Kisah Dibalik Mengguritanya Bisnis Warga Aceh Di Malaysia. Ternyata Ini Rahasianya.

Ahad 27 June 2016M
Ramadhan 1437 H
Kisah Dibalik Mengguritanya Bisnis Warga Aceh Di Malaysia. Ternyata Ini Rahasianya.

GOOLERAMPOE.com |

Masih ingat dengan kasus meradangnya sebagian warga Pribumi (Melayu) di Malaysia tempo hari, terkait dengan makin “menggurita”nya binsis Peruncitan (Toko Kelontong) yang status kepemilikannya majoriti dikuasai oleh orang Aceh?

“Bagai cendawan tumbuh selepas hujan. Itu perumpamaan yang sesuai untuk digambarkan terhadap sektor peruncitan di negara ini khususnya di ibu negara seperti ‘dijajah’ oleh warga asing.”, demikian Utusan Online mengawali laporannya pada 08 Januari 2016 lalu, dengan judul “Aceh Monopoli Sektor Peruncitan?”.

Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana ceritanya hingga warga Aceh yang telah lama bermukim di Malaysia bisa memiliki banyak usaha peruncitan sebagaimana yang diberitakan media malaysia diatas.

Untuk itu, kali ini GOOLERAMPOE.com akan berbagi kisah bagaimana awal mulanya orang Aceh merintis usahanya di Malaysia hingga bisa menguasai pusat-pusat dagang negara jiran tersebut, khususnya di bidang bisnis Peruncitan.

Mungkin  tidak ada masyakarakat Aceh yang tidak pernah mendengar kawasan Chow Kit Malaysia, sebab kawasan ini dikenal sebagai pasar dagangnya masyarakat Aceh di Malaysia. Sehingga apabila mengunjungi Malaysia, seolah belumlah dianggap lengkap apabila tidak singgah untuk mengunjungi “pasar Aceh” di Malaysia ini.

Pasar Chow Kit terletak di ujung utara Jalan Tunku Abdul Rahman Tapi, para pedagang asal Aceh kebanyakan berjualan di sepanjang jalan Raja Alang yang bersisian dengan Safuan Plaza. Atau, apabila kita turun di Stasiun Kereta Api Monorail, lalu menyeberangi jalan, dan belok kiri langsung tiba di pasar Chow Kit.

Di sepanjang kiri-kanan jalan Raja Alang, di kawasan Chow Kit, banyak pedagang Aceh berjualan. Di kawasan ini, atau tepatnya di depan Safuan Plaza, terlihat kios buah-buahan berjejer serta warung nasi dan mie Aceh, yang banyak dicari oleh masyarakat Aceh sendiri maupun orang Melayu.

Sementara itu kedai-kedai runcit berada teratur setelahnya, begitupun kios-kios jamu yang juga milik masyarakat Aceh ini berjejer dengan rapi. Mudah saja kita mengenal para pedagang Aceh, sebab semua mereka menggunakan bahasa Aceh dalam bertutur, persis seperti Pasar Aceh di Aceh, kecuali ada pembeli orang Melayu.

Memang pedagang Aceh di Malaysia sebenarnya tidak hanya di Chow Kit ini saja, banyak yang lainnya menyebar di wilayah lain, seperti di Puchong, Sungai Tangkas, Kajang, Bandar Tasik Selatan, Sungai Buloh tapi Chow Kit adalah sentralnya, demikian laporan Teuku Muttaqin Mansur, PhD Student, Faculty of Law University Kebangsaan Malaysia, sebagaimana dimuat Harian Serambi Indonesia pada 9 Januari 2012.

Jadi, sebenarnya apa yang diberitakan oleh Utusan Online tadi tidak sepenuhnya salah, ada benarnya juga. Orang Aceh memang empunya pasar di Malaysia.

Tentu saja keberhasilan orang-orang Aceh di perantauan tersebut tidaklah datang begitu saja ibarat membalikkan telapak tangan, perjuangan mereka untuk meyakinkan para pemilik modal, dalam hal ini warga Malaysia Keturunan China penuh dengan lika-liku.

Hal ini terungkap dalam sebuah Workshop yang diselenggarakan oleh Koperasi Unit Pengelola Keuangan Islam di Anjong Mon Mata, Banda Aceh beberapa saat yang lalu (21/05/2016), yang menghadirkan nara sumber Mantan Menteri Pertanian Malaysia, Tan Sri Dato’ Seri Sanusi Junid, yang juga merupakan Putra Aceh sebagai Keynote Speaker.

Menurut Sanusi, awalnya masyarakat Aceh disana juga bekerja pada toke-toke Cina yang telah lebih dulu sukses dalam berdagang dan memiliki modal besar. Namun, lambat laun, karna kejujuran dan ketekunannya, orang-orang Aceh tersebut mulai mendapatkan kepercayaan dari para pemilik modal disana.

Saat dirinya masih menjabat sebagai Menteri Pertanian Malaysia ketika itu, dalam sebuah misi untuk memberantas kemiskinan di Malaysia, Sanusi pernah mencoba mencari tau apa sebenarnya yang mendasari, sehingga orang Cina akhirnya mau mempercayai dan memodali orang Aceh untuk membeli tanah dan mendirikan toko-tokonya di Malaysia.

Jawaban yang didapat sempat membuat Sanusi terkekeh-kekeh (tertawa) dalam hati. Rupanya, mereka (Cina disana) percaya sama orang Aceh karena mereka sering menyaksikan salah satu kebiasaan unik yang dipraktekkan oleh Teungku-teungku Aceh setiap ada keluarga, kerabat atau tetangganya sesama Aceh yang meninggal dunia, yaitu meminta kepada siapa saja yang hadir untuk melaporkan kepada keluarga yang ditinggalkan bila yang meninggal dunia tersebut semasa hidupnya memiliki hutang-piutang saat khutbah selesai Shalat Jenazah.

Orang Cina disana yakin, bahwa tetap ada peluang untuk menyelesaikan kolektibilitas (tunggakan) kredit yang mereka berikan pada orang Aceh, meski seberapapun “sulet” (tidak jujur) nya mereka, yaitu di hari kematiannya, terang Sanusi pada Workshop tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s