Apakah seluruh sabda dan ucapan Nabi Saw merupakan wahyu atau tidak?

Apakah seluruh sabda dan ucapan Nabi Saw merupakan wahyu atau tidak?

Pertanyaan

Apakah seluruh sabda dan ucapan Nabi Saw merupakan wahyu atau tidak? Dengan kata lain, apakah seluruh ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Saw dan kemudian segala perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Saw merupakan ajaran dan pelajaran Ilahi yang disampaikan kepadanya melalui wahyu, atau terdapat ucapan dan sabda Nabi Saw yang bukan wahyu atau ucapan dan sabda yang berkaitan dengan agama dan hukum-hukum harus dipisahkan dengan ucapan yang bertalian dengan obrolan keseharian?

Jawaban Global

Terdapat ragam pendapat para pemikir otoritatif terkait masalah ini. Sebagian berpandangan, dengan memperhatikan kemutlakan ayat 3 dan 4 surah al-Najm,[i] 
image

Dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri.
image
Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Surah An Najm ayat 3 Dan 4.

bahwa seluruh ucapan, perbuatan dan perilaku Nabi Saw adalah wahyu. Sebagian lainnya berkeyakinan bahwa ayat 4 surah al-Najm terkait dengan al-Qur’an dan ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi Saw. Meski Sunnah Nabi Saw merupakan hujjah, ucapan, tindakan dan diamnya tidak bersumber dari hawa nafsu.

Nampaknya yang dapat dikatakan dalam masalah ini secara definitif adalah bahwa tidak satu pun perbuatan dan sirah Nabi Saw yang dilakukan tanpa izin wahyu, sebagaimana ucapan beliau demikan juga adanya. Dan obrolan keseharian dan adat kehidupan Nabi Saw tidak berasal dari hawa nafsu, pada hakikatnya mustahil terjadi perbuatan dosa pada pribadi Rasulullah Saw dalam hal ini.

[i]“Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm [53]:3-4)

Jawaban Detil

Tanpa syak, para nabi Allah memiliki hubungan khusus dengan Allah Swt dan mereka menerima pelbagai hukum, aturan, ajaran Ilahi melalui hubungan ini yang kemudian disampaikan kepada masyarakat.

Realitas dan kuiditas hubungan ini merupakan perkara yang sangat pelik dan manusia tidak mampu memahami dan mencerap hubungan dengan baik. Namun hal itu tidak bermakna kejahilan mutlak manusia terhadap permasalahan ini. Dengan kata lain, masalah “wahyu” bukan merupakan sebuah permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dikenali hakikatnya oleh manusia sehingga harus ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja. Namun ia dapat dipahami sesuai dengan kadar dan keluasan akal, pemahaman, pencerapan, manusia yang dapat menggali wahyu dan firman Ilahi ini.

 

Wahyu secara leksikal

Wahyu merupakan prinsip dan kaidah yang berguna untuk menyampaikan “ilmu” dan sebagainya. Tipologi wahyu adalah sebuah isyarat cepat yang bertautan dengan tulisan dan risalah, terkadang merupakan deklarasi terhadap rumusan dan formula, terkadang dalam bentuk tunggal dan terlepas dari susunan, isyarah terhadap sebagian anggota badan, terkadang bermakna ilham dan ucapan tersembunyi. Karena itu, tersembunyi, cepat dan misterius tergolong sebagai rukun-rukun asli wahyu.[1]

 

Hakikat wahyu

Wahyu pada umumnya sepadan dengan ilmu, pemahaman dan pencerapan. Tidak setimpal dengan perbuatan dan pergerakan, kendati manusia tatkala melakukan perbuatan mencari bantuan dari percikan pemikiran dan pandangan. Ilmu dan pemahaman merupakan bentuk tipikal eksistensi yang jauh dan bebas dari kuiditas.

Dengan kata lain, wahyu merupakan pahaman yang disaripatikan dari “keberadaan.” Dengan demikian, wahyu tidak memiliki kuiditas dan tidak dapat dimaknakan melalui genus, differentia, definisi, gambaran (rasm). Karena itu, wahyu jauh dan terbebas dari sepuluh kategori kuiditas yang umum dikenal orang. Pahaman wahyu – seperti makna keberadaan – memiliki instanta luaran (mishdaq) dimana contoh luaran ini memiliki tingkatan yang beragam dan berbeda.[2]

Karena itu, pelbagai definisi yang dibeberkan bagi wahyu merupakan definisi syarh al-ism (alih-bahasa semata) bukan definisi hakiki. Di samping itu, wahyu bukan merupakan hubungan biasa sehingga dapat dicerap dan dipahami dengan mudah oleh siapa saja.

 

Definisi wahyu

Allamah Thabathabai dalam mendefinisikan wahyu berkata, “wahyu merupakan pencerapan dan pemahaman khusus dalam batin para nabi dimana hal ini tidak mungkin diperoleh oleh siapa saja kecuali mereka yang mendapatkan inâyah (perhatian khusus) Allah Swt.[3]

Allamah Thabathabai pada kesempatan lain menulis, “Wahyu adalah perkara ekstraordinari (luarbiasa) yang berasal dari pencerapan-pencerapan batin dan pemahaman simbolik yang tertutup dari indera-indera lahir.”[4]

Dalam menjawab pertanyaan yang mengemuka maka harus dikatakan bahwa:

Para pemikir dan ulama Islam melontarkan pelbagai pandangan beragam dan berbeda dengan memanfaatkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat:

Abdurrazzaq Lahiji terkait masalah ini berkata, “Apabila ada orang yang menduga bahwa Nabi Saw pada sebuah perkara beramal berdasarkan pikiranya sendiri dan tidak menantikan wahyu maka dari sudut mana pun orang ini tidak tahu dan jahil terhadap tujuan kenabian dan hakikat nabi. Dan orang sedemikian di hadapan orang-orang berakal telah keluar dari wilayah agama, khususnya karena hal ini bertentangan dengan nash al-Qur’an “wama yanthiqu anilhawa, in huwa wahyu yuha” dan menspesifikasi (takhsis) masalah ini terhadap sebagian masalah lainnya sejatinya merupakan perbuatan yang tidak dapat diterima. Seluruh urusan yang bertalian dengan agama memerlukan izin Ilahi dan wahyu Rabbani, nah tatkala Nabi tidak berbuat berdasarkan pendapatnya sendiri maka bagaimana mungkin orang lain dapat berbuat sebaliknya.” [5]

Dalam tafsir Nemune[6] ditulis demikian bahwa firman Allah Swt dalam al-Qur’an “in wahyu yuha” tidak hanya berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an, melainkan dengan indikasi ayat-ayat sebelumnya Sunnah Nabi Saw juga termasuk sebagai bagian dari “yang diwahyukan” ini. Dimana bukan hanya ucapan Nabi Saw namun perbuatan serta perilaku Nabi Saw adalah sesuai dengan wahyu Ilahi. Lantaran pada ayat 3 dan 4 surah al-Najm secara tegas dijelaskan bahwa “Dia tidak berkata-kata mengikuti hawa nafsunya, segala yang ia ucapakan adalah wahyu.”

Allamah Thabathabai dalam penafsiran ayat “Wamâ yanthiq ‘anil hawa” berkata, “maa yanthiqu” bercorak mutlak, dan tuntutan kemutlakan ini adalah bahwa hawa nafsu telah dinafikan dari seluruh ucapan Nabi Saw. Namun terkait dengan ayat-ayat yang menyebutkan “Shâhibukum[7] ini adalah dialamatkan untuk kaum musyirikin[8] karena indikasi kedudukan yang terdapat pada ayat ini harus dikatakan bahwa apa yang diserukan kepadanya untuk kaum musyrikin dan apa yang dibacakan dari ayat-ayat al-Qur’an, ucapan-ucapannya tidak bersumber dari hawa nafsu, melainkan apa pun yang dikatakannya adalah wahyu yang diturunkan Allah Swt kepadanya.”[9]

Artinya ayat ini menetapkan bahwa seluruh hal-hal religius[10]yang dikatakannya dalam masalah-masalah bimbingan, pandangan dunia dan petunjuk bukan hal-hal partikular duniawi adalah wahyu.[11] Namun kemungkinan seperti ini tertolak dimana ucapan-ucapan biasa, perintah dan larangan Nabi Saw terkait urusan pribadi, keluarga misalnya Nabi Saw bertutur kata kepada istrinya, berikan wadah itu kepadaku, dan sebagainya berasal dari hawa nafsu.[12] Nabi Saw dalam ucapan-ucapan semacam ini maksum dan tidak melakukan kekeliruan dan kesalahan.[13] Karena itu ucapan dan perbuatan[14] Nabi Saw dalam kondisi-kondisi semacam ini, boleh dan tidak bertentangan dengan keridhaan Ilahi. Karena apabila perbuatan-perbuatan ini bermasalah maka hal tersebut tentu tidak akan dilakukan oleh Nabi Saw.[]

 

Untuk telaah lebih jauh silahkan Anda merujuk pada:

Silsilah Darshâ-ye Khârij Ilm Ushul, kitâb-e awwal, daftar-e Panjum, Mabâdi-ye Shudur-e Sunnat, Martaba wa Dâman-ye Ishmat, hal. 34-67, Ustad Mahdi Hadawi Tehrani.

Advertisements

Jom Kira Umur Kita Mengikut Tahun Islam yang Sebenar

Seperti yang kita tahu, umur kita ini dikira menggunakan kalendar Masihi dan bukan mengikut tahun atau kalendar hijrah. Pernahkan anda terfikir berapa umur anda sekarang jika dikiran menggunakan kalendar Hijrah? Aried sendiri teringat kepada kata-kata Ustaz yang menyatakan bahawa umur kita ini sebenarnya ada 2 iaitu:

1. Umur Tahun Hijrah (ISLAM)

2. Umur Tahun Masihi

Apabila ditanya sama ada umur tahun hijrah dan tahun masihi yang mana lebih banyak, ustaz nyatakan umur hijrah ini lebih banyak. Jom kita kira.

Jom Kira Umur Kita Mengikut Tahun Islam yang Sebenar!

1. Klik IslamCity

2. Masukkan kelahiran anda

3. Dapatkan tahun kelahiran hijrah anda dan tolak pada tahun hijrah ini.

Contohnya lihat gambar dibawah.

Jom Kira Umur Kita Mengikut Tahun Islam yang Sebenar!

* Aried lahir tahun 1409 Hijrah dan Sekarang sudah 1433. Jadi,

Umur Hijrah(Islam) = 1433 – 1409 = 23 Tahun.
Umur Masihi = 2011-1989 = 22 Tahun

Cara mudah untuk pengiraan ini dengan cepat ialah tambahkan setahun apabila umur anda 20 tahun masihi. Contohnya:

1. 21 Tahun Masihi = 21 + 1 tahun = 22 Tahun Hijrah (Islam)

2. 62 Tahun Masihi = 62 + 3 Tahun = 65 Tahun Hijrah (Islam)

–> * 62 tahun = 20 tahun + 20 tahun + 20 tahun = 3 tahun

Mudah bukan?

 aku pnye tarikh lahir Masihi pada hari selasa

17 mac 1992

so aku punye tarikh lahir hijrah (islam) ialah

14 ramadan 1412

umur hijrah(islam)=1433-1412=21 tahun

umur masihi=2012-1992=20 tahun

P/s: Terima kasih buat ustaz mamat yang kongsi ilmu ini dahulu. Moga Allah rahmati ilmu mu.

Cara Istri yang Sedang Haid Memberikan Kepuasan Seks Kepada Suaminya

Cara Istri yang Sedang Haid Memberikan Kepuasan Seks Kepada Suaminya
Jadi, Jangan Sekali-kali Melakukan Onani Tanpa Bantuan Tubuh Istri

Pada kesempatan lalu, kami sudah membahas apa kafarrah bagi seorang suami yang melakukan hubungan seksual padahal istri dalam kondisi haid? Sekarang bahasannya adalah menjawab pertanyaan, “lalu bagaimana cara bagi seorang istri memberikan kepuasan kepada suami ketika dirinya sedang haid?” Mari kita simak paparannya yang sangat jelas di bahas dalam format tanya jawab:

 

Pertanyaan:

Bismillah… ustadz, bagaimana cara memuaskan suami ketika istri haid? bolehkah istri (‘afwan) memainkan penisnya hingga maninya keluar? Apakah ini termasuk onani atau tidak? syukron

Dari: Ana

 

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada seribu cara untuk memuaskan suami ketika istri sedang haid. Karenaislam tidak menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis yang selayaknya dijauhi, sebagaimana praktek yang dilakukan orang yahudi. Anas bin Malik menceritakan,

أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت فسأل الصحابة النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى : ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض…

Sesungguhnya orang yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, mereka tidak mau makan bersama istrinya dan tidak mau tinggal bersama istrinya dalam satu rumah. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian Allah menurunkan ayat, yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah bahwa haid itu kotoran, karena itu hindari wanita di bagian tempat keluarnya darah haid…” (HR. Muslim 302).

Dengan demikian, suami masih bisa melakukan apapun ketika istri haid, selain yang Allah larang dalam Al-quran, yaitu melakukan hubungan intim.

 

Ada 3 Macam Interaksi Intim Suami dan Istri Ketika Haid

Ada 3 macam interaksi intim antara suami & istri ketika haid:

Pertama, interaksi dalam bentuk hubungan intim ketika haid. Perbuatan ini haram dengan sepakat ulama, berdasarkan firman Allah,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Orang yang melanggar larangan ini, wajib bertaubat kepada Allah, dan membayar kaffarah, berupa sedekah satu atau setengah dinar.

 

Kedua, interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu selain di daerah antara pusar sampai lutut istri ketika haid. Interaksi semacam ini hukumnya halal dengan sepakat ulama. A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حِضْتُ يَأْمُرُنِي أَنْ أَتَّزِرَ، ثُمَّ يُبَاشِرُنِي

Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku. (HR. Ahmad 25563, Turmudzi 132 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Maimunah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid. (HR. Muslim 294)

 

Ketiga, interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu di semua tubuh istri selain hubungan intim dan anal seks. Interaksi semacam ini diperselisihkan ulama.

1. Imam Abu Hanifah, Malik, dan As-Syafii berpendapat bahwa perbuatan semacam ini hukumnya haram. Dalil mereka adalah praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keterangan A’isyah dan Maimunah.

2. Imam Ahmad, dan beberapa ulama hanafiyah, malikiyah dan syafiiyah berpendapat bahwa itu dibolehkan. Dan pendapat inilah yang dikuatkan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (3/205).

Diantara dalil yang mendukung pendapat kedua adalah

a. Firman Allah

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari Al-Mahidh..”

Ibn Utsaimin mengatakan, Makna Al-Mahidh mencakup masa haid atau tempat keluarnya haid. Dan tempat keluarnya haid adalah kamaluan. Selama masa haid, melakukan hubungan intim hukumnya haram. (As-Syarhul Mumthi’, 1/477)

Ibn Qudamah mengatakan,

فتخصيصه موضع الدم بالاعتزال دليل على إباحته فيما عداه

Ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa selain itu, hukumnya boleh. (Al-Mughni, 1/243)

b. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika para sahabat menanyakan tentang istri mereka pada saat haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah.” (HR. Muslim 302).

Ketika menjelaskan hadis ini, At-Thibi mengatakan,

إِنَّ الْمُرَادَ بِالنِّكَاحِ الْجِمَاعُ

“Makna kata ‘nikah’ dalam hadis ini adalah hubungan intim.” (Aunul ma’bud, 1/302)

Hubungan intim disebut dengan nikah, karena nikah merupakan sebab utama dihalalkannya hunungan intim.

c. Disebutkan dalam riwayat lain, bahwa terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan praktek yang berbeda seperti di atas.

Diriwayatkan dari Ikrimah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد من الحائض شيئا ألقى على فرجها ثوبا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak melakukan hubungan intim dengan istrinya yang sedang haid, beliau menyuruhnya untuk memasang pembalut ke kemaluan istrinya.” (HR. Abu Daud 272 dan Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan: Sanadnya kuat).

 

Jadi, Jangan Sekali-kali Melakukan Onani Tanpa Bantuan Tubuh Istri

Memahami hal ini, selayaknya suami tidak perlu risau ketika istrinya haid. Dan jangan sekali-kali melakukan onani tanpa bantuan tubuh istri. Mengeluarkan mani dengan selain tubuh istri adalah perbuatan yang terlarang, sebagaimana firman Allah ketika menyebutkan kriteria orang mukmin yang beruntung,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ( ) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ( ) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun: 5 – 7)

Diantara sifat mukminin yang beruntung adalah orang yang selalu menjaga kemaluannya dan tidak menyalurkannya, selain kepada istri dan budak wanita. Artinya, selama suami menggunakan tubuh istri untuk mencapai klimaks syahwat, maka tidak dinilai tercela. Berbeda dengan “orang yang mencari selain itu”, baik berzina dengan wanita lain, atau menggunakan bantuan selain istri untuk mencapai klimaks (baca: onani), Allah sebut perbuatan orang ini sebagai tindakan melampaui batas.

Allahu a’lam

Apa Hukumnya dalam Islam Suami Istri Berhubungan Intim

Apa Hukumnya dalam Islam Suami Istri Berhubungan Intim

Datang pertanyaan dari pengunjung Walimah.Info mengenai, “Apa Hukumnya dalam Islam Suami Istri Berhubungan Intim?”

Jawabannya:

Hukum islam bagi seorang yang sudah menikah ketika melakukanhubungan seksual dikembalikan kepada paparan hukum islam pada umumnya. Bisa Wajib, Sunnah, Mubah, Maupun Haram.

Menjadi wajib apabila seorang suami atau istri sedang mengalami kondisi ‘pengen’ berhubungan seksual yang memuncak. Di khawatirkan padanya kalau tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan halalnya akan jatuh pada perbuatan maksiat / zina. Maka ketika suami mengajak istrinya berhubungan seks, istri diharuskan memenuhinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia (suaminya –ed) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya yang dialkukan istri adalah memenuhi ajakan suaminya ketika dirinya diajak berhubungan suami istri.

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

“Jika seorang laki-laki mengajak istrinya untuk menyalurkan hajatnya (kebutuhan biologisnya -ed), maka hendaklah ia mendatangi suaminya, meskipun dia sedang berada di tungku perapian.” (HR. Ibnu Syaibah, at-Tirmidzi, ath-Thabarani dan berkata at-Tirmidzi Hadits Hasan Gharib, dan dishahihkan Ibnu Hibban no 4165)

Berkata al-Imam Syaukani rahimahullah, tentang hadits diatas: “Kalau dalam keadaan seperti itu saja tidak boleh seorang istri menyelisihi suami, tidak boleh tidak memenuhi ajakan suami sedangkan dia dalam keadaan seperti itu, maka bagaimana dibolehkan untuk menyelisihi suami selain dari kondisi itu.” (Silahkan Lihat Nailul Authaar:269/231)

Menjadi SUNNAH secara umum ketika rutin melalukan hubungan intimdiniatkan mencapai beberapa tujuan utama dari jimak (bersetubuh) antara lain:

Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allah

Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus

Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga

Menundukkan pandangan,  menahan  nafsu,

menguatkan  jiwa dan agar tidak berbuat  serong  bagi  kedua  pasangan

Dihukumi MAKRUH ketika melakukan hubungan seksual di dalam kamar mandi (menurut pendapat sebagian ulama). Makruh juga hukumnya menceritakan detail proses hubungan intim yang dilakukan suami istri kepada orang lain tanpa kepentingan yang besar di dalamnya.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:”Dan dalam hadits ini  (”Sesungguhnya yang termasuk manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya lalau dia menceritakan rahasianya (jima’ tersebut)”(HR Muslim) )ada pengharaman bagi seorang laki-laki menyebarluaskan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa jima’, dan menceritakan secara detail hal itu dan apa yang terjadi dengan perempuan pada kejadian itu (jima’) berupa ucapan (desahan) maupun perbuatan dan yang lainnya. Adapun sekedar menyebutkan kata jima’, apabila tidak ada faidah dan keperluan di dalamnya maka hal itu makruh karena bertentangan dengan muru’ah (kehormatan diri)

Menjadi HARAM / BERDOSA ketika istri sedang haid, suami memaksa melakukan hubungan seksual. Atau ketika istri sedang nifas termasuk melakukan hubungan seksual di dubur (anal seks).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih” (Al Majmu’, 2: 359). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)

Dalam hadits disebutkan,
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-
“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”