ALI HASJMY, SIE REUBOH, DAN MEUDAGANG

ALI HASJMY, SIE REUBOH, DAN MEUDAGANG
Minggu, 29 Maret 2015 20:35
Share Tweet Share

image

Prof. Ali Hasjmy (mantan Gubernur Aceh periode 1957-1964) 
SERAMBINEWS.COM – Resah saat memasuki wilayah perbatasan Aceh-Sumatera Utara, rupanya bukan kali ini saja dirasakan warga Aceh. Jauh sebelum kebiasaan razia polisi perbatasan yang cukup merepotkan pengendara mobil, kesan tidak bersahabatnya perbatasan bagi orang Aceh juga tertulis dalam catatan seorang Ali Hasjmy, tokoh Aceh yang menulis banyak buku.
Lain dulu lain sekarang, Ali Hasjmy dan mungkin orang sezamannya, berfikir, sulit mendapat makanan halal saat memasuki Sumatera Utara. Ali Hasjmy menulis sebagai sesuatu wilayah yang di luar Islam, akan sulit ditemukan makanan halal. “…sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam” demikian tulisnya.
Keresahan Ali Hasjmy ketika itu, tidak jauh berbeda resahnya para pengendara Aceh saat memasuki perbatasan Sumatera Utara.
Sebuah esai tentang ini dikemas ulang oleh Alkaf Muchtar Ali Piyeung dalam blognya http://www.bung-alkaf.com. Penulis produktif yang menukil ulang catatan-catatan Ali Hasjmy ini, cukup memberi informasi bagi generasi Aceh masa kini tentang semangat mencari ilmu dan bagaimana sesungguhnya merancang masa depan Aceh yang gemilang. Alkaf sendiri, bergiat pada Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH).
Berikut narasinya tentang bagaimana, generasi Aceh ketika itu menyiapkan diri membangun negerinya kelak;
Masih segar dalam ingatan saya, bahwa “bus carteran” yang membawa kami dilengkapi dengan periuk, belanga, panci, beras, keumamah (ikan kayu), sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam. Demikianlah sepanjang jalan pada waktu-waktu makan kami berhenti/istirahat untuk mendapur/memasak dan kemudian tentunya makan bersama. Suatu kenangan yang indah sekali. Oleh Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda! Kami tidak dimasukkan dalam satu madrasah/sekolah, tetapi ditebarkan ke berbagai madrasah/sekolah. Ada yang dimasukkan ke Perguruan Muslim Bukittinggi, MKI (Moderne Islamic Kweschool), Bukittinggi, Madrasah Thawalib Parabek (dekat Bukittinggi), Madrasah Thawalib Padang Panjang, I.N.S (Indonesche National School) Kayutanam (dekat Padang Panjang). (Ali Hasjmy, Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan Kemerdekaan, hal; 47-48).
SIE REBOH adalah makanan yang awet, dapat bertahan berbulan-bulan. Dan apabila dagingnya telah mengeras, maka makanan itu bisa dipanaskan kembali, dan dapat dimakan seperti baru saja selesai dimasak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s