anggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno Hatta. Pernyataan kemerdekaan itu tidak langsung diterima dengan baik oleh semua pihak, terutama Belanda dengan gigih berusaha untuk kembali menguasai seluruh kepulauan Indonesia.

Belanda menyiarkan berita-berita melalui surat kabar dan radio, bahwa kedatangan mereka ke Indonesia bukan untuk berperang dan menjajah, tetapi menjaga keamanan yang diakibatkan perang Dunia II.

Satu-satunya daerah yang belum mereka kuasai saat itu adalah Aceh. Hal ini menjadi modal besar bagi Republik Indonesia yang berusia muda itu untuk mempertahankan kedaulatan kemerdekaannya. Belanda berkali-kali berusaha menghancurkan perlawanan rakyat Indonesia di daerah Aceh dengan pendaratan pasukannya yang selalu dapat digagalkan.

Rakyat Aceh mengumpulkan dana setara 20 kilogram emas untuk membeli dua pesawat untuk Indonesia, Seulawah 001 dan Seulawah 002. Namun yang terbeli hanya satu, Seulawah 001 (sekarang telah menjadi maskapai penerbangan terbesar di Indonesia, yaitu Garuda Indonesia). Sampai sekarang, sisa dana sumbangan rakyat Aceh itu tak ada yang tahu jantrungannya.

Pada awal Desember 1948 pesawat RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kuta Raja. Tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India untuk menyatakan Indonesia sudah menjadi negara merdeka.

“Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan syariat Islam. Apakah Kakak masih ragu?”

Hal itu diucapkan oleh Soekarno sambil terisak di bahu seseorang yang ia panggil Kakak. Yang dipanggil dengan sebutan Kakak oleh Presiden pertama RI tidak lain adalah Teungku Daud Beureueh.

Soekarno yang memang orator ulung, akhirnya luluh juga hati Daud Beureueh. Apalagi ditambah “bumbu pemanis” dengan mengisak di pundaknya Daud Beureueh pun terbuai dengan janji manis Soekarno.

Soekarno mengucapkan janjinya

untuk meyakinkan Daud Beureueh, bahwa jika Aceh bersedia membantu perjuangan kemerdekaan, syariat Islam akan diterapkan di Tanah Rencong. Setelah sandiwara tangis Soekarno itu, Daud Beureueh pun menerima permintaan Soekarno, tanpa ada perjanjian hitam di atas putih yang sebelumnya sudah diminta oleh Daud Beureueh.

Penerapan syariat Islam di Aceh pun tinggal mimpi. Air mata yang diteteskan Soekarno ternyata hanya air mata buaya untuk sekedar pelengkap sandiwara saja.

Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September 1899 di sebuah kampung bernama “Beureueh”, daerah Keumangan, Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung heroik Islam, sama seperti kampung Tiro.

Ayahnya seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari masyarakat setempat dengan sebutan “Imeuem (imam) Beureueh”.

Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat mengilhami langkah hidupnya kemudian.

Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di masa keemasan itu, hanya orang-orang yang benar-benar berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman modern ini, hampir setiap orang dengan bermodalkan “taplak meja dililitkan di leher” bisa mengaku berhak untuk disebut ulama. Daud Beureueh bicara dengan gelora dan kesungguhan tentang perlunya pembaruan.

Setelah semua kemungkinan terbentuknya sistem politik Islam sirna dan janji-janji Soekarno akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam tidak pernah ditepati, maka jiwa jihad Teungku Daud Beureueh pun bergolak.

Teungku Daud Beureueh kemudian menjadikan Aceh sebagai “Negara Bagian Aceh-Negara Islam Indonesia” (NBA-NII) dan berjuang hingga tahun 1964 di gunung-gemunung Tanah Rencong. Soekarno, meskipun terkenal hebat di mata orang-orang Aceh, namun karena penipuannya terhadap orang Aceh, nama Soekarno identik dengan berhala yang harus ditumbangkan.

Puncaknya pada 21 September 1953, ia memimpin dan memproklamirkan bahwa Aceh adalah bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hal itu tidak lebih dari respon atas penindasan dan kekecewaan yang telah menggunung pada pemerintah RI, lebih-lebih pada masa Kabinet Al Sastroamodjojo.

Ironinya lagi, pemerintah saat itu (bahkan sampai saat ini) cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan di Aceh. Banyak orang menyebut Daud Beureueh sebagai pemberontak.

Apakah sebutan itu pantas dialamatkan pada orang yang telah berjuang dan membaktikan diri untuk negara ini? Semua pengorbanannya seakan tiada arti, jangankan untuk membalas jasa-jasanya, untuk berterimakasih saja kadang kita lupa. Siapa sebenarnya yang pantas disebut pemberontak ?

Penulis adalah warga PergerakanMahasiswa Islam Indonesia Cabang Kota Banda Aceh

Referensi:
Hasanuddin Yusuf Adan (2007) Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh dan Perjuangan Pemberontakan di Aceh. Adnin Foundation Aceh.

Nazaruddin Sjamsuddin (1999) Revolusi di serambi Mekah: perjuangan kemerdekaan dan pertarungan politik di Aceh, 1945-1949.Universitas Indonesia.

Al-Chaidar (1999) Gerakan Aceh Merdeka: jihad rakyat Aceh mewujudkan negara Islam. Madani Press

Majalah Islam SABILI No. 6 TH. VII 8 September 1999

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s