“Roh Jahat”

Tuan Panglima Maharadja Sjahbandaryang mulia telah melakukan penjelajahan ke berbagai situs yang mempublikasikan arsip-arsip lama tentang Aceh, dan di antara hasil penjelajahan itu adalah peta-peta yang dibuat oleh Kolonial Belanda. 

Salah satu peta Belanda yang menunjukkan lokasi-lokasi kompleks makam bersejarah zaman Aceh Darussalam. Repro: Panglima Maharadja Sjahbandar

Beberapa peta sempat dicermati dengan baik dan saksama, dan salah satu peta resmi dari tahun 1874 menerakan lokasi-lokasi pemakaman di wilayah Kota Banda Aceh hari ini. Setelah dicermati dan ditelusuri, ditemukan kenyataan bahwa kompleks-kompleks pemakaman itu sudah tidak dijumpai lagi sejak sebelum musibah tsunami menimpa Aceh pada 2004 silam.
Apa yang terjadi dengan kompleks-kompleks makam tersebut? 
Di antara banyak hal yang mungkin telah menimpa dan menghapus “ranah-ranah kenangan” ini, baik yang diketahui maupun tidak diketahui, salah satunya tentulah apa yang diutarakan oleh Paduka Sri Sultan Muhammad Daud Syah bin Sultan Manshur Syah dalam suratnya kepada Khalifah Abdul Hamid II di Istambul pada tanggal 25 Muharram 1315 H.

Dalam surat berbahasa Jawi, Sri Sultan menyampaikan:
“[.. dan segala rakyat hamba Islam yang ada mereka itu dalam Negeri Aceh Darussalam] yang telah dianiayai oleh kafir mal’un (terlaknat) ‘aduwullah (musuh Allah) Bangsa Hulanda (Belanda) dengan tiada kesalahannya. Telah jadi peperangan dan bermusnah-musnahan dengan berapa-berapa negeri dan berapa-berapa masjid dan zawiyah, dan segala makam auliya’-auliya’ habis dibakarnya, dan berapa-berapa makam yang tinggi habis diratakannya, dan sekalian makam raja-raja habis dibinasakannya, diratakannya, demikianlah diperbinasakan di atas Agama Islam hingga sampai kepada tarikh surat ini kepada dua puluh lima tahun (25) lamanya tiada berhenti-henti dengan perang..”

Bagian naskah surat Paduka Sri Sultan Muhammad Daud Syah dalam bahasa Jawi. Sumber: Koleksi Museum Aceh.

Dalam teks surat Paduka Sri Sultan Muhammad Daud Syah yang diterjemahkan oleh Sayyid ‘Ali bin Syihab ke dalam Bahasa Arab disebutkan demikian:
“..لقد خدعونا ومكروا بنا الكفرة الملاعين أعداء الله الهولاندا من غير جرم ولا ذنب حربونا وقتلوا رجالنا وأخذوا بلداننا ودمروا مستعمراتنا وخربوا مساجدنا وديارنا ومقامات الأولياء والصالحين وأحرقوها بالنيران ومقامات أجدادي وأبائي من السلاطين أحرقوها بالنيران فهذه أعظم استهانة بالدين الاسلام وقد بلغ الآن من ابتداء الحرب خمسة وعشرين سنة وهو لم يقف فيها المحاربة بيننا..”
“… Orang-orang kafir Belanda yang terkutuk dan musuh Allah itu telah memperdaya dan menipu kami tanpa apapun kesalahan yang kami lakukan. Mereka memerangi kami, membunuh orang-orang besar kami, merampas negeri-negeri kami serta menghacurkan wilayah-wilayah taklukan kami. Mereka juga meruntuhkan masjid-masjid kami, menghancurkan kampung-kampung kami serta kubur-kubur auliya yang shalih. Semua itu mereka bumihanguskan. Begitu pula dengan kubur-kubur para sultan yang adalah kakek-nenek kami, semuanya mereka bumihanguskan. Ini adalah penghinaan terbesar bagi Agama Islam. Dan sejak awal perang sampai dengan sekarang telah berlalu 25 tahun, dan perang di antara kami belum berhenti..”

Bagian teks terjemahan surat Paduka Sri Sultan Muhammad Daud Syah dalam bahasa Arab. Diterjemahkan oleh Sayyid ‘Ali bin Syihab. Sumber: Koleksi Museum Negeri Aceh.


Atas dasar keterangan ini, maka bukanlah sesuatu yang dapat disangsikan lagi bahwa Belanda dalam agresinya ke Aceh di pertengahan kedua abad ke-19 M, telah menghancurkan berbagai bangunan serta simbol kehebatan dan ketinggian Islam di Aceh, yang antara lain adalah makam-makam aulia dan para raja Aceh. 

Belanda, dengan demikian, tidak hanya menghancurkan Aceh secara fisik, tapi juga meluluhlantakkan ranah kenangannya, merusak memorinya, dan melakukan shut-down terhadap ingatan yang menghubungkan orang Aceh dengan perjalanan sejarah bangsa yang luhur. Itu semua adalah untuk menciptakan manusia-manusia baru seperti yang diinginkan oleh Belanda (baca: manusia boneka), sebab hanya manusia-manusia yang terputus dengan masa lalunya yang besar, yang dapat diperbudak!

Maka sayang beribu kali sayang, ketika Belanda—apakah yang berkulit putih maupun sawo matang—telah enyah dari bumi Aceh sejak puluhan tahun silam, namun siapa sangka mereka hanya raib dengan tubuh fisik, sedangkan “roh jahat” mereka masih bergentayangan dalam berbagai bentuk kebodohan dan kemalasan yang ditampilkan. “Roh jahat” Belanda itu merasuki sebagian orang dan terjadilah seperti apa yang terjadi di Pango Deah—ini cuma salah satunya.

Kondisi nisan-nisan peninggalan sejarah Aceh Darussalam di Gampong Pango Deah setelah dibongkar oleh pihak yang ingin mendirikan bangunan pemerintahan di lokasi tersebut.


Di saat saya membaca ungkapan Paduka Sri Sultan Muhammad Daud Syah dalam suratnya mengenai hal ini maka tidak susah bagi saya membayangkan apa yang terjadi dalam masa itu sebab penghacuran terhadap ranah-ranah kenangan itu juga ternyata masih dilakukan oleh mereka yang hari ini menyebut diri mereka Pemerintah Aceh, seperti yang terjadi di Pango Deah sejak sekitar dua tahun yang lalu dan belum ada respon apa-apa dari pihak Pemerintah—sama juga dengan masalah tapak situs Lamuri di Lamreh dan lain-lainnya. 

Andai katalah masyarakat biasa yang melakukannya, maka saya masih memaklumi karena masyarakat memang harus diberikan pengetahuan mengenai hal ini; mereka sama seperti saya dulunya. Jika seorang masyarakat biasa yang melakukan perusakan tersebut, maka sayalah yang sesungguhnya bertanggung jawab atas perusakan itu karena saya yang tahu tidak mengajarinya. Tapi jika Pemerintah yang melakukannya seperti yang terjadi dengan salah satu kompleks makam Aceh Darussalam di Pango Dayah yang kabarnya telah didirikan bangunan milik PU Banda Aceh, maka wajarkah bila orang yang tidak bergaji mengajarkan orang bergaji?! Bukankah seseorang digaji oleh Negara adalah untuk mengetahui dan mengurus apa yang harus dia ketahuinya?! Bukankah mereka yang duduk di Pemerintahan itu lebih pintar-pintar?! Bukankah mereka dapat saling berkoordinasi?!

Bukankah mereka sudah baca habis semua undang-undang?! Bukankah mereka Pemerintah?!
Bagaimana pun, saat ini saya masih saja melihat “roh jahat” Belanda bergentayangan di mana-mana! Maka tiada lain yang diharapkan selain sebuah kesadaran diri. Hanya dengan kesadaran diri itu, kita mampu mengusir “roh jahat” yang mungkin sedang tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan kita. 
Mohon maaf bila kalimat ini dianggap kasar, tidak beradab atau banyak memuat kekeliruan, tapi memang saya sengaja ingin mengatakannya dalam keadaan langit hari-hari saya yang semakin hari tampak semakin meredup. Mohon maaf sekali lagi!


Oleh: Musafir Zaman
(Dikutip dari akun facebook Musafir Zaman di Group Mapesa) – See more at: http://mapesa-aceh.blogspot.com/2015/08/corak-nisan-zaman-sultan-iskandar-muda.html#sthash.eBZisCFM.dpuf

Oleh: Musafir Zaman
(Dikutip dari akun facebook Musafir Zaman di Group Mapesa)

Nisan berinskripsi. Kaligrafi Arab nan unik serta dekorasi yang menampilkan kekhususan kesenian Islam zaman Aceh Darussalam. Benda yang membawa ide, cita rasa dan kabar dari masa lalu ini, dan telah berhasil menembus sekat-sekat waktu untuk sekian lamanya, untuk kemudian menemukan kemalangan yang tak dapat ditolak.
Sebuah doa yang membuktikan kebaktian dan kesetiaan kepada seseorang yang dihormati terpahat pada nisan di Pango Deah ini. “Ya Allah turunkanlah kasih sayangmu kepda pemilik kubur ini dan ampunilah dosanya!” Orang yang dalam kubur dan doa tersebut, kini, tidak ada artinya apa-apa lagi. Dipadang sebagai sampah yang menghambat pembangunan. Tembok-tembok bangunan baru yang belum tentu diperkenan Tuhan ternyata menjadi lebih penting dari doa dan lambang dari sebuah kesetiaan!
Arkeolog Deddy Satria dan Tim Mapesa enggan untuk melepaskan “ranah kenangan” ini begitu saja. Dengan tangan-tangan lemah, mereka ingin merengkuhnya kembali. Tidak tega membiarkan. Peninggalan itu begitu istimewa bagi mereka. Lewatnya mereka dapat melakukan kontak dengan pribadi-pribadi yang pernah hidup di zaman lampau negeri ini. Adakah yang lebih istimewa dari itu untuk seorang putra bangsa?


In situ nisan-nisan bersejarah di Pango Deah yang telah dibongkar. Tampak Arkeolog AcehDeddy Satria memandangnya dengan penuh kekecewaan seolah sebagian kenangan yang teramat berarti baginya telah direnggut begitu saja.


Inskripsi nisan di Pango Deah yang memuat penarikhan hijriah, di mana Nabi dan shalawat serta salam ke atasnya disebutkan, kini juga dianggap sampah yang tak berarti. Siapakah kita sebenarnya?
Penanda kubur orang-orang yang dihormati pada zamannya berserakan begitu saja. Sebuah perilaku yang jika diterjemahkan ke dalam kalimat: “Apalah kalian, siapalah kalian ini! Kalian cuma masa lalu yang tak penting, dan tidak punya arti untuk kami hari ini. Tidak penting bagi kami, dan sudah saatnya kalian harus enyah dari zaman ini walaupun hanya dalam bentuk penanda kubur!”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s