA siapakah orang Badwi tersebut? ”Sayyidina Al-Faqih RA memberitahukan kepada mereka; “Badwi tersebut sebenarnya adalah Abu Al-Abbas Nabi Allah Khidhir As”.

Itulah sebagian kecil dari lautan samudra yang luas kisah perjalanan hidup beliau. Beliau  wafat pada malam Jum’at bulan Zulhijjah tahun 653 H, pada usia 79 tahun dan dikebumikan di pemakaman Zanbal.

Abdul Kadir Alhabsyi / Jakfar Assegaf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s