Presiden Joko Widodo mengakui reshuffle dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kemiskinan.

Kamis 28 July 2016M.
Kamis 22 Syawal 1437H. 

POSMETRO INFO – Presiden Joko Widodo mengakui reshuffle dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kemiskinan.

image

“Mengurangi kemiskinan, kesejangan kaya miskin, kesenjangan wilayah. Kita harus memperkuat ekonomi nasional menghadapi tantangan ekonomi global dan dunia yang sedang melanda yang penuh persaingan dan kompetisi,” kata Jokowi dalam pidatonya, Rabu (27/7/2016).

Presiden juga menegaskan perombakan dilakukan agar kabinetnya bisa membuka lapangan kerja seluasnya untuk rakyat.

“Mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan. Tantangan terus berubah dan membutuhkan kecepatan kita dalam bertindak,” ujar Jokowi.

Karena itu kabinet harus bvrtindak langsung dan dirasakan rakyat. “Bisa dinikmati rakyat jangka menengah, pendek, dan panjang.”

Sebelum mengumumkan nama-nama menteri barunya, Presiden meminta agar kabinet bekerja lebih cepat, lebih efektif, dalam tim solid yang saling mendukung dan menghasilkan kinerja nyata.

“Berdasarkan pertimbangan tersebut dilakukan perombakan Kabinet Kerja kedua,” kata Jokowi. [ts]

Komen pengguna.
Presiden Bagi-bagi jabatan

Apa salahnya jika petani jengkol ingin panen jengkol saudarah ?
Dan dimana letak kebodohannya jika seseorang yang memiliki cangkul lalu menggunakan cangkul itu untuk mencangkul ?

Perlu diketahui bahwa partai politik itu legal menurut aturan, adapun aturan yg dimaksud akhirnya menjadi aturan yg berlaku tentu melalui proses persetujuan dan dasar teori, persetujuan sumbernya dari para tokoh negara dan teori dari para ahli, Fakar dan akademisi !!

Aturan yg menyatakan bahwa Golkar, PDIP, PKS, Demokrat, Gerindra, Nasdem, Hanura, PKB dll adalah partai. Tentu maksudnya bukan partai Shaolin yg memiliki orientasi bisa pentas menggunakan semurai, tapi menurut aturan institusi tersebut adalah partai politik sekali lagi, partai politik yg memiliki hak dan orientasi yg total pada kekuasan yg tidak lain adalah jabatan politik dalam stuktur lembaga negara, keinginan para politisi pada jabatan presis keinginan petani jengkol yg total berharap bisa panen jengkol.

Bagi orang-orang parpol tentu salah dan ironis sekali jika tidak berambisi menempati jabatan penting dalam struktur lembaga negara, cukup bingung bagi benak kita jika mereka menolaknya, masa iya mereka sbg politisi malah bercita-cita ingin jadi tukang cincau atau bajigur, kenapa saya katakan demikian ?
Ada beberapa alasan penting

1. Karena memang menurut aturan partai politik adalah satu satunya institusi yg diberi wewenang mutlaq terhadap pengelolaan negara: semua sepakat !
2. Bukanya semua politisi baik daerah atau pusat sering berjanji siap sejahterakan masyarakat “konon”, bagaimana mungkin janji janji politik tersebut bisa direalisasikan jika dia tidak punya anggaran, sementara hanya dengan memegang jabatan, akses terhadap anggaran negara (APBN) bisa dimainkan dengan mudah dan legal
3.partai politik sebagai organisasi besar yang mustahil biayanya bersandar pada aktivitas ekonomi personal entah itu biaya dari tukang sampeu, tukang cilok bahkan dari tukang pesawat sekalipun. Karens itu sudah barang tentu membutuhkan uang negara sebagai sumbernya. Sekali lagi, inipun bisa diperoleh jika kader-kader partai menempati jabatan dalam struktur negara (realistis)

Maka atas alasan tersebut sangat logis realistis jika jabatan merupakan orientasinya, sekalipun orang-orang partai politik ditolak mentah-mentah masyarakatnya ketika menepati berbagai jabatan dalam struktur negara, dalam kasus ini penolakan masyarakat yg notabene bersumber karena kekecewa terhadap janji-janji orang-orang partai yg umumnya dianggap ingkar dan tdk sesuai harapan, pasti tidak akan didengar bahkan jauhnya akan dianggap ilegal krn apa yg diinginkan orang-orang partai telah sesuai aturan yg jauh sebelumnya telah disepekati dan berlandaskan teori yg katanya dari “para ilmuwan”

Bahkan meski Presiden memiliki hak priogratif dalam rangka menentukan para pejabat tinggi pembantunya, tetap saja todak bisa lepas dari rekomendasi, pesanan atau aspirasi orang-orang partai
Kenapa ?
Jawabnya singkat
Lho Ko bukanya Presiden sendiri orang yang terlahir dari rahim partai !!!! Hehehe

Maka wajar jika Presiden disebut cangkul dan sekarang sedang dipakai mencangkul oleh pemilik cangkul demi mengeksplorasi lahan garapan yg sangat besar dan subur yg kita sebut sebagai APBN, tentu pemiliknya adalah rakyat yg secara konstitusional diwakilkan pada orang-orang partai

Jika anggaran negara disebut kue yg siap dibagikan, kira-kira siapa yg paling berhak mendistribusikannya !!!
Tentu saya tidak berharap Jawabanya seperti sebagian orang -orang yg konon ahli katanya : harus diberikan pada orang-orang profesional (titipan berbagai fakultas dan LSM dan titipan dirinya sendiri) hahahaha
mungkin dia Menghayal bahwa negara ini OSIS yg dengan mudah pejabat mentri pendidikan adalah orang titipan dari kepala sekolah
Lucu memang para ahli itu, katanya pro demokrasi namun nyatanya tidak konsisten pada teorinya sendiri …..

RESHUFFLE

Setiap rezim senantiasa melakukan perombakan kabinet.
Mengapa..?

1. Reshuffle adalah bukti ironis seorang presiden yang konon katanya ahli dalam bekerja hingga dipercaya oleh rakyat untuk mengemban amanah, ternyata malah gagal alias bodoh dalam memilih para pembantunya dalam menjalankan tugas.

2. Reshuffle secara alamiah pasti akan selalu terjadi dalam cerita rezim, kenapa..? karena hal itu memang seiring dan selalu muncul rasa ketidak puasan masyarakat pada kinerja pemerintah. setiap rezim pasti akan selalu gagal dalam memenuhi janji siap sejahterakan masyarakatnya.

3. Menurut kacamata politik, reshuffle adalah jalan terbaik untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan demi sebuah jabatan yang selalu diidam-idamkan, kerna sebab itulah wajar, jika reshuffle menjadi begitu hangat diperbincangkan.

4. Disamping reshuffle adalah langkah penyegaran politik, reshuffle juga bisa dijadikan stategi untuk menyulap mata msyarakat agar mereka kembali menaruh harapan yang baik pada kinerja pemerintah, langkah ini sedikit bisa menyelelamatkan posisi rezim dari ancaman reaksi sosial yg menuntut pembubaran atau kudeta

5. ARTINYA: reshuffle sama sekali bukan upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang kian murat-marit, tapi jelas perombakan kabinet itu intinya demi memperjuangkan bagaimana agar eksistensi rezim Jokowi bisa berumur panjang sesuai batas waktu yang telah ditetapkan konstitusi.

6. PERTANYAANYA; mungkinkah hal itu terjadi..? jawabannya hanya bisa dibuktikan lewat data-data konkret yang tercatat kuat dalam fakta. Apakah betul sosok Jokowi itu orang yang ahli dalam bekerja atau memang dibalik kebodohan politiknya itu bahwa Dia memang ahli dalam mencari masalah.

RENUNGAN;
Mengapa banyak para menteri yang INDISIPLINER..? karena memang Jokowi dalam memberi arahan-arahan kerjanya sangat tidak jelas. sehingga wajar jika para menteri mencari jalan sendiri-sendiri, berstatemen semaunya dan akhirnya kridibilitas dan kepabelitas rezim menjadi terlihat “rongsokan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s