Makna Sebenarnya dari Hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat…”

Khamis 26 November 2015.

Makna Sebenarnya dari Hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat…”

image

Ketika mempraktekkan sabda Nabi “ballighu ‘anni wa lau aayah” (sampaikan dariku, walau satu ayat) titik tekannya bukan pada soal hanya satu ayat yang kita tahu redaksinya lalu kita menyampaikan dengan menggampangkan persoalan.

Nabi mengatakan ‘annii (dariku) artinya baik redaksi maupun maknanya harus dari Nabi atau sesuai dengan kebenaran. Lafal dan makna itu satu paket.

Jika kita menyampaikan satu ayat dengan makna yang tidak sesuai dengan makna yang dikehendaki Nabi, meskipun kita fasih sekali mengucapkan redaksi ayat tersebut, tetap saja TIDAK BISA dibilang “ballighu ‘anni wa lau aayah”.

Untuk memahami makna satu ayat saja terkadang kita perlu membaca banyak ayat. Tidak mungkin kita menyampaikan satu ayat saja misalnya yang berbunyi, “fa waylun lil mushallin” (maka celakalah orang-orang yang salat) dengan redaksi itu saja lalu memotong makna yang kita sampaikan hanya pada lahiriah redaksi satu ayat tersebut, dengan alasan kata Nabi sampaikan dariku walau hanya satu ayat, sementara lanjutan ayat jelas-jelas “alladzina hum fi shalatihim saahuun” (yaitu orang-orang yang dalam shalatnya disertai kelalaian”.)

Dalam hal kita tidak paham maknanya, memang Nabi Muhammad tetap memotivasi kita untuk menyampaikan ayat atau sabdanya, dengan tujuan untuk menyebarkannya lebih luas “fal yuballighusy syahidu minkumul ghaib” (maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan pada mereka yang tidak hadir), namun sampaikan lafal apa adanya jika tidak mengetahui maknanya, karena “rubba muballighin aw’a min saami’in” (kadang orang yang menyampaikan lebih tidak tahu daripada orang yang disampaikan).

Apakah kita harus mengetahui keseluruhan ilmu sampai dengan detilnya baru kita boleh menyampaikan sesuatu bagian dari ilmu?

Tidak harus, namun pengetahuan menyeluruh meskipun umum sangat membantu kita terhindarkan dari kesalahan ketika menemui satu bagian parsial dari ilmu yang belum pernah kita dengar penjelasannya bagaimana. Yaitu kalau kita memaknai yang parsial itu di bawah naungan yang universal. Seperti yang saya kutip dari status twitter dari ulama baik hati ini, syaikh Ibn Bayyah,

المنهج الصحيح وسط. يعطي الكلي نصيبه ويضع الجزئي في نصابه

“Metode (manhaj) yang sehat dan moderat adalah kita menjadikan pemahaman umum sebagai timbangan dan meletakkan hal-hal parsial pada timbangan tersebut”.

Tidak lain dan tidak bukan, untuk memahami secara umum apa yang dikehendaki agama ini, itu membutuhkan perhatian, kesukaan dan ketekunan pada ilmu-ilmu agama. Orang yang tidak memahami maksud-maksud agama secara umum, ketika menemui teks-teks parsial, bisa menyimpangkan pemahamannya. Sedangkan orang yang berbekal pemahaman umum tapi sehat, ketika menemui teks-teks parsial, meskipun dia baru pertama kali menemuinya dan belum pernah mempelajari secara khusus teks parsial tersebut, secara intuitif dia bisa terbantu dengan pemahaman umum tersebut.

Jika kita tidak memiliki bekal minimal seperti pemahaman umum ini, seringkali kita akan membawa teks-teks parsial pada kecenderungan emosional kita. Dalam hal ini, kecelakaan orang yang meremehkan sama dengan kecelakaan orang yang berlebihan, kesalahan orang yang terlalu lunak sama juga dengan kesalahan orang yang terlalu keras.

Yang pertama akan membawa ayat-ayat seperti QS 2:62 ke pemahaman relativisme, yang kedua akan membawa ayat-ayat seperti QS 9:5 ke pemahaman ekstrimisme. Keduanya bukan termasuk “aku menyampaikan dari Nabi 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s