Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 9-12

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 9-12

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)

Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 9-12“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan [yang mempunyai] raqiim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (QS. 18: 9) [Ingatlah] tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: ‘Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’ (QS. 18:10) Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, (QS. 18:11) kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal [dalam gua itu]. (QS. 18:12) (al-Kahfi: 9-12)

Yang demikian itu merupakan pemberitahuan dari Allah mengenai kisah Ash-haabul Kahfi secara global dan ringkas. Dan setelah itu, Dia menjelaskannya seraya berfirman: am hasibta (“Atau kamu mengira”) yakni, hai Muhammad. Anna ash-haabal kaHfi war raqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajaban (“Orang-orang yang mendiami gua dan [yang mempunya] raqiim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”) Maksudnya, urusan mereka itu bukan suatu hal yang aneh dalam kekuasaan Kami.

Mengenai firman-Nya: am hasibta Anna ash-haabal kaHfi war raqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajaban (“Atau kamu mengira, Orang-orang yang mendiami gua dan [yang mempunya] raqiim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”) Ibnu Juraij menceritakan dari Mujahid, ia mengatakan: “Di antara tanda-tanda Kami (Allah) terdapat apa yang lebih aneh dari hal tersebut.” Sedangkan kata al-Kahfi berarti gua di gunung, dan itulah tempat yang menjadi persembunyian para pemuda tersebut. ‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan, dari Ibnu `Abbas: “Ar-raqiim berarti al-Kitab.”
`Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengemukakan: “Ar-Raqiim berarti Kitab.” Kemudian dia membaca, kitaabun marquum (kitab yang tertulis).

Demikianlah yang tampak pada lahiriyah ayat di atas. Itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. la mengemukakan: “Kata ar-raqiim merupakan wazan kata fa’iil yang berarti marquum (yang tertulis), sebagaimana orang yang terbunuh itu juga disebut qatiil, dan orang yang terluka disebut dengan jariih. Wallahu a’lam.”

Firman Allah Ta’ala: idz awal fitnatu ilal kaHfi faqaaluu rabbanaa aatinaa mil ladunka rahmataw wa Hayyi’lanaa min amrinaa rasyadan (“Tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: ‘Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’”)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang para pemuda yang melarikan diri dengan membawa ajaran agama mereka dari kaum mereka supaya kaumnya itu tidak memfitnah mereka. Maka para pemuda itu pun pergi melarikan diri dari mereka untuk kemudian berlindung di gua di sebuah gunung untuk bersembunyi dari mereka. Dan ketika mereka memasuki gua itu, mereka berkata seraya memohon rahmat dan kelembutan kepada Allah yang Mahatinggi: rabbanaa aatinaa mil ladunka rahmatan (“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu.”) Maksudnya, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau mengasihi kami dan menutupi kami dari kaum kami. Wa Hayyi’lanaa min amrinaa rasyadan (“Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.”) Maksudnya, tetapkan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami. Dengan kata lain, jadikanlah kesudahan akhir kami di bawah petunjuk yang lurus.

Dalam kitab al-Musnad disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Bisir bin Artha-ah, dari Rasulullah, di mana beliau pernah berdo’a: allaaHuma ahsin ‘aaqibatanaa fil umuuri kulliHaa wa ajirnaa min khizyid dun-yaa wa ‘adzaabil aakhirati (“Ya Allah, perbaikilah akhir kesudahan kami dalam segala urusan, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat.”)

Firman-Nya: wa dlarabnaa ‘alaa aadzaaniHim fil kaHfi siniina ‘adadan (“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.”) Artinya, Kami tidurkan mereka ketika mereka memasuki gua, hingga mereka tertidur selama bertahun-tahun. Tsumma ba’atsnaaHum (“Kemudian Kami bangunkan mereka,”) yakni, dari tidur mereka. Lalu ada salah seorang dari mereka yang keluar gua untuk membeli makanan bagi mereka agar mereka dapat memakannya. Sebagaimana yang akan kami jelaskan lebih lanjut secara rinci.

Oleh karena itu, Allah berfirman: tsumma ba’atsnaaHum lina’lama ayyul hizbaini (“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan tersebut,”) yang mereka saling berbeda pendapat, ahshaa lima labitsuu amadan (“Yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal [dalam gua itu].”) Ada yang mengatakan, yakni hitungan. Dan ada juga yang mengatakan, yakni batas akhir. Yang jelas, al-amad berarti batas akhir. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:
Sabaqal jawwaadu idzas taulaa ‘alal amadi
(“Seekor kuda akan dapat mendahului jika berhasil melampaui garis akhir.”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: