Juni 1948; Rakyat Aceh Sumbang Uang Beli Pesawat Seulawah

“SAYA tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu (membeli pesawat) belum terkumpul,” ucap Bung Karno, malam itu.
Juni 1948; Rakyat Aceh Sumbang Uang Beli Pesawat Seulawah

18 June 2015 13:25 – Irmansyah D Guci

image

“SAYA tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu (membeli pesawat) belum terkumpul,” ucap Bung Karno, malam itu. Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno melempar pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh pejuang dan masyarakat, pengusaha serta pemuda, di Aceh Hotel, saat ia berkunjung ke Tanah Rencong medio Juni 1948.

“Di situlah Bung Karno mencetuskan sebuah ide dan sekaligus menantang jiwa patriotisme rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan,” tulis Teungku Abdul Karim Jakobi (Tgk. A. K. Jakobi), salah seorang pelaku sejarah, dalam bukunya “Aceh Daerah Modal”, diterbitkan Yayasan “Seulawah RI-001”, Jakarta, 1992.

Menurut Tgk. A. K. Jakobi, Bung Karno berharap hasil pertemuan malam itu dapat terkumpul sejumlah dana perjuangan untuk membeli sebuah pesawat terbang, yang sangat diperlukan dalam tahap perjuangan kemerdekaan.

Tgk. A. K. Jakobi turut “melukiskan” respon para tokoh Aceh atas tantangan Bung Karno. Terlihat betapa tingginya rasa solidaritas sosial sesama, betapa tulus dan murninya hati mereka.

“Para hadirin saling melirik soalnya siapa yang memulai. Tanggapan pertama ternyata datang dari seorang pemuda yang ganteng. Namanya M. Djuned Joesoef. Usianya 30 tahun saat itu. Ia seorang pengusaha gede, kebetulan menjabat pula sebagai ketua GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh)”.

“Kemudian pengusaha lainnya menyusul. Malam itu juga terkumpul dana cukup besar. Melihat hasil dana yang masuk, Bung Karno dengan senyum berseri mulai mengajak hadirin beranjak ke meja makan,” tulis Tgk. A. K. Jakobi.

Tgk. A. K. Jakobi melanjutkan, “Tidak lama setelah itu, terkumpul seluruh dana sebesar 120.000 dollar Malaysia dan emas 20 kg cukup membeli dua pesawat terbang jenis Dakota. Dalam jumlah itu telah masuk sumbangan Pemda Aceh, yang diberikan oleh Residen T.T. Daud Syah”.

Menurut Tgk. A. K. Jakobi, Bung Karno memberi nama pesawat itu “Seulawah Rl-001” sebagai penghormatan untuk masyarakat Aceh yang secara ikhlas dan tulus telah memberikan sumbangan yang berharga pada situasi sulit untuk bangsa yang sedang berjuang. “Sebagai tanda kesetiaan rakyat Aceh terhadap negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.

Pesawat “Seulawah RI-001”, menurut Tgk. A. K. Jakobi, baru tiba di Tanah Air akhir Oktober 1948, saat situasi Republik sedang mengalami kepungan politik blokade ekonomi dan militer dari pihak Belanda.

“Pesawat perintis yang menjadi kekuatan pertama armada TNI-AU (itu) telah berjasa besar dalam menerobos blokade Belanda. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Suliki (Bukittinggi) dan Kutaraja (Banda Aceh). Rute Adisucipto-Yogyakarta- Halim Perdanakusumah, Palembang, Pekan Baru, Medan dan lapangan Blang Bintang di Banda Aceh,” tulis Tgk. A. K. Jakobi.

Menurut Tgk. A. K. Jakobi, Wiweko Soepono bersama crew yang menerbangkan “Seulawah RI-001” berkisah tentang bagaimana ketatnya blokade udara Belanda terhadap Republik. Mantan Direktur Utama Garuda itu berucap, ada empat kali inisiatif menerobos blokade Belanda oleh Angkatan Udara kita.

Pertama, pesawat terbang Dakota RI-002 tujuan Manila. Yang menerbangkan Opsir Udara II Budiarjo (mantan Menpen Budiarjo) dan opsir Udara II Muharto.

Kedua, pesawat Dakota, VT-CLA dari Singapura, yang ditembak oleh P-04 Kittyhawk Belanda. Gugur penerbangnya Komodor Muda Udara A. Adisucipto, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdurrahman Saleh dan Opsir Udara I Adisumarmo Wirjokusumo.

Ketiga, pesawat Avro Anson RI-003 jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia. Gugur penerbangnya Komodor Muda Udara A. Halim Perdanakusuma dan Opsir Udara I Iswayudi.

Keempat, pesawat “Seulawah RI-001” tujuan Rangoon, Birma (Myanmar). Penerbang Opsir Udara II Wiweko Soepono bersama crew.

Tugas pesawat “Seulawah RI-001”, menurut Menurut Tgk. A. K. Jakobi, adalah membawa senjata, mesiu dan obat-obatan. Sekaligus mengangkut Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dari Yogyakarta ke Sumatera tujuan Banda Aceh.

“Ada dua pesawat yang disumbangkan rakyat Aceh. Yang satu dikaryakan di Pangkalan Rangoon. Dari hasil keuntungan diperoleh dua pesawat baru RI-007dan RI-009. Pesawat ini ditugaskan juga untuk mengatur pembiayaan perwakilan kita di luar negeri, terutama sejak putusnya hubungan Yogyakarta dengan perwakilan kita di luar negeri”.

“Pesawat yang satunya lagi dihadiahkan kepada pemerintah Birma, sebagai tanda terima kasih atas fasilitas yang diberikannya untuk perwakilan Garuda beroperasi di seluruh Birma (Myanmar),” tulis Tgk. A. K. Jakobi.

Tgk. A. K. Jakobi melanjutkan, pesawat “Seulawah RI-001” yang berhasil dengan missinya itu adalah cikal-bakal pesawat Garuda pertama yang dikomersilkan. Pesawat itu kembali dari Rangoon sekitar akhir Juli 1949 dan masih dioperasikan sampai setahun kemudian. “Kini ia tegak dengan anggunnya sebagai monumen “Seulawah RI-001” di Blang Padang yang menjadi kebanggaan dan bukti bakti rakyat Aceh terhadap RI”.

Menurut Tgk. A. K. Jakobi, pendanaan dan pembelian pesawat “Seulawah RI-001” untuk menerobos blokade udara Belanda merupakan kerangka keempat dari program yang dituangkan dalam “Bireuen Agreement”.

Berikut catatan pinggir Tgk. A. K. Jakobi tentang kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh pada 15-18 Juni 1948, dikutip dari bukunya, “Aceh Daerah Modal”:

15.06.1948 (15 Juni 1948):

Presiden Soekarno selama tiga hari berkunjung ke Tanah Rencong dalam situasi negeri antara “hidup dan mati” (to be or not to be), karena Rl telah dikepung oleh Belanda dengan pembentukan negara-negara “boneka” Belanda di seluruh wilayah RI.

Satu-satunya wilayah RI yang masih utuh dan berdaulat penuh adalah propinsi Aceh. Di sinilah lahir gelar yang diberikan Presiden Rl yang pertama itu: “Aceh Daerah Modal” untuk melanjutkan cita-cita perjuangan dan mengamankan atau mempertahankan isi proklamasi 17. 08. 1945.

16.06.1948:

Bung Karno adakan dialog “empat mata” pertama kalinya dengan Gubernur Militer Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh di Bireuen. Bung Karno berucap, Rl sudah dikepung Belanda, Acehlah satu-satunya alternatif untuk dijadikan modal mengusir penjajahan Belanda dari Bumi Indonesia guna menyelamatkan proklamasi 17 Agustus 1945. Nyalakan api perjuangan rakyat Aceh melawan musuh bebuyutan “Kaphe” Belanda.

17.06. 1948:

Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) M. Djoened Joesoef menyerahkan sumbangan uang rakyat Aceh untuk membeli dua pesawat terbang “Seulawah RI-001” dan “Seulawah RI-002”, sesuai imbauan Bung Karno untuk menerobos blokade Belanda di laut, darat dan udara sebagai bukti Republik masih survive.

18.06. 1948:

Dialog kedua Bung Karno – Ayah Bereueh di pendopo Gubernuran Kutaraja sebagai penegasan dan pemantapan dialog pertama di Bireuen.

***

Melansir Wikipedia.org, pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang diberi nama Seulawah, dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.

Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt dan Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Sejarah

KSAU Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma memprakarsai pembelian pesawat angkut. Biro Rencana dan Propaganda TNI –AU yang dipimpin OU II Wiweko Supono dan dibantu OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai pelaksana ide tersebut. Biro tersebut kemudian menyiapkan sekira 25 model pesawat Dakota. Kemudian, Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti Presiden Soekarno ke Sumatra dalam rangka mencari dana.

Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti “Gunung Emas”.

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Maguwo.

Pada awal Desember 1948, pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja dan tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry. Perjalanan ke Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar).

Monumen

Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan, beberapa jenis pesawat terbang generasi tua pun dinyatakan berakhir masa operasinya. Salah satunya adalah jenis Dakota. Namun, karena jasanya yang dinilai besar bagi cikal bakal berdirinya sebuah maskapai penerbangan komersial di Tanah Air, TNI AU memprakarsai berdirinya sebuah monumen perjuangan pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Banda Aceh.

Pada tanggal 30 Juli 1948, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun meresmikan monumen yang terletak di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Pesawat aslinya tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah.

Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Indonesia di awal berdirinya Republik ini.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s