SAAT RASULULLAH SAW MENGHADAPI AJALNYA

SAAT RASULULLAH SAW MENGHADAPI AJALNYA (1)
Selasa, 28 Syaaban 1436 / 16 Juni 2015

RASULULLAH SAW saat akan dicabut nyawa merasakan sakit yang luar biasa. Beliau yang sudah menjadi nabi dan kekasih Allah SWT saja merasakan sakit yang tidak dapat ditahan, bagaimana kita sebagai umatnya yang masih sangat jauh dari Allah SWT dan imannya masih naik turun? Agar lebih jelasnya, mari kita simak ketika Rasulullah dijemput oleh malaikat Izrail.

Berawal dari sakit yang dideritanya ketika beliau baru pulang menunaikan Haji wada. Penyakit ini yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Semakin hari penyakitnya semakin parah dan memburuk. Dilihat dari ucapan dan pandangannya, ia memberikan isyarat akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Ketika demamnya semakin parah, ia merasa akan segera kembali ke alam akhirat. Maka beliau menitipkan pesan untuk umatnya.

Beliau membalut kepalanya dan kemudian menyuruh Fadhl bin Abba RA untuk mengumpulkan manusia di masjid. Ketika orang-orang telah berkumpul, beliau dipapah oleh Fadhl naik ke mimbar. Setelah memuji Allah beliau bersabda,
“Amma ba’du. Masa pergantian itu telah dekat, dan kalian tidak akan melihatku kembali di tempat ini. Maka siapa saja yang aku telah menjilid punggungnya, inilah punggungku, hendaklah ia membalasnya. Barang siapa aku ambil hartanya, inilah hartaku dan ambillah. Barangsiapa aku cela kehormatannya, maka hendaklah ia membalasnya.
Jangan sampai salah seorang dari kalian khawatir aku akan dengki padanya. Kedengkian bukan sifat dan karakterku.

Yang paling aku sukai dari kalian adalah yang berani mengambil kembali haknya yang mungkin telah aku rampas, atau memaafkan aku. Sehingga kelak aku menghadap Allah dalam keadaan tidak mendhalimi seseorang pun.”
Lalu Rasulullah SAW pulang ke rumah. Demam beliau semakin parah. Dengan susah payah beliau berusaha keluar masjid untuk shalat bersama sahabatnya. Hingga waktu itu setelah selesai shalat maghrib bersama sahabatnya pada hari Jum’at dan kemudian ia masuk ke rumahnya. Demamnya semakin tinggi. Para sahabat menyediakan kasur sebagai tempat beliau berbaring.

Saat tiba waktu melaksanakan shalat isya’ dan orang-orang telah berkumpul menunggu Rasulullah SAW keluar dari rumahnya untuk mengimami mereka padahal penyakit Rasul semakin parah saja. Beliau berusaha bangkit, namun tidak mampu. Akhirnya dengan sangat pelan Rasulullah SAW berusaha untuk mencoba bangkit kembali. Sebagian orang berseru, “Shalat…shalat”.

Rasulullah SAW menatap orang-orang yang telah siap shalat di sebelahnya dan berkata, “Apakah orang-orang sudah shalat?” “Belum. Mereka menunggumu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Saat itu panas badan beliau membuatnya tidak mampu bangkit. Beliau berkata, “Tuangkan air dalam sebuah bejana.” Mereka pun memenuhi permintaan beliau dengan menuangkan air dingin dan menaruhnya dekat beliau untuk mengompres seluruh badannya. Akhirnya suhu badan beliau turun. Ketika beliau merasa sedikit agak segar, beliau meminta bejana tadi disingkirkan dari tubuhnya.

Ketika mencoba bangkit dengan kedua tangannya, beliau jatuh pingsan. Begitu siuman, pertama kali yang beliau tanyakan adalah, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Mereka menjawab, “Belum, wahai Rasulullah. Mereka menunggumu.” “Tuangkan air dalam bejana agar aku bisa membasuh,” pinta beliau. Mereka memenuhi permintaan Rasulullah SAW. []

Sumber: Misteri Malam Pertama di Alam Kubur/Jubair Tablig Syahid/Cable Book/Juni 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s