Makna Sebenarnya dari Hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat…”

Khamis 26 November 2015.

Makna Sebenarnya dari Hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat…”

image

Ketika mempraktekkan sabda Nabi “ballighu ‘anni wa lau aayah” (sampaikan dariku, walau satu ayat) titik tekannya bukan pada soal hanya satu ayat yang kita tahu redaksinya lalu kita menyampaikan dengan menggampangkan persoalan.

Nabi mengatakan ‘annii (dariku) artinya baik redaksi maupun maknanya harus dari Nabi atau sesuai dengan kebenaran. Lafal dan makna itu satu paket.

Jika kita menyampaikan satu ayat dengan makna yang tidak sesuai dengan makna yang dikehendaki Nabi, meskipun kita fasih sekali mengucapkan redaksi ayat tersebut, tetap saja TIDAK BISA dibilang “ballighu ‘anni wa lau aayah”.

Untuk memahami makna satu ayat saja terkadang kita perlu membaca banyak ayat. Tidak mungkin kita menyampaikan satu ayat saja misalnya yang berbunyi, “fa waylun lil mushallin” (maka celakalah orang-orang yang salat) dengan redaksi itu saja lalu memotong makna yang kita sampaikan hanya pada lahiriah redaksi satu ayat tersebut, dengan alasan kata Nabi sampaikan dariku walau hanya satu ayat, sementara lanjutan ayat jelas-jelas “alladzina hum fi shalatihim saahuun” (yaitu orang-orang yang dalam shalatnya disertai kelalaian”.)

Dalam hal kita tidak paham maknanya, memang Nabi Muhammad tetap memotivasi kita untuk menyampaikan ayat atau sabdanya, dengan tujuan untuk menyebarkannya lebih luas “fal yuballighusy syahidu minkumul ghaib” (maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan pada mereka yang tidak hadir), namun sampaikan lafal apa adanya jika tidak mengetahui maknanya, karena “rubba muballighin aw’a min saami’in” (kadang orang yang menyampaikan lebih tidak tahu daripada orang yang disampaikan).

Apakah kita harus mengetahui keseluruhan ilmu sampai dengan detilnya baru kita boleh menyampaikan sesuatu bagian dari ilmu?

Tidak harus, namun pengetahuan menyeluruh meskipun umum sangat membantu kita terhindarkan dari kesalahan ketika menemui satu bagian parsial dari ilmu yang belum pernah kita dengar penjelasannya bagaimana. Yaitu kalau kita memaknai yang parsial itu di bawah naungan yang universal. Seperti yang saya kutip dari status twitter dari ulama baik hati ini, syaikh Ibn Bayyah,

المنهج الصحيح وسط. يعطي الكلي نصيبه ويضع الجزئي في نصابه

“Metode (manhaj) yang sehat dan moderat adalah kita menjadikan pemahaman umum sebagai timbangan dan meletakkan hal-hal parsial pada timbangan tersebut”.

Tidak lain dan tidak bukan, untuk memahami secara umum apa yang dikehendaki agama ini, itu membutuhkan perhatian, kesukaan dan ketekunan pada ilmu-ilmu agama. Orang yang tidak memahami maksud-maksud agama secara umum, ketika menemui teks-teks parsial, bisa menyimpangkan pemahamannya. Sedangkan orang yang berbekal pemahaman umum tapi sehat, ketika menemui teks-teks parsial, meskipun dia baru pertama kali menemuinya dan belum pernah mempelajari secara khusus teks parsial tersebut, secara intuitif dia bisa terbantu dengan pemahaman umum tersebut.

Jika kita tidak memiliki bekal minimal seperti pemahaman umum ini, seringkali kita akan membawa teks-teks parsial pada kecenderungan emosional kita. Dalam hal ini, kecelakaan orang yang meremehkan sama dengan kecelakaan orang yang berlebihan, kesalahan orang yang terlalu lunak sama juga dengan kesalahan orang yang terlalu keras.

Yang pertama akan membawa ayat-ayat seperti QS 2:62 ke pemahaman relativisme, yang kedua akan membawa ayat-ayat seperti QS 9:5 ke pemahaman ekstrimisme. Keduanya bukan termasuk “aku menyampaikan dari Nabi 

Advertisements

DOA-DOA MUSTAJAB

DOA-DOA MUSTAJAB

Penghulu Istighfar

Istighfar yang paling afdhol adalah bacaan istighfar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Syaddad bin Aus berkata, “Penghulu istighfar itu adalah seorang hamba mengucapkan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani, wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi, faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta”

 “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakan aku. Aku adalah hamba -Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan -Mu semampuku. Aku berlindung kepada -Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat -Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh kerana itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Barangsiapa yang membacanya pada waktu siang dengan penuh keyakinan lalu dia meninggal pada siang hari itu sebelum memasuki waktu petang maka dia termasuk penghuni syurga, dan barangsiapa yang membacanya pada waktu malam dengan penuh keyakinan dan dirinya meninggal sebelum memasuki waktu pagi maka dia termasuk penghuni syurga”. 

Makna yang terkandung dalam istighfar ini:

Pengakuan terhadap Allah dengan tauhid rububiyyahPengakuan terhadap Allah dengan tauhid uluhiyyahPengakuan dari seorang hamba dengan penghambaan, kerendahan diri, dan ketundukan kepada AllahPengakuan seorang hamba dengan beriltizam di atas jalan yang lurus dan manhajj Rabb semesta alam, sesuai dengan kemampuannya.Permintaan perlindungan dan penjagaan seorang hamba kepada Allah dari segala kejahatan, dosa dan maksiat yang ia lakukanPengakuan seorang hamba akan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.Pengakuan seorang hamba akan dosanyaPermohonan ampun kepada Allah dan merendahkan diri dihadapanNya

Karena itulah, dengan melihat makna yang agung yang terkandung didalamnya, Nabi menamainya dengan “sayyidul istighfar” (terapi dengan ibadah – Hassan bin Ahmad Hamman) 

Air Rawat Berbalik (Reverse Osmosis)

Air Rawat Berbalik (Reverse Osmosis)

 

 Apa Itu Reverse Osmosis? ▼

Apa Itu Reverse Osmosis?

Anda mungkin biasa lihat dan dengar tentang air RO tetapi tahukah anda apa itu RO?

RO iaitu Reverse Osmosis atau Osmosis Berbalik adalah suatu teknologi pemurnian air yang paling moden. Ia menggunakan semi permeable membran yang sangat efektif untuk mendapatkan kemurnian air serta mampu membersihkan air hingga 95-99% dari segala pencemar yang terkandung di dalamnya.

Osmosis Berbalik  adalah penerapan tekanan pada sisi larutan yang mempunyai kepekatan/ konsentrasi tinggi. Larutan akan mengalir dari kepekatan yang lebih tinggi menuju larutan yang lebih rendah kepekatannya hingga mencapai keseimbangan kepekatan/ konsentrasi.

Dengan kata lain, menggunakan teknologi Reverse Osmosis ini, sebarang jenis air sama ada PDAM, air sumur, air payau ataupun air laut boleh disaring dan dapat menghasilkan air murni 99%. Perbezaan utamanya  terletak pada sedikit atau banyak air yang terbuang dari proses ini. Semakin bagus kualiti air masuk, semakin sedikit air buangnya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kualiti air yang masuk, semakin banyak air buangnya.

Teknologi Reverse Osmosis ini telah digunakan untuk menyaring air laut menjadi air murni sejak tahun 1970. Di Amerika ia sudah lama digunakan untuk kawasan perumahan. 

Selain itu Reverse Osmosis juga digunakan dalam proses campuran air untuk penghasilan makanan dan minuman (Ref. Wikipedia). Terdapat juga pengusaha akuarium  yang menggunakan Reverse Osmosis sebagai filter air dan juga untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.

image

Gambar Mesin Reverse Osmosis. Mesin ini digunakan untuk merawat air dengan cara menyuling dan menapis mengikut peringkat sehingga terhasil air RO yang menepati kehendak piawaian.

Hukum Qadha Shalat

Hukum Qadha Shalat

image

Sekadar hiasan

Hukum dan cara mengqadha (qodho) shalat yang ditinggalkan karena lupa, tertidur atau ditinggal dengan sengaja beberapa bulan dan tahun sampai lupa jumlah shalat yang ditinggalkan.

Assalmu’alaikum ustad.
Ana mau brtanya…kalau ada orang lalai sholat subuhnya apa dia boleh mengqodhonya setelah dzuhur atau boleh mengerjakannya diwaktu dhuha?

Atas perhatiannya saya ucapkan jazakumulloh ahsanal jaza…

HUKUM MENG-QADHA SHALAT YANG DITINGGALKAN

1. Shalat fardhu yang tidak dilaksanakan pada waktunya baik karena ketiduran atau lupa, maka harus diganti pada waktu yang lain segera setelah dia ingat. Kecuali bagi wanita haid dan nifas (keluar darah setelah melahirkan). Berdasarkan hadits sahih:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena tertidur atau lupa, maka hendaknya ia melakukan salat setelah ingat dan tidak ada kafarat (pengganti) selain itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Di hadits lain Nabi bersabda:

إذا نسِيَ أحدٌ صلاةً أو نام عنها فلْيَقضِها إذا ذكَرها

Artinya: Apabila seseorang tidak shalat karena lupa atau tertidur, maka hendaknya dia mengqodho ketika ingat.

Berdasarkan kedua hadits di atas, mayoritas (jumhur) ulama fiqh dari keempat madzhab berpendapat bahwa (a) wajib mengqadha shalat karena meninggalkan salat itu dosa dan mengqadha (mengganti)-nya itu wajib;
(b) sangat dianjurkan memohon ampun pada Allah (istighfar), bertaubat dan memperbanyak salat sunnah. 

WAKTU MENG-QADHA SHALAT YANG DITINGGALKAN

2. Adapun waktu meng-qadha shalat adalah sesegera mungkin saat seseorang ingat. Kalau, misalnya tidak melakukan shalat subuh kemudian ingat pada saat solat dzuhur, maka ia harus mendahulukan shalat qadha-nya yakni shalat subuh, baru kemudian shalat dhuhur. Kecuali apabila waktu shalat dhuhur-nya sangat sempit sehingga kalau mendahulukan qadha maka dhuhurnya akan ketinggalan. Dalam kasus seperti ini, maka shalat dhuhur didahulukan.

Imam Nawawi (Yahya bin Syaraf Abu Zakariya An Nawawi) dalam kitabnya Syarh an-Nawawi ‘ala-l Muslim شرح النووي على مسلم mengomentari hadits seputar qadha shalat demikian:

حاصل المذهب : أنه إذا فاتته فريضة وجب قضاؤها ، وإن فاتت بعذر استحب قضاؤها على الفور ويجوز التأخير على الصحيح . وحكى البغوي وغيره وجها : أنه لا يجوز وإن فاتته بلا عذر [ ص: 308 ] وجب قضاؤها على الفور على الأصح ، وقيل : لا يجب على الفور ، بل له التأخير ، وإذا قضى صلوات استحب قضاؤهن مرتبا ، فإن خالف ذلك صحت صلاته عند الشافعي ومن وافقه سواء كانت الصلاة قليلة أو كثيرة

Kesimpulan madzhab (atas hadits qadha): bahwasanya apabila tertinggal satu shalat fardhu, maka wajib mengqadh-nya. Apabila tertinggal shalat karena udzur, maka disunnahkan mengqadha-nya sesegera mungkin tapi boleh mengakhirkan qadha menurut pendapat yang sahih. 

Imam Baghawi dan lainnya menceritakan suatu pendapat: bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qadha. Kalau lalainya shalat tanpa udzur, maka wajib mengqadha sesegera mungkin menurut pendapat yang lebih sahih. 

Menurut pendapat lain, tidak wajib menyegerakan qadha. Artinya, boleh diakhirkan. Dan apabila meng-qadha beberapa solat fardhu, maka disunnahkan mengqadha-nya secara urut. Apabila tidak dilakukan secara berurutan, maka shalatnya tetap sah menurut Imam Syafi’i dan yang sepakat dengannya baik solat yang tertinggal sedikit atau banyak. 

HUKUM QADHA SHALAT YANG SENGAJA DITINGGAL BERTAHUN-TAHUN

Ulama berbeda pendapat dalam kasus orang yang tidak shalat secara sengaja berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. 

PENDAPAT PERTAMA:
TIDAK WAJIB QADHA SHALAT YANG SENGAJA DITINGGLA BERTAHUN-TAHUN 

Tapi, diharuskan bertaubat nasuha dan banyak melakukan shalat sunnah apabila memungkinkan. Berdasarkan hadits:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة صلاته فإن كان أتمها كتبت له تامة و أن لم يكن أتمها قال الله لملائكته : انظروا هل تجدون لعبدي من تطوع فتكملون بها فريضته ؟ ثم الزكاة كذلك ثم تؤخذ الأعمال على حسب ذلك

Artinya: Perbuatan yang pertama dihisab (dihitung untuk diminta pertanggungjawaban) pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya seseorang sempurna, maka ditulis sempurna. Apabila tidak, maka Allah akan berkata pada malaikat: “Lihatlah apakah dia melakukan shalat sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan shalat fardhunya?” 

Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Ibnu Hazm dalam Al-Mahalli (II/235-244) berkata:

وأمّا من تعمّد ترك الصلاة حتى خرج وقتها، فهذا لا يقدر على قضائها أبدا، فليكثر من فعل الخير وصلاة التطوع، ليثقل ميزانه يوم القيامة وليستغفر الله عزّ وجلّ

Artinya: Adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat, maka dia tidak akan mampu menggantinya selamanya, maka hendaknya dia memperbanyak berbuat baik yaitu shalat sunnah, dan mohon ampun pada Allah.

PENDAPAT KEDUA:
WAJIB QADHA SHALAT YANG DITINGGAL BERTAHUN-TAHUN

Pendapat kedua ini berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) فدين الله أحق أن يقضى
Artinya: Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.

Adapun cara meng-qadha yang ditinggal begitu lama ada beberapa cara.

1. Menurut madzhab Maliki, cara mengqadha-nya adalah setiap hari mengqadha dua hari shalat yang ditinggal. Dilakukan terus menerus setiap hari sampai yakin qadha-nya sudah selesai.

2. Menurut Ibnu Qudamah, hendaknya dia mengqadha setiap hari semampunya. Waktunya terserah, boleh siang atau malam. Sampai dia yakin (menurut perkiraan) bahwa semua shalat yang ditinggalkan sudah diganti. Ibu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berkata:

إذَا كَثُرَت الْفَوَائِتُ عَلَيْهِ يَتَشَاغَلُ بِالْقَضَاءِ, مَا لَمْ يَلْحَقْهُ مَشَقَّةٌ فِي بَدَنِهِ أَوْ مَالِهِ, أَمَّا فِي بَدَنِهِ فَأَنْ يَضْعُفَ أَوْ يَخَافَ الْمَرَضَ, وَأَمَّا فِي الْمَالِ فَأَنْ يَنْق؎طِعَ عَنْ التَّصَرُّفِ فِي مَالِهِ, بِحَيْثُ يَنْقَطِعُ عَنْ مَعَاشِهِ, أَوْ يُسْتَضَرُّ بِذَلِكَ. وَقَدْ نَصَّ أَحْمَدُ عَلَى مَعْنَى هَذَا. فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ قَدْرَ مَا عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعِيدُ حَتَّى يَتَيَقَّنَ بَرَاءَةَ ذِمَّتِهِ. قَالَ أَحْمَدُ فِي رِوَايَةِ صَالِحٍ, فِي الرَّجُلِ يُضَيِّعُ الصَّلَاةَ: يُعِيدُ حَتَّى لَا يَشُكَّ أَنَّهُ قَدْ جَاءَ بِمَا قَدْ ضَيَّعَ. وَيَقْتَصِرُ عَلَى قَضَاءِ الْفَرَائِضِ, وَلَا يُصَلِّي بَيْنَهَا نَوَافِلَ, وَلَا سُنَنَهَا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَاتَتْهُ أَرْبَعُ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ , فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ. وَلَمْ يُذْكَرْ أَنَّهُ صَلَّى بَيْنَهُمَا سُنَّةً, وَلِأَنَّ الْمَفْرُوضَةَ أَهَمُّ, فَالِاشْتِغَالُ بِهَا أَوْلَى, إلَّا أَنْ تَكُونَ الصَّلَوَاتُ يَسِيرَةً, فَلَا بَأْسَ بِقَضَاءِ سُنَنِهَا الرَّوَاتِبِ, لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ, فَقَضَى سُنَّتَهَا قَبْلَهَا.

Arti ringkasan: Wajib mengqadha shalat yang ditinggal secara sengaja dalam waktu lama, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sampai lupa hitungan persisnya. Adapun caranya adalah dengan mengqadha berturut-turut tanpa diselingi shalat sunnah seperti yang pernah dilakukan Nabi saat ketinggalan 4 waktu shalat pada perang Khandaq. 

Jangan lupa untuk selalu memohon ampun atas shalat-shalat yang ditinggalkan. Karena shalat adalah pilar kedua utama dalam Islam setelah Dua Syahadat.

KESIMPULAN HUKUM QADHA SHALAT YANG DITINGGAL BERTAHUN-TAHUN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa rang yang meninggalkan shalat dengan sengaja selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sampai lupa hitungan persisnya dan dia dalam keadaan sehat, maka hendaknya dia
(a) bertaubat dan
(b) meng-qodho seluruh shalat yang ditinggal setiap hari semampunya sampai selesai;
(c) memperbanyak shalat sunnah untuk mengganti kekurangan. 

Namun, apabila dia sudah tidak sehat lagi dan menimbulkan sakit kalau mengqadha semua yang ditinggalkannya, maka dia dapat mengikuti pendapat yang tidak mewajibkan qadha shalat yang ditnggal secara sengaja.

HUKUM MENGQADHA (Qadha) SHALAT ORANG SUDAH MENINGGAL DUNIA (WAFAT) 

Orang yang meninggalkan shalat karena sakit kemudian dia mati, maka menurut pendapat dalam madzhab Hanafi, hukumnya wajib membayar fidyah untuk setiap shalat yang ditinggalkan. Besarnya adalah 1 mud (1 mud = 675 gram atau 0.688 liter).

Berdasarkan hadits Nabi : لَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ يُطْعِمُ 
Artinya: Seseorang tidak harus berpuasa atau shalat untuk orang lain, akan tetapi hendaknya ia memberi makan (fidyah).

As-Sarakhsi dalam Al-Mabsuth mengatakan,

إذا مات وعليه صلوات يطعم عنه لكل صلاة نصف صاع من حنطة، وكان محمد بن مقاتل يقول أولا: يطعم عنه لصلوات كل يوم نصف صاع على قياس الصوم، ثم رجع فقال: كل صلاة فرض على حدة بمنزلة صوم يوم وهو الصحيح

Arti kesimpulan: Kalau orang meninggal punya hutang shalat, maka wajib membayar fidyah untuk setiap shalat yang ditinggalkan.

Abu Bakar Al-Ibadi Al-Hanafi mengatakan dalam Al-Jauharah

والصلاة حكمها حكم الصيام على اختيار المتأخرين، وكل صلاة بانفرادها معتبرة بصوم يوم هو الصحيح احترازا عما قاله محمد بن مقاتل أنه يطعم لصلوات كل يوم نصف صاع على قياس الصوم، ثم رجع عن هذا القول وقال: كل صلاة فرض على حدة بمنزلة صوم يوم هو الصحيح

Arti kesimpulan: Hukumnya shalat sama dengan hukumnya puasa. Yakni, harus membayar fidyah apabila ditingalkan.

Sebagian ulama madzhab Syafi’i juga berpendapat serupa. Dimyathi dalam Hasyiah I’anah at-Talibin mengatana

من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية.. وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا

Artinya: Barangsiapa meninggal dunia dan punya hutang shalat maka tidak wajib qadha dan fidyah, akan tetapi menurut pendapat banyak ulama Syafi’i, wajib membayar fidyah 1 mud untuk setiap shalat yang ditinggalkan.

PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN QADHA SHALAT

Mayoritas ulama tidak membolehkan mengqadha-kan shalat orang yang meninggal. Namun sebagian ulama membolehkan berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari sbb:

أن ابن عمر رضى الله عنهما أمر امرأة جعلت أمها
على نفسها صلاة بقباء – يعنى ثم ماتت -فقال : صلى عنها

Artinya: Ibnu Umar pernah memerintahkan seorang perempuan yang bernadzar untuk shalat di Quba’ kemudian meninggal (sebelum melaksanakan nadzar tersebut). Ibnu berkata:  Shalatlah untuknya. 

BANYAK MENINGGALKAN SHaLAT BAGAIMANA CARA QADHA-NYA 

Kalau Anda dalam kondisi sehat secara fisik, maka Anda dapat mengqadha seluruh shalat wajib yang ditinggalkan secara mencicil setiap hari sampai Anda yakin seluruh shalat yang ditinggal sudah diganti. Info detail. 

NIAT QADHA SHALAT ORANG MATI 

Niatnya adalah: 
– Teks Arab أصلي فرض … لقضاء صلاة … لله تعالي
– Teks latin: Ushalli fardhu [sebutkan nama shalat] untuk mengqadha shalatnya [sebutkan nama yang mati] lillahi ta’ala.

HUKUM MENGQADHA SHALAT ORANG MATI

Jumhur (mayoritas) ulama fiqih berpendapat bahwa shalat yang ditinggalkan orang mati, baik sengaja atau tidak, tidak perlu diqadha oleh yang hidup. Tapi dianjurkan membayar fidyah 1 mud untuk setiap rakaat yang ditinggalkan. Namun ada juga pendapat yang membolehkan mengqadha shalat orang yang meninggal dunia (wafat). 

Kutip dan bayar cukai itu haram…..???

Kutip dan bayar cukai itu haram…..???

“Isk! Haram! Dalam Islam, mana ada cukai…”

image

“Isk! Haram! Dalam Islam, mana ada cukai…”

 

Demikianlah mungkin gambaran kasar mengenai kefahaman umum umat Islam terhadap cukai. Benarkah demikian? Apakah status sebenar cukai di sisi Islam? Apakah dalam Islam memang tiada system cukai yang diaplikasikan? Apakah pada zaman dahulu, khususnya zaman Rasulullah SAW dan khulafak ar-Rasyidin memang tiada perlaksanaan sebarang system percukaian ini?

 

Hakikatnya, isu ini sering menjadi bahan perdebatan yang agak panas dalam kalangan masyarakat awam, justeru umumnya umat Islam memang menyatakan bahawa Islam memang tidak meraikan cukai untuk dikenakan ke atas orang-orang Islam. Pandangan ini bukanlah sebuah omongan kosong, justeru memang disebutkan di dalam hadis Nabi SAW, misalnya sebuah hadis daripada Imam Ahmad di dalam musnadnya yang menyatakan: “Pengutip cukai berada di dalam neraka.”

 

Mafhum daripada hadis ini, menurut fuqaha jelas mengindikasi dan menunjukkan bahawa cukai itu adalah HARAM hukumnya di sisi Islam, kerana hanya dengan melakukan perkara yang haram sahajalah maka seseorang itu boleh terjebak ke dalam neraka. Maka, pastilah mengutip dan membayar cukai adalah haram di sisi Islam.

 

DEFINISI CUKAI

 

Cukai disebut dalam bahasa arab antaranya dharibah, yang pada asasnya bermakna ‘beban’ atau ‘yang ditimpakan.’ Allah SWT menyatakan kalimah ini pada ayat 61 surah al-Baqarah yang maksudnya: “Dan mereka ditimpakan dengan kehinaan dan kepapaan, dan sudah sepatutnya mereka mendapat kemurkaan dari Allah.”

 

Dalam definisi yang dikehendaki oleh pemakaian sehari-hari: “Bayaran (bea, sumbangan) yang dikenakan oleh kerajaan terhadap orang perseorangan (perbadanan, syarikat, barang-barang, dll) utk perbelanjaan negara dll.” (Kamus Dewan Edisi 4)

 

Mudahnya cukai bermaksud: ‘Sejumlah bayaran yang perlu diserahkan kepada pihak kerajaan atas perintah kerajaan untuk kegunaan negara.’

 

BAGAIMANA APLIKASI CUKAI ZAMAN RASULULLAH SAW DAN SAHABAT?

 

Hakikatnya, Nabi Muhammad SAW telah pun menerima sistem cukai ini, iaitu jizyah (cukai individu) dan kharaj (cukai tanah) yang berbentuk cukai yang dikenakan kepada golongan bukan Islam yang mendapat perlindungan di dalam negara Islam (disebut kafir zimmi). Namun begitu, zaman dahulu segala cukai ini tidak dikenakan kepada orang-orang Islam, sebaliknya ia hanya dikenakan kepada golongan non-muslim, sama ada mereka termasuk golongan kafir zimmi mahu pun mereka yang tunduk kepada kekuasaan Islam.

 

Kenapa demikian? Hal ini kerana, bagi orang Islam sudah ada sistem zakat yang bersifat perintah tetap. Zakat dikenakan kepada orang-orang kaya berdasarkan harta-harta tertentu dengan jumlah atau kadar yang tertentu. Manakala bagi non muslim, mereka tidak diwajibkan membayar zakat; namun mereka hakikatnya mendapat pelbagai kebaikan kerana berada di dalam naungan Islam. Maka, mereka diminta menunaikan cukai.

 

Cukai-cukai ini sebenarnya, menjadi sebahagian daripada mekanisme menambah pendapatan negara demi kebaikan seluruh rakyat. Zaman dahulu, semua sumber harta yang diperoleh oleh kerajaan akan dimasukkan ke dalam Baitul Mal dan kemudiannya akan diagih-agihkan kembali untuk kegunaan negara. Cukai ini hakikatnya seiring dengan zakat yang dikenakan ke atas umat Islam. Kadarnya juga tidak banyak bezanya dengan zakat (namun ia tidak tetap), yakni tidak sampai membebankan.

 

Di dalam kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, beliau meriwayatkan daripada az-Zuhri yang mengatakan: “Rasulullah SAW menerima jizyah daripada orang Majusi Bahrain.” Az-Zuhri menambah lagi: “Siapa sahaja di antara mereka yang memeluk Islam, maka keislamannya diterima, dan keselamatan diri dan hartanya akan dilindungi melainkan tanah. Kerana tanah tersebut adalah tanah fai’ (rampasan) bagi kaum muslimin, kerana orang itu tidak menyerah diri sejak awal, sehinggalah dia terlindungi.” Maksudnya sehingga mereka di lindungi oleh kaum Muslimin.

 

BEBERAPA JENIS CUKAI DALAM KERAJAAN ISLAM

 

1. JIZYAH

– Bermakna cukai ke atas individu (atau cukai per orang) bagi setiap individu non-muslim yang mendiami negara Islam. Mulai diperkenalkan semasa nabi SAW masih ada. Penduduk Tabuh pernah membayar jizyah satu dinar seorang pada setiap tahun kepada Rasulullah SAW.

 

2. KHARAJ

– Bermakna cukai ke atas tanah yang dimiliki oleh Negara Islam dan diusahakan oleh non-muslim. Ia juga diperkenalkan semasa Nabi SAW masih ada. Kadarnya sekitar 5 peratus dan boleh berubah mengikut pertimbangan pemerintah.

 

3. USYUR

– Bermaka cukai ke atas kapal-kapal yang dimiliki oleh pedagang non-muslim yang datang berlabuh dan menjalankan perdagangan di Negara Islam. Ia mulai diperkenalkan pada zaman pemerintah Umar al-Khattab RA. Kadarnya pula 10 peratus bagi negara musuh yang berdagang dan 5 peratus bagi kafir zimmi.

 

4. DHARIBAH

– Bermakna sejenis cukai yang dikenakan oleh pemerintah Islam kepada umat Islam yang kaya saat negara berada dalam keadaan gawat (darurat) dan pada ketika itu sumber di Baitul Mal juga sudah kering, hukumnya wajib bagi rakyat menunaikannya. Kadarnya pula ditetapkan oleh pihak kerajaan sesuai dengan keperluan.

 

ADAKAH ZAKAT JUGA SATU BENTUK CUKAI?

 

Zakat adalah rukun Islam. Ia adalah ketetapan yang mutlak (qatie). Cukai pula perkara baharu, ia mendatang sifatnya dan hanya bersifat ijtihadi. Zaman dahulu, umat Islam hanya diwajibkan menunaikan zakat, tidak diwajibkan membayar cukai. Manakala, orang-orang bukan Islam, mereka tidak diwajibkan membayar zakat; maka mereka dikenakan cukai.

 

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mengerjakan sembahyang serta memberikan zakat, mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada kebimbangan (daripada berlakunya sesuatu yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita.” (al-Baqarah: 277)

 

Oleh itu, interaksi umat Islam dan zakat adalah amat intim perkaitannya. Tidak sempurna keislaman seseorang tanpa menerima adanya zakat. Menolak zakat sebagai elemen syariat, membawa kepada kekufuran di sisi Allah SWT. Orang yang kufur atau murtad, wajib kembali kepada Islam, menerima kefarduan zakat dan tunduk patuh kepada hukum-hakam yang telah ditetapkan Allah SWT.

 

Di samping itu, tindakan segelintir manusia yang menyamakan zakat sebagai elemen cukai dalam Islam juga merupakan suatu kesalahan. Zaman silam, seperti mana pernah dikupas di dalam kitab tafsir, ada orang Islam yang telah menyamakan zakat sebagai cukai dan akibatnya mereka dimurkai oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

 

Maka, keimanan seseorang muslim itu tertakluk kepada keimanannya kepada zakat. Zakat mesti diyakini, difahami dan diamalkan. Tanpa zakat, seluruh keimanannya akan tertolak. Inilah ketinggian zakat di sisi umat Islam.

 

Atas nama menjaga ketinggian itu jugalah, Abu Bakar as-Siddiq pernah bertegas dalam hal ini saat mendepani sikap segelintir umat Islam yang enggan menyerahkan zakat kepadanya setelah kewafatan Rasulullah. Kata Abu Bakar: “Akan aku perangi orang-orang yang enggan menyerahkan zakatnya kepadaku, sebagaimana dahulunya mereka menyerahkan zakat kepada Rasulullah SAW.”

 

APAKAH HUKUM MENGAMBIL CUKAI DARIPADA ORANG ISLAM?

 

Asasnya dalam Islam, mengambil harta mestilah dengan izin, sesuai dengan sabda Nabi SAW di saat haji wada’: “Wahai orang ramai, sesungguhnya orang yang beriman adalah saudara, tidak halal bagi seseorangpun (mengambil) harta saudaranya melainkan dengan kerelaannya.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

 

Maka, fuqaha menyatakan tidak boleh mengambil harta umat Islam, melainkan di sana adanya satu keperluan yang mendesak sahaja. Itulah yang disebutkan sebagai dharibah di sisi Islam.

 

Fuqaha seperti al-Qurtubi, al-Ghazzali dan al-Suaitibi menyatakan, hanya dharibah yang boleh dikenakan kepada orang Islam, selain daripada itu tidak dibenarkan.

 

BAGAIMANA ZAKAT DAN CUKAI BERINTERAKSI PADA HARI INI?

 

Mutakhir ini, umat Islam di Malaysia dikenakan kedua-duanya, sama ada zakat mahupun cukai pendapatan; juga zakat perniagaan mahu pun cukai perniagaan. Maka, bijaksanalah dalam meraikan kedua-dua keperluan ini. Misalnya, manfaatkanlah rebat cukai pendapatan yang telah disediakan oleh pihak kerajaan, dengan menunaikan zakat (sama ada zakat harta mahu pun zakat fitrah) dan selepas itu, cukai pendapatan dapat dikurangkan.

 

Manakala bagi para peniaga, potongan masih diberikan walaupun hanya sebatas 2.5 peratus atas pendapatan agregat syarikat yang dizakatkan, namun ia masih memberikan sedikit kelegaan. Mudah-mudahan, pihak kerajaan boleh memikirkan untuk meninggikan lagi jumlah rebat zakat perniagaan ke atas cukai perniagaan, kerana kondisinya agak membebankan umat Islam.

 

Akta Cukai Pendapatan (ACP) 1967, Seksyen 6A (3): Individu muslim yang menunaikan bayaran yang wajib di sisi agama termasuklah zakat fitrah berhak mendapat rebat ke atas setiap pembayaran berkenaan ke atas cukai pendapatannya, dengan mengemukakan resit yang sah yang dikeluarkan oleh badan agama yang sah di sisi undang-undang pada tahun taksiran semasa.

 

Pelarasan PCB – SPG (Pekeliling Kerajaan 1 Jan 2001), kaedah-kaedah Cukai Pendapatan juga wajar dijadikan kesempatan yang bermanfaat untuk umat Islam menangani isu cukai.

 

KESIMPULAN

 

Rasionalnya, zakat tidak boleh dikenakan kepada golongan bukan Islam kerana mereka tidak mempunyai cukup syarat, iaitu mesti beragama Islam untuk menunaikan zakat. Namun, mereka tetap perlu memberikan sumbangan kepada negara melalui jizyah atau kharaj kepada pemerintah negara. Menurut Mohammad Assad di dalam bukunya ‘Islam at the Crossroads’, konsep zakat dan jizyah ini adalah sama, iaitu sebagai sumbangan kepada negara.

 

Perkembangan Negara Islam, khususnya pasca kewafatan Rasulullah SAW dan Abu Bakar as-Siddiq, amat memberangsangkan. Umar al-Khattab RA telah berjaya mengembangkan Islam sehingga ke luar perbatasan sempadan tanah Semenanjung Arab, dan menyaksikan banyak juga negara yang menerima ketuanan dan mengiktiraf Islam; tetapi mereka masih enggan memeluk Islam.

 

Maka, lahirlah beberapa jenis cukai lain dan pemerintah Islam meraikan perkembangan itu. Misalnya, cukai usyur telah diperkenalkan bagi mengutip cukai ke atas kapal-kapal milik pedagang bukan Islam yang menjalankan perniagaan di Negara Islam. Begitu juga dengan cukai kharaj yang dikenakan oleh pemerintah Islam kepada orang-orang bukan Islam yang mengerjakan tanah atau pertanian, ia semakin meluas dilaksanakan.

 

Sekali imbas, pemerintah Islam yang bersifat adil itu mengenakan segala jenis cukai ini bukanlah dengan maksud untuk menekan golongan bukan Islam; sebaliknya untuk mengiktiraf sumbangan mereka dan pada masa yang sama, agar wujud keadilan di antara orang-orang Islam dan non-Muslim di dalam bernegara.

 

Cukai jizyah boleh dianggap seperti zakat pendapatan ke atas muslim, cukai usyur pula seperti zakat perniagaan dan cukai kharaj pula seakan-akan zakat pertanian. Mungkin dari aspek kadar yang dikenakan ada sedikit perbezaan; namun ia masih tidak membebankan.

 

Yang jelas, legasi dan kemampuan zakat ke atas umat Islam dan cukai kepada non-muslim dalam menjana negara dan umat sudah terbukti dalam lipatan sejarah Islam. Ia menjadi alat terpenting di dalam pembinaan sebuah negara, seperti mana kemakmuran Madinah dari zaman Rasulullah SAW sehinggalah ke zaman Turki Uthmaniyyah ribuan tahun lamanya.

 

MAKLUMAT BUKU : KANDUNGAN

 
TATACARA PERLAKSANAAN
 SUJUD SAHWI

Maksud perkataan sahwi dari segi bahasa ialah lupakan sesuatu. Menurut Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

Sujud sahwi adalah nama dua sujud yang dilakukan oleh seseorang yang bersolat, untuk menutup kekurangan yang terjadi ketika solat yang disebabkan kerana lupa.[1]

 

Kebiasaannya di Malaysia sujud sahwi ini dilaksanakan seperti berikut:

Ianya dilakukan selepas tahiyat (tasyahhud) akhir sebelum salam.

Bacaan dalam sujud سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُو  (Mahasuci Tuhan yang tidak tidur dan tidak lupa).

Sebagaimana dalam bab-bab yang lalu, kita sentiasa menyarankan untuk berpegang teguh dengan perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk mencontohi baginda dalam ibadah salat sebagaimana sabdanya: Solatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku bersalat”[2] maka sepatutnya dalam pengamalan sujud sahwi ini ianya juga harus sejajar dengan tatacara yang dilaksanakan oleh baginda shalallahu ‘alaihi wasallam.

Menurut Sayyid Sabiq rahimahullah:

“Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud sebelum salam atau sesudahnya oleh seseorang yang sedang bersalat. Kedua cara ini memang diajarkan oleh Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam.”

Setelah meneliti hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita dapati sujudsahwi ini dilakukan samada sebelum atau sesudah salam bergantung kepada situasi kekurangan atau penambahan yang berlaku dalam salat. Muhammad bin Shalih al-‘Utsaiminrahimahullah menyatakan:

Sebab-sebab yang mengharuskan sujud sahwi dalam solat secara global ada tiga hal iaitu:

Penambahan gerakan (al-Ziyadah). Misalnya seseorang menambah jumlah rukuk, sujud, berdiri atau duduknya.

Pengurangan (Naqs). Misalnya seseorang kurang dalam melaksanakan rukun atau hal yang wajib dalam shalat.

Ragu-ragu (Shak). Misalnya dia ragu-ragu tentang jumlah rakaat shalat samada tiga atau empat.[4]

Sebelum kita meneruskan perbincangan di dalam bab ini, adalah baik sekiranya terlebih dahulu ditegaskan bahawa penambahan atau pengurangan gerakan dalam shalat secara sengaja boleh membatalkan solat. Sujud sahwi hanya disyari’atkan ke atas kekurangan atau penambahan yang berlaku di dalam solat secara tidak sengaja. Ini sebagaimana Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

 

إِذَا زَادَ الرَّجُلُ أَوْ نَقَصَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ.

 

Jika shalat seseorang terlebih atau terkurang, maka hendaklah dia sujud dua kali.[5]

 

 

Tatacara Sujud Sahwi Ketika Penambahan Dalam Shalat

 

Apabila kita tersedar bahawa dalam shalat kita, samada ketika masih bersolat atau sesudah selesai mengerjakannya, ada tertambah sesuatu seperti jumlah rakaat, sujud, duduk antara dua sujud dan lain-lain, maka sujud sahwi hanya dilakukan sesudah salam. Sebagai contohnya sekira seseorang itu ketika bersolat Maghrib dia telah mengerjakan empat rakaat dan hanya sedar ketika tasyahhud akhir, maka dia sempurnakan tasyahhudnya lalu memberi salam. Setelah itu dia perlu lakukan sujud sahwi lalu memberi salam lagi. Sekiranya dia hanya teringat setelah memberi salam, maka dia perlu melakukan sujud sahwi serta merta lalu memberi salam. Sekiranya pada rakaat keempat tersebut baru dia tersedar bahawa solat Maghrib sepatutnya hanya tiga rakaat, maka dia harus duduk ketika itu juga untuk mengerjakan tasyahhud akhir dan kemudiannya memberi salam. Sesudah itu dikerjakan sujudsahwi dan memberi salam sekali lagi. Dalilnya adalah dari hadis yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anh:

 

 

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ خَمْسًا

فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَلاَةِ؟ قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟

قَالَ: صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ.

Pada suatu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersolat Zuhur lima rakaat,

lalu ditanya: Apakah rakaat solat ini memang telah ditambah?”

Baginda bertanya: “Mengapa demikian?”

Para sahabat menjawab: “Anda telah melakukan solat lima rakaat.” Maka bagindapun sujud dua kali setelah memberi salam itu.[6]

Ini berbeza sekali dengan amalan sesetengah umat Islam di Malaysia yang menganggap shalat yang terlebih atau terkurang rakaat secara tidak sengaja itu telah terbatal lalu perlu diulangi keseluruhan shalat tersebut. Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallamyang sebenarnya adalah tidak diulangi shalat tersebut (menunjukkan shalat itu sah) tetapi dikerjakan sujud sahwi setelah memberi salam.

Termasuk juga dalam al-Ziyadah atau penambahan gerakan adalah memberi salam sebelum shalatnya sempurna. Contohnya seseorang sedang bersolat Asar lalu pada rakaat kedua dia telah melakukan tasyahhud akhir dan memberi salam menunjukkan berakhirnya solatnya itu. Ini dianggap penambahan kerana dia menambahkan salam di rakaat kedua tersebut. Di dalam situasi sebegini sekiranya dia tersedar akan kesilapannya setelah berlalu waktu yang lama, maka dia harus mengulangi solatnya. Namun begitu sekiranya dia tersedar dalam waktu yang singkat seperti dua atau tiga minit setelah mengakhiri solatnya, maka dia harus menyempurnakan baki solatnya yang dua rakaat lagi itu lalu memberi salam. Setelah itu hendaklah dikerjakan sujud sahwi dan memberi salam sekali lagi. Ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anh:

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam solat bersama kami pada salah satu solat di siang hari (iaitu Zuhur atau Asar), ternyata baginda hanya solat dua rakaat sahaja dan terus memberi salam. Baginda lalu pergi ke sebuah kayu yang terbelintang di masjid lalu berteleku di atasnya seolah-olah sedang marah. Tangan kanannya diletakkan di atas tangan kirinya sambil menggenggam jari-jarinya, sedang pipinya diletakkan di atas telapak kirinya bahagian luar. Kemudian ada yang segera keluar dari pintu-pintu masjid sambil mengatakan: “Solat telah diqasarkan (dipendekkan)”. Di antara orang ramai itu terdapat pula Abu Bakar dan Umar. Keduanya malu untuk bertanyakan akan hal itu. Kebetulan di antara mereka terdapat pula seorang lelaki bernama Dzulyadain, yang bertanya:

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَلاَةُ؟

قَالَ: لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ. فَقَالَ: أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ؟

فَقَالُوا: نَعَمْ. فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ

وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ

ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ.

“Ya Rasulullah, apakah anda lupa atau solat tadi memang diqasarkan?”
Baginda bersabda: “Saya tidak lupa dan solat tadi tidak pula diqasarkan.”
Maka Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Apakah benar yangdikatakan oleh Dzulyadain?” Para sahabat menjawab: “Benar.”
Maka baginda pun menuju kembali ke tempatnya semula dan menyempurnakan baki rakaatnya, kemudian memberi salam. Sehabis salam itu baginda bertakbir,
sujud sebagaimana sujud biasa atau agak panjang sedikit,
lalu mengangkat kepala dan takbir. Seterusnya baginda takbir lagi lalu sujud seperti biasa atau agak lebih lama, kemudian mengangkat kepalanya kembali.”
Tatacara Sujud Sahwi Ketika Terdapat Pengurangan Dalam Salat
Sekiranya di dalam solat kita terdapat kekurangan secara tidak sengaja di dalam perkara yang rukun ataupun fardhu maka sujud sahwinya dilakukan sebelum salam. Contohnya apabila seseorang itu tertinggal tasyahhud  awal dan terus bangun untuk meneruskan rakaat yang ke tiga, maka dia tidak perlu untuk duduk kembali untuk mengerjakantasyahhud awal tersebut. Dia hanya perlu meneruskan solatnya dan melakukan sujud sahwiselepas tasyahhud akhir dan kemudiannya barulah memberi salam. Sekiranya dia teringat bahawa dia lupa membaca tasyahhud awal ketika dia belum bangkit untuk berdiri ke rakaat ke tiga secara sempurna, maka bolehlah dia duduk semula untuk mengerjakan tasyahhud awal tersebut. Dalil tentang hal ini adalah sebagaimana hadis dari Abdullah bin Buhainahradhiallahu’anh:

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ الظَّهْرَ

 

فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ

 

فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ

 

وَهُوَ جَالِسٌ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ.

 

Bahawasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam solat Zuhur bersama mereka.

Baginda bangkit pada rakaat kedua dan tidak duduk (maksudnya, tidak melakukan tasyahhud awal), para makmumpun ikut berdiri bersama baginda;

hingga ketika hendak selesai solat, sedang makmum menunggu salamnya,

baginda bertakbir dalam posisi duduk lalu sujud dua kali sebelum salam, kemudian baru salam.”[8]

 

 

Mughirah bin Syu’bah radhiallahu’anh pula telah berkata:

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

 

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ

 

فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ.

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antaramu berdiri dari rakaat kedua

(dalam keadaan lupa untuk tasyahhud awal – pen) dan belum sempurna berdirinya

maka hendaklah dia duduk kembali (untuk mengerjakan tasyahhud awal tersebut – pen), dan apabila telah sempurna berdirinya maka janganlah dia duduk (teruskan solatnya – pen) dan hendak dia sujud sahwi dua kali.”[9]

 

 

Tatacara Sujud Sahwi Ketika Berlaku Keraguan Dalam Solat

 

Menurut Muhammad bin Sallih al-‘Utsaimin rahimahullah“Syak (ragu-ragu) adalah kebimbangan di antara dua hal tentang yang mana sebenarnya telah dilakukan.”[10]  Contohnya seseorang yang sedang bersolat Isyak dan dia terlupa samada dia sedang berada dalam rakaat ketiga atau keempat, maka terdapat dua kemungkinan dalam keraguan tersebut iaitu:

 

a) Dia memiliki keyakinan kepada salah satu antara dua hal tersebut. Contohnya dia mempunyai keyakinan yang lebih bahawa dia sebenarnya berada dalam rakaat ke empat. Dalam keadaan sebegini maka dia mengikut keyakinannya dan meneruskan solatnya. Sujud Sahwi dilakukan sesudah salam dan kemudian dia memberi salam lagi. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anh:

 

وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ.

 

Dan apabila salah seorang dari kalian ragu dalam solatnya,

maka hendaklah dia memilih yang (dianggap – pen) benar,

lalu hendaklah dia menyempurnakan solatnya lalu salam, kemudian sujud dua kali.[11]

 

 

b)  Dia tidak memiliki keyakinan di antara dua hal tersebut. Contohnya dia tidak memiliki kepastian samada dia sedang berada dalam rakaat ketiga atau keempat. Dalam keadaan yang sebegini dia sepatutnya memilih rakaat yang paling sedikit iaitu rakaat yang ke tiga lalu menyempurnakan solatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya adalah sebuah hadis daripada Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anh, daripada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam:

 

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ أَوَاحِدَةً صَلَّى أَمْ ثِنْتَيْنِ

 

فَلْيَجْعَلْهَا وَاحِدَةً

 

وَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَمْ ثَلاَثًا فَلْيَجْعَلْهَا ثِنْتَيْنِ

 

وَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَثَلاَثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَجْعَلْهَا ثَلاَثًا

 

ثُمَّ يَسْجُدْ إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ

 

وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ سَجْدَتَيْنِ.

 

Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam solatnya,

sehingga dia tidak tahu, apakah baru satu rakaat atau sudah dua rakaat, maka baiklah ditetapkannya sebagai satu rakaat sahaja. Jika dia tak tahu apakah dua atau sudah tiga rakaat, baiklah ditetapkannya dua rakaat. Dan jika tidak tahu apakah tiga ataukah sudah empat rakaat, baiklah ditetapkannya tiga rakaat, kemudian hendaklah dia sujud bila selesai solat di waktu masih duduk (tasyahhud akhir – pen) sebelum memberi salam, iaitu sujud sahwi sebanyak dua kali.[12]

 

 

Demikianlah penjelasan tentang keadaan yang memerlukan sujud sahwi dilakukan sebelum atau sesudah salam seperti yang terdapat dalam hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Bacaan Ketika Sujud Sahwi

Jika kita teliti hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan sujud sahwi, ternyata baginda shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengajar bacaan khusus yang perlu dibaca ketika sujud sahwi ini. Apa yang dapat kita simpulkan di sini bahawa bacaan ketika sujud sahwi adalah sama seperti yang dibacakan dalam sujud solat yang biasa:

 

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ.

 

Maha suci Tuhanku dan segala puji bagi-Nya.

 

 

Tentang bacaan سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُو  Subhaana man laayanaamu walaa yashuu (Mahasuci Tuhan yang tidak tidur dan tidak lupa), ianya bukan dari sunnah Nabishalallahu ‘alaihi wasallam, tidak pernah diamalkan oleh para sahabat dan seluruh salaf al-Ummah termasuk imam-imam mazhab yang empat.

Muhammad Abdussalam Khadr al-Syaqiry rahimahullah berkata:

Tidak pernah diriwayatkan sesuatu doa yang khusus untuk sujud sahwi daripada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Doa yang dibacanya (shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sujud sahwi – pen) adalah sama seperti doa yang dibaca ketika sujud biasa. Adapun pendapat yang mengatakan bahawa bacaan saat sujud sahwiadalah سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُو  adalah tidak benar kerana ianya tidak pernah diamalkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mahupun para sahabatnya. Tidak ada dalil yang berasal dari sunnah yang menunjukkan bacaan ini. Doa itu sebenarnya adalah doa yang diperolehi dari mimpi sebahagian kaum sufi. Oleh kerana itulah, jangan mengerjakan doa tersebut. Ambillah urusan agamamu dari kitab-kitab hadis yang sahih.[13]

 

Begitulah amaran tegas dari Muhammad Abdussalam al-Syaqiry rahimahullah tentang doa tersebut. Ini kerana doa tersebut merupakan perkara baru yang diada-adakan (bid’ah) dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memerintah kita dengan tegas untuk menolak segala amalan yang tidak ada contohnya dari al-Qur’an dan al-Sunnah:

 

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ

 

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

 

Maka sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al-Qur’an)

dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (al-Sunnah),

serta seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan

dan setiap yang diada-adakan (bid’ah) adalah sesat.[14]

 

 

Oleh itu sewajarnya untuk kita meninggalkan amalan tersebut dan tetap berada di atas sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Masya Allah,!!! Ternyata Daun ini Ampuh Obati Diabetes Bisa Kala Khan Resep Doker

Masya Allah,!!! Ternyata Daun ini Ampuh Obati Diabetes Bisa Kalahkan Resep Dokter
 2 November 2015 Kesehatan

image

Ciri – ciri tanamannya mempunyai sedikit manis, resin, serta bunga (serupa dengan violet), mungkin saja lantaran ada insulin, yang membuahkan rasa manis dari akar dari Elecampane, juga. rimpang berkembang cuma dibawah permukaan tanah serta selalu membuahkan tunas antena.

Umbi memiliki kandungan fructooligosaccharide, satu polisakarida diolah terbagi dalam fruktosa.
Fructooligosaccharides mempunyai rasa manis serta mempunyai dampak prebiotik. Tanaman Yacon bisa tumbuh kian lebih dua meter tingginya serta membuahkan bunga kuning mencolok pada akhir musim tanam.

Diakui daun insulin bisa turunkan kandungan gula darah dengan cepat serta aman di mengkonsumsi.
Pohonnya memiliki bunga berwarna kuning (seperti bunga matahari) serta mudah sekali di tanam.

Bisa tumbuh di daerah panas ataupun memiliki nuansa dingin seperti di daerah puncak.
Faedah daun insulin untuk kesehatan terlebih pasien diabetes.
Daun yakon juga memiliki banyak manfaat, seperti :

– Juga sebagai obat diabetes
– Juga sebagai penguat hati serta obat permasalahan hati
– Juga sebagai antimikrobial untuk ginjal serta infeksi kandung kemih
– Juga sebagai antioksidan (terlebih pada hati)

Daun yakon bisa turunkan kandungan gula dalam darah. Serta bisa tingkatkan dampak insulin serta obat diabetes hingga untuk pengguna daun yakon butuh dikerjakan penelusuran kandungan gula darahnya saat sebelum serta sepanjang penggunaan daun yakon.

Daun yakon bisa dikonsumsi seperti meminum jamu lewat cara dikeringkan dulu atau daun fresh di rebus lalu airnya diminum 2 hingga 3 kali satu hari satu cangkir.
Di Indonesia telah ada yang jual teh yakon, yakni daun yakon yang telah dikeringkan hingga mempermudah customer untuk meminumnya.

Bagaimanakah Yakon atau Smallanthus sonchifolia bisa mengobati diabetes? Menurut Dr Sri Widowati, peneliti di Balai Besar Riset serta Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, yakon kaya insulin yang unit-unitnya terbagi dalam gula-gula fruktosa yg tidak bisa diolah oleh enzim pencernaan namun difermentasi oleh usus besar.

Oleh karenanya mengkonsumsi yakon tidak mungkin saja tingkatkan kandungan gula dalam darah.
Dampak hipoglikemik-penurun gula darah-yakon juga diuji oleh Manuel J. Aybar dari Departamento de Biologia del Desarrollo, Universidad Nacional de Tucuma, Argentina.
Sejumlah 20 gr daun Yakon kering dicampurkan pada 200 ml air yang dididihkan sepanjang 20 menit. Sesudah dingin, ramuan disaring.

Lima daun arboloco-sebutan yakon di Kolombia-dijemur terbalik.
Sesudah kering, digerus sampai membuahkan 15 gr. Serbuk daun tanaman itu dicampurkan dalam 600 ml air mendidih.

Air berwarna hijau pekat itu diminum 3 kali satu hari : pagi, siang, serta malam. Diluar itu anda dapat teratur konsumsi daun yakon. (agrobisnisinfo. com)

Tata Cara Dan Do’a Sholat Jenazah Lengkap

Tata Cara Dan Do’a Sholat Jenazah Lengkap
 AHAD, 01 NOVEMBER 2015
DO’A  SHALAT MAYAT

Rukun, syarat, panduan tatacara sholat jenazah atau sholat mayit dibawah ini adalah sudah kami ringkas, dan kami lengkapi dengan beberapa dalil hadits dari Nabi SAW, rukun Shalat Jenazah  terdiri dari 8 rukun dan Hukum menjalankannya adalah “Fardhu Kifayah” artinya jika tidak ada yang menjalankan, semua akan berdosa. Shalat ini gak memakai ruku’, sujud, i’tidal dan tahiyyat, hanya dengan 4 takbir dan 2 salam, yang dilakukan dalam keadaan berdiri. 

Berikut ini adalah rukun sholat jenzah :

1. Niat

Setiap shalat dan ibadah lainnya kalo gak ada niat dianggap gak sah, termasuk niat melakukan Shalat jenazah. Niat dalam hati dengan tekad dan menyengaja akan melakukan shalat tertentu saat ini untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).

Hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Muttafaq Alaihi).

2. Berdiri Bila Mampu

Shalat jenazah sah jika dilakukan dengan berdiri (seseorang mampu untuk berdiri dan gak ada uzurnya). Karena jika sambil duduk atau di atas kendaraan [hewan tunggangan], Shalat jenazah dianggap tidak sah.

3. Takbir 4 kali

Aturan ini didapat dari hadits Jabir yang menceritakan bagaimana bentuk shalat Nabi ketika menyolatkan jenazah.

Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib) dan beliau takbir 4 kali.

(HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355)

Najasyi dikabarkan masuk Islam setelah sebelumnya seorang pemeluk nasrani yang taat. Namun begitu mendengar berita kerasulan Muhammad SAW, beliau akhirnya menyatakan diri masuk Islam.

4. Membaca Surat Al-Fatihah

5. Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW

6. Doa Untuk Jenazah

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

“Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya.”

(HR. Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947).

Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain :

“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi.”

7. Doa Setelah Takbir Keempat

Misalnya doa yang berbunyi :

“Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu..”

8. Salam

Berikut ini adalah Tata Cara, Urutan dan Do’a Sholat Jenazah :

1. Lafazh Niat Shalat Jenazah :

Ushalli ‘alaa haadzal mayyiti fardlal kifaayatin makmuuman/imaaman lillaahi ta’aalaa..

Artinya:

“Aku niat shalat atas jenazah ini, fardhu kifayah sebagai makmum/imam lillaahi ta’aalaa..”

2. Setelah Takbir pertama membaca: Surat “Al Fatihah.”

3. Setelah Takbir kedua membaca Shalawat kepada Nabi SAW : “Allahumma Shalli ‘Alaa Muhamad?”

4. Setelah Takbir ketiga membaca:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”

atau bisa secara ringkas :

Allahummagh firlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu..

Artinya:

“Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat, sejahtera dan maafkanlah dia”

5. Setelah takbir keempat membaca:

Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu..”

Artinya:

“Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya”

6. “Salam” kekanan dan kekiri.

Catatan: Jika jenazah wanita, lafazh ‘hu’ diganti ‘ha’.

Demikian beberapa ringkasan artikel tentang tata cara dan do’a sholat jenazah, semoga bisa menambah wawasan dan amaliah pembaca sekalian, terimakasih sudah berkunjung semoga bermanfaat.